Theory of Change

Memastikan kebermanfaatan. Pastikan sebuah tujuan yang dicanangkan berupa kalimat yang menunjukkan sebuah kebermanfaatan🤩

Dalam teori perubahan, tahapannya terdiri dari 1) Perumusan Masalah, 2) Input, 3) Kegiatan, 4) Output, 5) Outcomes & 6) Impact. Pastikan setiap kegiatan yang dilakukan mengarah pada Outcomes, bahasa lainnya adalah kebermanfaatan. Sesuatu yang bermanfaat akan mendatangkan dampak, dampak yang dihasilkan dari proses yang baik akan medatangkan keberlanjutan dikemudian hari🥁🥁

Kami sering menyebut outcomes sebagai tujuan yang perlu dicapai, kaya lainnya adalah manfaat (agar berkah)Jika sesuatu hal yang dilakukan bermanfaat, sudah dipastikan peluang keberkahananya jadi besar. Tapi mengapa masih berupa peluang? bukannya jika bermanfaat sudah pasti berkah?🤨

Dalam sebuah proses, memastikan tiap langkah proses dilakukan dengan baik sesuai dengan nilai-nilai integritas, menelusurinya dengan proses yang mindful, mengeksplorasinya dengan kesungguhan. Setiap prosesnya dipastikan baik, hingga probabilitas mencapai tujuan (keberkahan) meningkat😇

1. Jadikan outcomes sebagai tujuan, indikatornya menghasilkan kebermanfaatan. Jangan berhenti di output, karena indikator ini bisa mengelabui dengan angka-angka yang bias✔️
2. Menilai kinerja dengan ouput adalah sesuatu yang lazim, tapi memastikan mencapai outcomes adalah sesuatu yang beyond KPI. Sebuah perubahan perlu semangat beyond KPI✔️
3. Bisa saja kita mencapai output, namun tak mencapai kebermanfaatannya. Jika ini terjadi maka peluang terjadi kesia-siaan sangatlah besar, maka ini menimbulkan banyak ke-mubadziran✔️
5. Bisa juga kita mencapai output, tak peduli dengan prosesnya, maka ini akan menghasilkan keberuntungan (jika berhasil), percobaan selanjutnya belum tentu jadi lebih baik✔️
6. Sekedar mencapai output, tak menekuni proses maka rentan terjebak jalan pintas, yang dibutuhkan adalah akselerasi, bukan jalan pintas✔️
7. Keberkahan hadir karena sebuah inisiatif melahirkan kebermanfaatan, Ia juga hadir karena prosesnya dibangun baik, dilakukan dengan cara-cara yang etis & melakukan proses eksplorasi dengan niat yang tulus & keterbukaan✔️

Pastikan setiap hasil bermanfaat, yang lainnya mengikutinya🥳

Top 3 Barriers to Innovation in Higher Education

Dua hari bersama kawan-kawan Unsoed merancang kurilukum agar dapat menjadi wadah pembelajaran transformatif. Sesi-sesi ini selalu menjadi bahan retrospektif yang baik untuk menghasilkan beragam cara baru menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan jamannya.

Menyitir sebuah tulisan di Forbes, 2018 “Mengapa dibanyak institusi pendidikan dimana banyak diisi oleh para individu brilian yang bermotivasi tinggi dalam mengelola pendidikan tinggi justru menghambat inovasi yang semestinya tumbuh subur di institusi ini?”

Pada sebuah riset, ternyata jika institusi pendidikan mengalami kesulitan menggelorakan inovasi dilingkungannya disebabkan karena 1) sistem internal, struktur proses pengambilan keputusan, 2) organisasi silo, 3) budaya & startegi. Hasil ini menggambarkan situasi mengapa institusi pendidikan justru kerap kali menghambat proses inovasi?

Jika dipikirkan memang beberapa tipe universitas justru kerap bangga dengan aturan, persyaratan, politik & tradisinya sendiri ketimbang apakah institusinya melahirkan inovasi yang by-design.

Banyak juga perguruan tersesat dimana pendidikannya tak berpusat pada pembelajar, karena lebih menghargai penelitian daripada proses pembelajaran. Tantangan ini banyak memicu kegelisahan. Kala dunia industri ingin menjadi lebih inovatif & responsif, tapi kebanyakan universitas justru tak mengajarkan cara ini, atau menumbuhkan kualitas seperti ini pada siswanya.

Mengajarkan cara berinovasi kebanyakan tak mendapat tempat dalam kurikulum formal, kondisi ini memaksa mahasiswa harus mencari suatu tempat antara kuliah & aktualisasi diluar kuliah untuk mengembangkan kemampuannya berinovasinya secara “ajaib”. Pendidikan yang berpusat pada pembelajar perlu jadi prioritas, ini akan mengarahkan proses pada prevalensi yang lebih tinggi pada hadirnya inovasi dari praktek-praktek pembelajaran yang user-centric, membuat pembelajaran yang menyenangkan, menantang & memberi ruang eksplorasi yang membuahkan inovasi.

Sebuah kerinduan melihat lebih banyak contoh pemikiran inovatif di kampus-kampus, memberi siswa lebih banyak ruang mengembangkan kemampuan bawaannya, lebih banyak fleksibilitas untuk siap menghadapi dunia yang menanti mereka dimasa depan.

Sistem pendidikan yang menjamin proses pendidikan yang baik, tentunya akan melahirkan masyarakat dengan karakter & kualitas berpikir baik

Berbincang dengan sesama kolega tentang pendidikan kita mau dibawa kemana. Mengapa kerap kali kita terjerumus menjalankan proses pendidikan yang bermuara pada output-output pengukuran yang justru variable ukurannya terlepas dari individunya. Lupa bahwa objek utamanya adalah manusianya, bukan produknya. 

Produk adalah hasil dari manusianya, hasil kemampuan mengorganisirnya hingga lahirlah produk-produk yang hasilnya baik. Hanya saja, kita sering lupa, & lompat logika, bahwa hasil yang baik berasal dari proses yang baik. Proses yang perlu waktu, perlu ekosistem yang mendukung & mengakselerasinya, hingga menghasilkan produk yang justru akan berdampak pada kemampuan memberikan dampak baik lainnya. Sustainability.

Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia setelah Cina & Hongkong. Finlandia tidak menempati posisi pertama dalam indeks PISA, tetapi jadi satu-satunya negara di mana siswa punya kemampuan membaca yang tinggi serta kepuasan hidup. 

Bukan cuma punya kehidupan sekolah & waktu luang yang seimbang, tapi pendidikannya memberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan gratis, inklusif & komprehensif. Model-model pembelajarannya adalah surga! wadah dimana tiap pembelajar bisa mengeksplorasi kreativitasnya. Pembelajaran dipersonalisasi & memberdayakan kemampuan tiap siswa, memantiknya berperan aktif dalam apa & bagaimana mereka belajar membuka potensi dirinya & diberikan kesempatan melakukan kontekstual diluar kelas.

Ketika kita heboh dengan standarisasi, disana tak ada ujian standarisasi. Pembelajaran banyak dinilai dengan berbagai metode kualitatif, fokus pada pengembangan & pembelajaran soft skill, fokus pada karakter berkualitas, Didukung pula teknologi, melengkapi pembelajarannya yang mengutamakan pengalaman belajar yang unik melalui pengajaran hingga melahirkan lifelong learners.

Sistem pendidikan yang menjamin proses pendidikan yang baik, tentunya akan melahirkan masyarakat dengan karakter & kualitas berpikir baik, dampaknya pada kualitas hidup, tercermin juga hasilnya sebagai negara paling bahagia versi World Happiness Report. 


Ada proses yang serius, dikawal dalam mensejahterakan rakyatnya. Pendidikan berkualitas.

Merancang Pembelajaran Berkualitas

Mengutip sebuah catatan seorang tokoh, “Dibutuhkan orang yang berbeda untuk memahami ilmu (sains, science), teknologi (engineering) dan bisnis. Sayangnya jarang mendapatkan orang yang memahami cara pandang dari ketiganya. Kebanyakan hanya salah satu sudut pandang saja dan kemudian merasakan paling benar. Sepi dan sukar mendapatkan lawan bicara yang paham maksud saya, – Budi Rahardjo, 2021

Merancang kurikulum yang relevan, membuahkan learning journey yang menantang & menarik selalu menjadi passion terdalam. Dalam merancangnya, perlu dipastikan relevansinya dengam kebutuhan jaman & masa depan. Dinamikanya juga bukan hal mudah, banyak barier tebal berlapis dari mulai birokrasi, aturan, standar, cara pandang yang berbeda, hingga bagaimana menuangkannya agar benar-benar menjamin para pembelajar lulus bukan dengan sekedar bergelar, tapi justru fundamental utama karakter yang kuat cendekia handal.

Tantangan masa depan penting dijawab dengan pola & sistem pendidikan yang relevan. Penerapannya kerap kali menjadi pelik dalam karena tantangannya adalah bagaimana melahirkan lulusan-lulusan yang mampu berperan, hingga kebutuhan masa depan penguasaan keilmuan menjadi menyangkut multi aspek, baik itu teknologi, ekonomi, industri, sosial bahkan business-sense-nya.

Apalagi, era digital, membawa jaman & komunitasnya punya wahana multilayers yang saling berkaitan.
Merancang proses pendidikan yang memastikan para pembelajarnya ;

1. Mendapatkan cara baru dalam memperoleh keahlian dalam keilmuannya,
2. Mendapatkan kontekstualisasi dalam penerapan risetnya,
3. Memastikan pencapaian penguasaan teknologi dengan kemampuan busines—sesnse yang relevan.
4. Memastikan pembelajar terhubung dengan ekosistem inovatif, terhubung dengan teknologi, industri dan bisnis kreatif yang akan menjadi pilar penting keberlanjutan ilmu yang diperolehnya

Merancang pembelajaran berkualitas agar pembelajarnya bukan hanya kompeten tapi paham teknologi, punya orientasi user & business outcomes, paham model bisnis & eskosistemnya & lulus dengan energi & pemahamannya agar punya kapabilitas untuk berdampak dampak bagi masyarakat . Tetap melangkah untuk kemajuan Pendidikan di Bumi Pertiwi.

Metafora Pensil by Lindy McKeown

Berkumpul dengan para pengusung perubahan di dunia pendidikan, Membahagiakan mendapatkan kesempatan ekosistem pembaharu & berkesempatan mengenalkan proses transfromasi pendidikan memang menjadi tantangan yang nyata, kala keinginan memberikan proses pendidikan berkualitas menjadi penjalanan panjang.

Pada kenyataannya, mendiseminasikan kebaruan memang pada kenyaatannya sang inisiator menjadi terkendala pada bagaimana mendiseminasikan kebaruannya pada keseluruhan populasi organisasinya.

Dalam sebuah tulisan Lindy McKeown “The Pencil Metaphor: 6 Ways Teachers Respond To Education Technology” metaphora yang cukup mewakili perasaan dan fakta yang terjadi dalam upaya menebarluaskan kebaruan dan inovasi yang diharapkan menghadirkan katalis untuk mewujudkan proses pendidikan yang lebih baik.

Metafora ini menampilkan pensil yang mewakili kondisi sesungguhnya bagaimana sebuah inovasi terimplementasikan.

The Leaders
Menjadi yang pertama mengadopsi teknologi baru, dokumen dan praktek-praktek baik yang baru

The Sharp One
Mereka memperhatikan para inisiator, mengambil & mencontoh, belajar dari kesalahannya dan melakukan hal dengan sebaik-baiknya

The Hanger On
Tahu akan perkembangan, menghadiri beragam seminar tapi tak melakukan apapun

The Wood
Mereka akan menggunakan teknologi jika orang lain melayanani & menunjukkan bagaimana menggunakan dan memanfaatkannya

The Ferrules
Mereka mempertahankan apa yang diketahuinya dengan ketat. Teknologi tak mendapatkan tempat dikelasnya

The Eraser
Berupaya melakukan usaha untuk menghapuskan inisiatif yang dilakukan para Inisiator

Mirip dengan konsep Difusi Inovasi, para penggagas memang selalu berjumlah sedikit, diikuti oleh para early adopters. Perjalanan menantang mewujudkan portofolio keberhasilan hingga golongan mayoritas mulai melirik & mengaplikasikannya.

Untuk itu bekal pengetahuan mendiseminasikan inovasi jadi perangkat penting bagi para inisiator agar tak kehilangan energinya karena perjalanannya terlalu dinamis dan tak terukur.

Mengelola perubahan juga adalah keterampilan penting agent of change, karena dalam perjalanannya perlu terampil membagi sumber daya, memilih simpul dan memastika inisiasinya berlanjut.

Creative Leaders

Kerja keras dan lebih keras dimasa sulit sudah pasti, apalagi jika kerja yang lebih keras ini belum tentu juga mendatangkan aliran pendapatan sesuai harapan. Memiliki tim yang mengerti, ber‑value sama dan satu frekuensi memang sebuah kemewahan. Proses panjang berlatih melekatkan leadership ditiap individunya jadi tantangan tersendiri.
⁣⁣
Leadership yang melekat pada tiap individu memang perlu dibangun, ini menjadi bermasalah ketika dunia pendidikan sejak awal tak serius melekatkan ini dalam prosesnya. ⁣⁣
⁣⁣
Merujuk pada Model Pengembangan Kepemimpinan, ada 4 kuadran menarik! ⁣⁣

Kuadran I. ⁣⁣
Fokus Eksternal & Hasil Usaha⁣⁣
Dalam kuadran ini setiap individu diberikan kesempatan mengembangkan kemampuan Menciptakan Purposenya. Beberapa hal yang dapat diajarkan untuk mengembangkan kemampuan Purposing seperti, berlatih berfokus pada customer, komunikasi efektif, presentasi & kemapuan berpikir strategis.⁣⁣
⁣⁣
Kuadran II⁣⁣
Fokus Usaha & Internal. Kuadran ini penting untuk menghasilkan kemampuan menyampaikan sesuatu dengan baik & tuntas tas tas! Kemampuan ini penting banget & memang sering kali jadi kelemahan individu‑individu tim kita, seperti mengambil keputusan, delegasi, ketergantungan, fokus pada hasil (aaah ini bangeet!), integritas & kemampuan penyelesaian masalah. Duh kuadran II ini beneran deh terasa banget di masa sulit ini #curcol⁣⁣
⁣⁣
Kuadran III⁣⁣
Fokus Internal & Sekitar. Kuadran ini terkait kemampuan mengembangkan diri & orang lain. Beberapa kemampuan ini juga perlu dimiliki setiap individu seperti keterampilan coaching, manajemen ego, menyimak, personal development, team building, manajemen waktu, menghargai orang lain. Btw hal‑hal ini didapat dimana ya pas perkuliahan? ahhaha jadi inget Pi‑Shaped People, belajar dari banyak wadah ya guys, mumpung muda!⁣⁣
⁣⁣
Kuadran IV⁣⁣
Fokus Sekitar & Eksternal. Kuadran ini terkait kemampuan memimpin perubahan. Ini penting, apalagi terkait leadership. Beberapa keterampilan yang harus diasah adalah skill manajemen perubahan, inovasi, komitmen yang inspiratif serta kecerdasan berorganisasi.⁣⁣
⁣⁣
Banyak yaa Peer, Habiskan jatah gagal selagi muda🚀

6 Jenis Kecerdasan

Institusi pendidikan kerap kali abai dengan sisi manusia, abai pada tahapan‑tahapan tumbuh manusia serta bagaimana menyiapkan mereka dimasa datang.⁣

Pendidikan tinggi memang hadir dengan aneka riset, hanya sebagian besarnya berupa menara gading, lupa membumikannya. Sisi lain, Ia juga melaksanakan proses pendidikan berdasarkan banyaknya SKS yang terselesaikan hingga abai esensi dasarnya bahwa kita sedang membangun manusianya, bukan semata membangun produknya.⁣

Perdebatan kerap kali hadir, merumuskan kurikulum terjebak tataran teknis, lupa fundamental & filosofi dasar. Sering kali merancang aneka macam topik seperti layaknya menjahit kain perca. Selimutnya memang jadi, tapi bentuknya tak jua jelas.⁣

Di pertemuan Era Bonus Demografi X Generasi Baru X Tsunami Digital X Pandemic Covi‑19 adalah variabel kompleks yang perlu diolah seperti apa generasi mendatang perlu didampingi dan dirancang melalui proses pendidikan yang baik.⁣

Whatsapp berdenting, Video Prof Rhenald Khasali kembali mengingatkan keterampilan masa depan yang perlu dimiliki. Mengutipnya, saya coba deskripsikan sbb;⁣

1.Technological Intelligence⁣
Anak muda saat ini terlahir lekat dengan teknologi. Kemampuan penguasaan teknologi yang lebih kompleks kedepannya perlu dijaga.⁣

2.Contextual Intelligence⁣
Banyak bekerja di belakang teknologi, seringkali jadi tidak paham konteks, keterampilan berpikir kritis yang perlu dilatih sungguh‑sungguh⁣

3.Social & Emotional Intelligence⁣
Saat anak‑anak yang sedari dini aktif di depan teknologi perlu meningkatkan kecerdasan fungsi sosial dalam merespon/menghadapi lingkungannya dengan beragam perilaku. ⁣

4.Generative Intelligence⁣
Menangkap kesempatan atau peluang & memanfaatkan momentum.⁣

5.Explorative Transformational ⁣
Kemampuan eksplorasi berbagai kesempatan & bertransformasi, memiliki ketahanan bereksplorasi & membawa perubahan yang lebih baik.⁣

6.Moral Intelligence⁣
Kecerdasan fundamental dalam menggunakan nilai‑nilai yang berlaku secara universal untuk mencapai puncak yang tertinggi pada peranan yang ia pilih. ⁣

Pada akhirnya kecerdasan‑kecerdasan ini akan melahirkan integritas, dapat dipercaya dengan karakter yang kuat.

Makin Pinter Dengan Berbagi

Postingan ini hadir bukan karena Dosennya doyan bikin webinar yaa🤣🤣 tapi ini sungguh ingin membagikan pengalaman belajar nyata, membuktikan bahwa belajar & berbagi itu bisa sangat menyenangkan. Bukan hanya menyenangkan, namun juga mendatangkan banyak insight yang luar biasa🚀
⁣⁣
Jika dalam teori retensi pembelajaran, mengajarkan orang lain adalah hierarki tertinggi dalam proses belajar dimana Ia akan menyerap 90% hasil belajarnya, ketimbang model belajar lainnya seperti ceramah, membaca atau diskusi sekalipun. ⁣⁣💫
⁣⁣
Memberikan wadah yang sungguh‑sungguh bagi anak‑anak muda menjadi manusia berkualitas selalu menjadi sumber energi membahagiakan. Merancang proses yang sungguh‑sungguh dilakukan hingga mereka lulus dengan outcomes yang baik, hingga kemampuan kognitif keilmuan, psikomotorik gerak & perilaku serta kemampuan afeksinya terasah baik👨🏻‍🎓⁣⁣
⁣⁣

Kemampuan ini jadi penting untuk mengarungi era masa depan yang makin menantang, oleh karena itu sempat juga kami berdiskusi terkait nama‑nama peranan yang ingin mereka hadirkan di masa depan dengan beragam kapabiltasnya yang perlu dimiliki. Coba lihat deh dibawah nama‑nama mereka, ada peranan masa depan yang dirumuskannya, keren! Yaaa.. setidaknya label ini akan memancing hukum ketertarikan hal‑hal yang mereka impikan untuk menghampirinya lebih dekat dengan mimpinya.⁣⁣
⁣⁣
Malam ini mendapat report progress membahagiakan, panggung‑panggung ujian akhir semester kali ini akan berbeda! 🗣 Mengundang masyarakat umum untuk menilai mereka apakah memiliki kapabilitas & kapasitas yang layak untuk memboyong nilai A bagi kuliahnya. Setiap anak akan memiliki panggung berbaginya dengan audience yang berbeda secara masif🎤Secara pribadi saya sangat menikmati panggung anak muda walau minim pengalaman sekalipun, sangat membahagiakan bahkan jika kita sanggup memberikan berbagai panggung pertama untuk tiap pengalaman baru pada hal‑hal berbeda🤩

Peranan Masa Depan

Inget postingan lalu tentang parade webinar mahasiswa? Ternyata di jagad twitter, poster kami viral disoroti negatif 😂 tentang label peranan masa depan yang memang mereka kami tantang tentang peran apa masa depan, yang tentunya saat ini belum populer apa itu peranan & apa itu bedanya dengan profesi.⁣

Pergeseran Profesi ke Peranan adalah hal pasti. Jika proses perkuliahan berujung pada kompetensi khusus & tiap profesi punya standar masing-masing, lalu apa bedanya dengan peranan?😎

Profesi penting seragam & terstandar, jika dituangkan jadi peranan akan jadi cerita lain yang menantang! “Peranan itu melekatkan manfaat ilmunya di masyarakat & lingkungan, kemudian meluaskan keterampilannya untuk membawa kemajuan bagi sekeliling” Tiap individu berhak memilih & memformulasikannya ilmu dengan passionnya. Oleh karena itu peranan akan punya warna2 khasnya yang unik & saling melengkapi🧩

Sarjana Pertanian misalnya, Ia tak melulu harus jadi dosen/ petani, tapi dengan ilmunya Ia bisa memberikan manfaat dalam bentuk berbeda. Untuk melekatkan ilmunya, Ia bisa berperan sebagai Agile Leaders, Design Thinkers, The Local Enablers, Creative Inclusive Mover atau label apapun yang Ia inginkan melekat pada dirinya sebagai perwujudan mimpi diri masa depannya🔎

Bingung? memang akan banyak kebingungan yang muncul karena makin banyak kebaruan muncul berbeda & belum ada rujukannya & bahkan tak banyak pula yang melakukannya🖐

Satu-satu yang membuat kita bisa beradaptasi adalah membangun paradigma baru, karena kebaruan tidak dapat melekat dengan paradigma lama. Jika mendapatkan cemoohan biarkan, pembaharu memang akan selalu mendapatkan tantangan dari sekeliling. ⁣

Berikut saya coba adaptasi sebuah gambaran konsep Whole Brain Herrman Global. Untuk menetapkan nama peranan, coba tarik garis dimana titik dominan & kurang dominannya kamu. kemudian petakan ingin seperti apa diri dimasa datang dengan ke-4 kemampuan ⁣

A Rasional/logika,⁣
B Perencanaan & organisasi, ⁣
C Perasaan & Interpersonal.⁣
D Kreativitas & Big Picture⁣

Tarik garis sesuai kedalaman penguasaannya, coba labeli diri dengan peranan. Kira2 nama peran apakah yang paling sesuai buat kamu dimasa datang?⁣

Learning in The Era of Change

Aktivitas kolaborasi tak mungkin lagi dipungkiri, karena dari sinilah banyak muncul beragam kemungkinan baru menerobos batas kebiasaan.

Bangka Belitung, hari ini menjadi saksi baru betapa kuatnya peran kolaborasi. Melihat kaum muda berbaur dengan masyarakat selalu menjadi energi baru penyemangat bahwa masa depan penuh kemajuan itu memang nyata ada dan bisa hadir.

Belajar dimasa modern tentu berbeda cara dengan masa lalu, beragam sumber bisa diakses dimana saja, hanya kita perlu tau pasti bahwa menjadi pembelajar sepanjang hayat adalah sebuah cita‑cita yang memang layak diperjuangkan.

Semakin banyak bersua kawan‑kawan baru, artinya makin besar pula kemampuan mengasah kemandirian belajar. Makin tinggi nilai pula penguasaan proses pembelajaran yang ternyata bukan hanya bisa didapat diruang‑ruang kelas, atau kelas maya sekalipun, tapi justru diruang‑ruang sosial, berbaur dan saling belajar. Belajar dari keseharian, bekerja dalam tim, berbagi ilmu dan pengalaman adalah ruang‑ruang terbaik belajar.


Apalagi jika kita memadukannya dengan kesungguhan melakukan pengembangan diri baik secara profesional, mengembangkan jejaring & senantiasa update dengan zaman.

Minggu ini belajar banyak dari Kepulauan Bangka Belitung. Jangan lupa kolaborasi! Terimakasih Bapak Gubernur @erzaldi.rosmandjohan dan Ibu @melatierzaldi atas kesempatannya, banyak bahan untuk belajar 🤩 #janganlelahberproses

courtesy:img-src