Complicated Vs Complex

Sesuatu yang rumit dapat dibagi menjadi dua, kompleks dan complicated. Jika dianalogikan sesuatu yang kompleks bisa digambarkan dengan contoh

1. Bubur ngga diaduk – complex;
Bubur dengan condiment yang terpisah.

2. Bubur diaduk – complicated;
Sedangkan kondisi yang complicated bisa digambarkan dengan bubur diaduk, dimana segala sesuatunya sudah tercampur dan sulit menguraikannya kembali menjadi komponen-komponen dasarnya🥳

Menjadi kompleks itu baik, tidak ada yang salah. Apalagi di jaman digital ini dimana segala hal dapat terhubung segala sesuatu menjadi kompleks, termasuk permasalahannya. Dalam sesuatu yang kompleks, pendekatan penyelesaiannya bisa diurai.

Bubur yang tidak diaduk akan jauh lebih mudah dan cepat menguraikan bahan penyusunnya satu per satu. Namun, jika kita terburu-buru melakukan beragam hal dengan mencapur adukkan segala elemen-elemennya tanpa berpikir panjang, kemungkinan besar masalahnya menjadi complicated, akan menjadi sulit terurai, jikapun bisa akan memakan waktu yang sangat lama😫

Jangan terburu-buru melakukan proses pengambilan keputusan, pastikan unsur-unsur pendukungnya tetap menjadi hal yang kompleks, jangan juga dicampur adukkan hingga menjadi sesuatu yang complicated.

Memang kita sering merasa tak sabar menyelesaikan sebuah permasalahan, namun justru dengan ketergesaan, tidak bekesadaran (mindful) dalam proses mengurainya membuat segala sesuatu jadi tambah runyam, complicated😫

Sesuatu yang kompleks, akan sangat baik jika kita pandai mengelolanya, setidaknya kita belajar mengelolanya. Pengelolaan yang tepat akan menghadirkan sesuatu yang kompleks menjadi kemajuan yang eksponesial. Namun sebaliknya, ketergesaan dan mencampuradukkan beragam komponen dalam sesuatu yang kompleks akan berujung pada complicated, menjauh dari solusi 🤯

Apa yang kita lakukan jika sesuatu hal kadang beranjak jadi complecated? tarik garis waktu lebih panjang, urai satu persatu dengan telaten, selesaikan satu persatu dengan mindful, berkesadaran penuh hingga satu persatu menghasilkan wisdom yang membawa pada solusi yang utuh🚀🚀

Fail Forward

Pernah denger ngga istilah “Fail Forward” Istilah ini lekat dengan pendekatan dalam membangun kultur inovasi. Istilah ini sering ditemukan dalam dunia bisnis artinya, ngga semua harus nunggu sempurna, coba aja dulu! Fail fast biasanya diikut dengan “Fail Often”, namanya juga eksplorasi, pasti akan menemukan banyak kegagalan yang berbeda.

Kondisi ini akan banyak mendatangkan keuntungan karena jadi matang, banyak belajar & melompatkan prosesnya dalam proses akselerasi. Jangan ragu mengulang proses eksperimennya berulang dan berulang lagi.

Istilah ini merujuk pada kegagalan & penyesuaian. Fail Forward berarti dengan sengaja dan sengaja menggunakan kegagalan untuk menemukan kesuksesan. Ini adalah proses yang dibangun secara sadar dimana hal pertama-tama yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita bisa melepas rasa obsesif kita untuk selalu menjadi menjadi sempurna.

-When we try to be perfect, we limit our ability to grow, because we stay in our comfort zone and avoid even healthy risks. When we seek perfection, we limit the power of the divine- James Baraz.

Ini bukan berarti bahwa kita ngga boleh melakukan proses persiapan ya, atau mengantisipasi tantangan, atau menilai risiko. Sebaliknya – dasar dari “Fail Forward” adalah bagaimanan menjadi lebih baik dalam memitigasi risiko dan pada saat yang sama kita juga tidak menahan diri. Coba aja dulu kemudian lihat apa yang terjadi.

If we never try🎶🎶
🎶🎶How will we know
Baby, how far this thing could go?🎶
-Stacye Ryan–

Gimana memulai cara memberanikan “Fail Forward?”
1. Coba dulu dari hal kecil
2. Belajar mengubah perspektif jadi penting. Kita punya 100% kendali atas pikiran & perasaan. Jangan tersandera keraguan/ ketakutan. Kendalikan pikiran & fokus pada kebaikan yang akan datang.
3. Hadapi Setiap Ketakutan.Hadapi ketakutan, segera ambil kendali & bergerak maju dengan damai.

Pada kenyataanya, kegagalan akan selalu jadi bagian dari kehidupan. Jika tak gagal, kita tak banyak belajar. Redefinisikan ulang kegagalan, gunakanlah untuk menekuni Fail Forward.

Failing Forward is the art of failing forward that will ultimately drive sustainability, and teach collaboration, empowerment and resilience.- Stephen Childs-

Slow Thinking ; Mengurai Bingung

“Boleh ngga kata-kata “Bingung” 😩diganti dengan “Bagaimana caranya?” 🧐 Satu jawaban dalam sesi diskusi kemarin. Membuka peluang dengan mengutarakan kalimat “Bagaimana caranya” ketimbang “Saya Bingung” atau “Tapi” adalah salah satu cara membuka peluang, terbuka akan postensi solusi.

Iseng-iseng pagi ini membuat “Kompas Bingung” menggambarkan bagaimana caranya kita agar bisa fokus pada solusi dari pada fokus pada permasalahan. Kompas ini adalah tools dimana kita bisa meluangkan waktu untuk mempelajari masalah dengan lebih kontekstual, menghindari kebingungan apalagi kebuntuan🥳

Sebelum bingung, buka dulu 6 pintu tiga dimensi ini agar kita bisa lebih paham dalams sebuah proses penyelesaian masalah.

Sumbu X
1.Tarik Garis Ke Masa Depan
Tarik garis kedepan, panjangkan cakrawala waktunya ke masa depan. Agar kita bisa membagi waktu dan sumberdaya, tidak semua harus terselesaikan sekarang. Tapi konsisten menumbuhkannya hingga satu titik waktu dimasa datang.

2.Lihat Sejarah di Masa Lalu
Lihat masa lalu, bagaimana sejarahnya. Lihat lagi “Big Why”, filosofi ketika sesuatu bermula, bagaimana pembelajaran dimasa lalu. Apa yang bisa dipetik pembelajarannya. Apa yang baik yang bisa dilanjutkan, serta apa yang perlu diperbaiki.

Sumbu Y
3.Perspetktif yang Lebih Tinggi
Tinggikan cakrawala ke atas, lihat dari perspektif yang lebih luas. “Helicopter View” , perspektif sistem, hingg kita paham apa yang terjadi secara menyeluruh.

4.Perdalam Wisdom
Tinggikan cakrawala ke atas, lihat dari perspektif yang lebih luas. “Helicopter View” , perspektif sistem, hingg kita paham apa yang terjadi secara menyeluruh

Sumbu Z
5.Perluas Pengetahuan
Melihat beragam referensi pengetahuan sebagai asupan sumberdaya dalam menghasilkan solusi baru

6.Perkaya Sumberdaya
Mengembangkan kolaborasi, memahami pentingnya berbagi peran, menyamakan tujuan dan bersinergi dalam mencapainya

Memperluas cakrawala dari tiga sumbu ini memang perlu waktu, tak bisa tergesa-gesa dalam prosesnya. Setiap kita tarik sumbu ke X, Y dan Z akan sangat memungkinkan menemukan beragam insight baru. Menggiring kita untuk memiliki “Creative Confidence” yang lebih kuat dan melompat membawa perubahan.

Selamat berproses!🚀🚀

Solution Focused

Fokus pada solusi yaaa! Mengapa fokus ini sulit sekali dilakukan? Sering kita menghabiskan energi justru pada masalah, karena masalah itu nyata terlihat di depan mata, terasa langsung dan berdampak seketika Ia mengalaminya.

Menggeser perhatian kita dari masalah ke solusi memang sering lebih sulit dilakukan karena solusi sifatnya masih imajiner, berupa gambaran yang belum nyata serta perlu proses yang ditekuni untuk mewujudkannya.

Jadi, mengapa kita penting untuk kita bergeser dari Problem Focused (Problem-oriented Thinking) ke Solution Focused (Solution-oriented Thinking)? Jika fokus pada masalah, energi akan terfokus pada “mengapa” & “apa” yang sebenarnya terjadi. Dari proses berpikir kritis ini biasanya akan menghasilkan “Formulasi Masalah”

Sedangkan Solution Oriented memiliki fokus pada bagaimana membangun strategi kreatif dengan kata kunci yang ditekankan berupa “Bagaimana caranya?” Dari sini biasnya berupa hasil berupa “Solusi Bagi Masalahnya.

Keduanya penting, namun yang menarik adalah bagaimana energi keduanya ini bisa mencuat sangat berbeda. Perilaku untuk fokus pada solusi mendorong setiap individu dalam tim untuk menguatkan keterampilan kepemimpinannya yang lebih natural, punya keyakinan, tau apa yang ingin dilakukan, ekspresif, passionate, punya rasa ingin tau, prospektif, punya preferensi yang kuat.

Lebih lanjut mengapa Solution Focused punya energi positf karena dalam prosesnya lebih energik, antusias dan banyak mengundang spontanitas kreatif yang mencuat. Solution Focused merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada outcomes yang diinginkan dari pada perhatian pada masalahnya.

Dengan berorientasi pada outcomes, sebuah tim akan lebih baik diposisikan agar Ia menghasilkan solusi yang kreatif, inovatif & efektif innovative.Pendekatan yang solutions-oriented memberikan ruang kerja yang lebih fleksibiltas, mengarah pada visi masa depan. Biasanya proses justru akan menimbulkan banyak rasa keingintahuan & hal positif.

“Solution-focused practice concentrates on helping people move towards the future that they want & to learn what can be done differently by using their existing skills, strategies & ideas – rather than focusing on the problem”

Era digital dan Perubahan Proses Bisnis

“Bagaimana jika kita buat aplikasi saja pak!” Ucapan ini sering kali kita dengar diera digital ini, semua solusi berujung pada aplikasi, maklum era digital katanya. Ada satu tanda yang sering ekosistem kita rasakan ketika menggunakan perangkat digital adalah jauh harapan, mengapa beragam aplikasi ini justru membuat penghuni ekosistem jadi jenuh, kelelahan dan chaos.

Perubahan utama dari era digital yang perlu dipahami adalah proses bisnisnya, era VUCA (Volatile, Uncertainty, Complexity dan Ambigu) yang semakin BANI Brittle alias mudah pecah, Anxiety adalah keadaan yang mengkhawatirkan, N adalah Non-linear atau tidak lurus, dan I adalah Incomprehensible atau sulit dipahami.

Era dengan berbagai keterhubungannya ini mengakibatkan proses bisnisnya jauh berbeda. Disinilah setiap individu yang hidup dijaman ini perlu mendapatkan pemahaman untuk secara perlahan memahami proses bisnis barunya (transformasi). Digital jelas merubah berbagai pola kehidupan. Dunia bisnis banyak yang roboh akibat kesulitan memahami kondisi baru ini.

Kemudian, mengapa aplikasi tidak tepat dikatakan sebagai solusi? Solusi baru sejatinya adalah proses bisnis baru yang ditemukan, melibatkan keterlibatan pelaku sistem dan pelakunya untuk melakukan jalur dan cara-cara baru berinteraksi. Proses bisnis ini dibangun, dibangun dengan pertimbangan yang User Centric, berbasis kebahagiaan masing-masing pelaku dengan keunggulan dan perbedaaanya. Proses bisnis baru ini kemudian didigitalisasi salah satunya dengan perangkat bernama aplikasi.

Beragam hal menjadi chaos dan melelahkan karena di era digital ini sering kali kita merasa paling inovatif, lupa berempati ada pelaku ekosistem dan bagaimana mereka berinteraksi. Perilaku jump in to solution jadi pemandangan umum hingga niatan membangun solusi berujung chaos membuat stress pelakunya karena solusi justru dibuat nir-empathy.

Era digital dan perubahan proses bisnisnya, sesungguhnya bukan dimaknai tentang perangkat, tapi ini adalah bagaimana memanusiakan di era digital, membantu proses transfromasi di masyarakat untuk sukses diera digital dengan cara-cara yang arif, kolaboratif dan kreatif karena paham proses bisnis barunya.

Saatnya tarik garis waktunya kedepan & tantangan itu nyata!

Sehelai kertas buram saya corat-coret pagi tadi, bersama kawan-kawan belajar terkait zona nyaman & aman. Titik dimana sering kali kita merasa tanpa masalah, tantangan & merasa baik-baik saja. Apalagi jika kita berada pada sebuah titik dimana baru saja menerima rekognisi pencapaian tertentu yang kemudian membuat kita terjebak dengan keadaan yang tak memiliki urgensi masalah & tak ada yang perlu dilakukan. Tampaknya kita baik-baik saja.

Tantangan utama dalam menantang diri sendiri atau organisasi adalah mengamini kita punya masalah (baca; tantangan) karena sering kali memang kita kesulitan mendefinisikan apa masalah kita, apalagi jika berkaca bahwa organisasi kita selama ini baik-baik saja, aman-aman saja apalagi jika punya nama besar.

Mampu merumuskan Problem Statement kemudian memvalidasinya sesungguhnya adalah pintu masuk inovasi. Namun, bagaimana mungkin kita bisa melahirkan inovasi jika kita tak bisa mengenali tantangan, menganggap baik-baik saja tak bisa baca peluang?

Ada satu tips yang sering kali kami bahas, terkait bagaimana caranya kita tau tau bahwa ada tantangan dalam organisasi kita.
1. Buat titik yang menandakan keberadaan kita saat ini dan segala pencapaiannya. Anggap saja ini zona nyaman yang sering membuat kita bahagia.
2. Tarik garis lurus ke kanan, sepanjang waktu di masa depan. Misalkan 5 atau 10 tahun ke depan.
3. Imajinasikan, apa yang akan terjadi dimasa depan jika kita melakukan hal yang sama dari waktu ke waktu. Apakah kita akan pada kondisi yang sama. Ada di titik mana kita nanti, akankah garis ini tetap lurus, menurun atau melesat?

Menarik garis waktu ke masa depan dengan cara-cara yang kita lakukan saat ini akan membawa pada pemikiran “apakah cara ini akan relevan di masa datang & mendatangkan kemajuan?” Kondisi saat ini & menyandingkannya dengan waktu di masa datang akan menggambarkan kesenjangan sebagai “Problem Statement” yang kuat,

Kerap kali kita lupa menarik garis waktu, hingga lupa ada urgensi untuk melakukan intervensi agar bisa tetap relevan, membuat lompatan-lompatan baru & membawa dinamikanya tetap menjadi bagian eksplorasi yang membawa kebahagiaan.

Saatnya tarik garis waktunya kedepan & tantangan itu nyata!

Pemimpin dan Imajinasi

Bahan bakar seorang pemimpin sering kali diidentikkan dengan beragam kemampuannya atau bahkan dengan kekuatan sumberdayanya. Namun sesungguhnya bahan bakar utama pemimpin yang mengerakkannya pada kemajuan adalah kekuatan imajinasinya.

Berkaca dari pengalaman di negeri ini, disaat semakin dominannya pemimpin-pemimpin tanpa imajinasi, tak paham arah dan tujuan. Apalagi jika ditanya apakah mereka memahami bagaimana dan untuk apa sesungguhnya cita-cita pergerakannya dilakukan malah dijawab dengan menutup ruang dialog. Maka sesungguhnya kehadiran pemimpin-pemimpin muda menjadi harapan baru, tantantangannya adalah bagaimana merawatnya tak kemudian di satu titik mereka berbelok karena kepentingan, lupa cita-cita.

Pemimpin dengan imajinasi akan menujukan visinya pada sebuah kemajuan yang Ia kalibrasi cara mencapainya pada setiap waktunya. Proses ini akan membawanya pada kematangan penguasaan cara-cara inovatif yang Ia bisa ditempuhnya.

Menuangkan mimpi adalah tantangan berikutnya, karena Ia perlu terampil menyajikannya dalam rencana & aksi pergerakannya. Ia juga perlu belajar bagaimana merancang dan mengeksekusi tahapan-tahapan yang terukur. Dilanjutkan dengan mempersenjatainya dengan cara-cara lateral, menumbuhkan kesabaran membangun timnya dengan asupan-asupan gizi organisasi yang sehat dan mejadi sponsor bagi setiap perubahan yang punya value kuat.

Imajinasi seorang pemimpin tumbuh bukan karena given atau turunan keluarganya, namun dalam kesehariannya Ia berkesadaran penuh untuk belajar menumbuhkan kekuatannya dengan 1) mendekatkannya pada beragam literasi yang Ia baca, 2) terhubung dengan beragam panutan yang Ia contoh & menginspirasinya, 3) menguatkan nilai-nilai luhur yang Ia yakini, 4) melatih keterampilan professionalnya, 5) mematangkan kerendahan hatinya serta, 6) ekosistem yang tepat yang Ia pilih dalam proses akselerasinya.

Dikelilingi anak muda yang punya imajinasi kuat saat ini adalah sebuah kebahagiaan, walau diluar sana masih menantang bagaimana menebar imajinasi kemajuan ini tersebar secara luas. Memimpikan masa depan kita akan banyak ditumbuhi contoh-contoh pemimpin yang energinya terpancar kuat karena mimpi besarnya.

Ada lima tipe seru menurut Cheryl Strauss Einhorn. founder & CEO of Decisive

Setiap orang punya karakter dalam pengambilan keputusan, berdasarkan kemampuan, pengalaman serta kapabilitasnya. Jika kita pernah bahas tentang enam topi berpikir, sekarang ada 5 persona pengambil keputusan coba, kira-kira kamu yang mana? Ada lima tipe seru menurut Cheryl Strauss Einhorn. founder & CEO of Decisive;

1. Petualang. si paling cepat & percaya atas keberaniannya. Jika dihadapkan pada tantangan besar atau kecil maka Ia akan memutuskan yang dirasakan benar daripada menghabiskan banyak waktu memikirkan banyak pilihan. Tipe ini juga dibilang sebagai si pantang takut! Cuma ada hal yang bias dengan tipe ini, sering kali Ia punya Optimism Bias & jika keterusan bisa membuatnya berbahaya!

2. Detektif. Kamu adalah tipe yang menghargai informasi, selalu meminta data & fakta, tak memutuskan basis perasaan. selalu merujuk pada kenyataan. Pecaya bahwa semakin Ia belajar makin semakin baiklah dia. Kurangnya tipe ini adalah Frame Blindness, yakni kurang punya pemahaman Big Picture, atau bahkan berlebih informasi. Kurangnya tipe ini adalah authority bias, suka bertentangan dengan inner voice dirinya.

3. Pendengar. Tipe ini paling dicintai penduduk bumi 🙂 Kala dihadapkan pada situasi kompleks, kita akan menyandarkan diri pada orang tipe ini & meminta pendapat & opini. Akan merasa nyaman bahwa kita tak perlu memutuskannya sendirian. Tapi tipe ini biasanya loss aversion, memilih jalan aman!

4. Pemikir. Banyak pertimbangan, menolak memutuskan cepat. Menimbang opsi, mempertimbangkan positif & negatifnya. Tak perlu banyak data, tapi perlu waktu &ruang berpikir & rasionalisasi mengapa ini perlu dilakukan. Cepat bukanlah tujuannya, tapi proseslah yang utama.

5. Visioner; Ia tak ingin yang biasa-biasa, lebih suka dengan caranya sendiri. Jika dihadapkan pada opsi yang jelas, Ia lebih suka memilih yang beda, yang belum pernah terjadi. Going Extra Miles! sering mengagetkan sekeliling dengan keputusannya! Tipe ini kekurangannya saliency bias, tendensi untuk fokus pada faktor paling mudah dikenalinya.

Ngga ada yang “sempurna” sih, tapi perlu keterampilan untuk menggabung-gabungkannya & membawa pada pemahaman yang lebih holistik & meramu kelima karakter diatas.

Kemampuan Critical Thinking

Terburu-buru menilai, memutuskan & menyimpulkan. Proses ini biasanya disebut sebagai fast thinking, menyebabkan seseorang kehilangan objektifitasnya & kemampuan berpikir kritisnya seketika jadi lenyap. Hal ini juga terjadi ketika ternyata mayoritas berkata sama hingga jadi ukuran kebenaran. Apalagi orang-orang ternama juga yang juga tergesa menyimpulkan menjadi rujukan pembenaran.

Kasus Baim mendaftarkan Haki Citayam Fasion Week menjadi menarik dari kacamata critical thinking apalagi dari kacamata proses bisnis, ketika sebagian besar tokoh justru terburu-buru menghakimi seperti “Created by the poor, stolen by the rich”, “serakah!” dan atau “tak beretika”. Komen-komen ini memenuhi jagad dunia maya ketika sebuah media membawa berita berita dengan judul “ Perusahaan Baim-Paula mendaftarkan Brand Citayam Fashion Week” .

Kemampuan critical thinking kita memang diuji, ketika media-media kita sering memberitakan hal-hal yang konteksnya hilang dari judul. Menghilangkan konteks dari judul tentunya akan membawa polemik besar karena memancing keributan karena menuai perdebatan, ya mereka berhasil sih karena tujuan media tsb ya itu. Dibaca banyak orang!

Sebagai pegiat kreatif tentunya kemampuan kita membaca konteks menjadi krusial. Apalagi manganalisis kejadian, keterhubungan simpul-simpul pelaku, meninggikan cakrawala jadi penting dalam menarik kesimpulan. Sesungguhnya trending topic Baim & CFW ini menarik dibahas dari sisi kolaborasinya, terlepas dari etika ya krn CFW sudah jadi milik umum.

Baim X Bonge adalah kasus menarik, kolaborasi jika boleh dibilang, bagaimana Baim berkomunikasi dengan Bonge CS, bagaimana Baim memvaluasinya dengan membayar 500juta pada inisiatornya, bagaimana mereka menangkap momentum dan bagaimana menjadikan Hak Kekayaan Intelektual menjadi nilai ekonomi serta mendistribusikan keuntungannya secara adil dalam model bisnisnya adalah tema menarik ketimbang tergesa menyimpulkan.

Bentuk-bentuk kolaborasi yang makin gila ini tentu makin banyak orang tak paham. Selalu ada 6 topi berpikir jika menurut Edward de Bono, jangan menyimpulkan dari sisi topi hitam, karena ada 5 topi lain untuk menyimpulkan lebih luas. Kapan nih kita bahas?

Pengambilan Keputusan

Satu hal yang kerap dilupakan dari target yang sekedar “gagal” & “berhasil”, ada satu kata yang sering kali dilupakan bahwa sebuah keputusan juga bisa menghasilkan hal-hal yang “beyond”!🤩

Melahirkan hal-hal “beyond” seusai keputusan ini jarang terjadi pada organisasi yang senang mematok definisi suksesnya hanya pada sekedar “berhasil, titik!” Padahal tak apa-apa juga kita menaburinya mimpi optimis. Cuma sering kali bermimpi saja kita takut🙇

Beberapa pengalaman terkait keputusan, anggota organisasi kerap kali menumpahkan pada satu variabel jika kemudian gagal, pada umumnya menunjuk leader-nya, tentu ini tak tepat. Karena ada beberapa insights agar keputusan bermuara pada hal-hal yang beyond.

Setidaknya ada 3 faktor yakni Individual, sosial & kontekstual.

📌 Individu
Pengambilan keputusan bergantung pada kapasitas kognitif individu-individunya, apakah mereka termasuk slow atau fast thinkers? apakah teridentifikasi bias kognitif diantaranya? apakah konsisten?
🎯Untuk ink, pastikan anggota organisasi kita punya akses untuk upgrade kapasitas kognitifnya.

📌 Sosial
Hal ini bergantung pada norma yang berlaku, pada bukti nyata, resiprositas, otoritas, kepercayaan dan rada suam dan tak suka.
🎯Untuk ini, pastika organisasi belajar membiasakan keterusterangan dan menghadirkan tantangan yang positif.

📌 Kontekstual.
Membahas masalah, penting untuk tetap memasangkan konteksnya pada tiap masalahnya, jangan dilepskan! Faktor ini juga mengenai arsitektur pilihan, bias, umpan balik, pengingat, framing dan ketepatan waktu.
🎯Untuk ini pastikan setiap individu belajar bagaimana cara berpikir kontekstual, agar tetap relevan dan produktif.

Semakin baik menyeimbangkan ketiga faktor tersebut, semakin baik juga organisasi kita menggagas dan mengambil keputusan dan memilih hasil yang beyond dari pada sekedar berhasil🎉

Belajar lagi🚀