In public service, CX defines whether innovation truly makes life easier

“In public service, CX defines whether innovation truly makes life easier.”

Diberagam perusahaan, perhatian sedang sungguh-sungguh berfokus pada CX, Customer experience yang bukanlah metrik yang perlu sekadar diperbaiki, tetapi konsekuensi dari bagaimana sebuah organisasi memilih cara bekerjanya. Pengalaman pelanggan tidak akan berubah hanya karena target dinaikkan, survei diperbanyak, atau teknologi ditambahkan. CX terbentuk dari keputusan kepemimpinan, desain proses, dan budaya kerja yang dijalankan setiap hari. Ketika cara kerja organisasi lebih sederhana, selaras, dan manusiawi, pengalaman pelanggan akan membaik secara alami. Sebaliknya, jika cara kerja tetap rumit dan terfragmentasi, program CX apa pun hanya akan menutup masalah di permukaan.

Banyak upaya inovasi gagal karena tidak berangkat dari pengalaman pelanggan. Organisasi sering meluncurkan sistem baru atau inisiatif perubahan tanpa benar-benar memahami friksi yang dialami pengguna. CX seharusnya menjadi sinyal paling jujur tentang di mana inovasi dibutuhkan. Dengan menjadikan CX sebagai input, bukan output, inovasi bergeser dari sekadar ide internal menjadi respons terhadap masalah nyata. Hasilnya, perubahan yang dilakukan lebih tepat sasaran, lebih mudah diadopsi, dan lebih konsisten dirasakan manfaatnya.

Pada akhirnya, peningkatan CX bukan agenda layanan semata, melainkan agenda kepemimpinan. CX menuntut pimpinan untuk melihat kembali bagaimana pekerjaan diatur, bagaimana keputusan dibuat, dan bagaimana orang-orang di dalam organisasi diberdayakan. Ketika kepemimpinan mampu menyelaraskan cara kerja internal dengan pengalaman yang ingin dirasakan pelanggan, inovasi akan memiliki arah yang jelas dan kepercayaan publik akan tumbuh secara berkelanjutan.

– CX is a leadership responsibility, not a frontline task-

KPI

Banyak organisasi hari ini tampak sukses, setidaknya menurut indikatornya sendiri. KPI individu tercapai, GPI hijau, laporan rapi, dan dashboard penuh panah ke atas. Namun justru di saat angka-angka itu membaik, organisasi kehilangan daya inovasinya. Respons terhadap perubahan melambat, keberanian bereksperimen menurun, dan ide-ide baru lebih sering lahir di luar sistem daripada di dalamnya. Organisasi terlihat bergerak, tetapi tidak berkembang. Inilah performance paradox: indikator membaik, tetapi kemampuan strategis justru menurun, sebuah gejala klasik dari organisasi yang salah mendefinisikan kemajuan (Meyer & Gupta, 1994; Van Thiel & Leeuw, 2002).

Masalahnya bukan karena organisasi kekurangan ide, talenta, atau komitmen terhadap inovasi. Masalahnya adalah sistem kinerja yang secara sistematis menghukum pembaruan. KPI dirancang untuk menjaga kepastian, efisiensi, dan kepatuhan, bukan untuk membuka kemungkinan baru. Dalam sistem seperti ini, keputusan paling rasional bagi individu adalah bermain aman: jangan bereksperimen, jangan mengambil risiko, jangan menggoyang angka yang sudah hijau. Organisasi lalu mengumumkan inovasi sebagai prioritas strategis, sambil secara bersamaan memberi insentif pada perilaku yang mempertahankan status quo. Paradoks ini sudah lama dijelaskan: ketika eksploitasi diberi imbalan lebih tinggi daripada eksplorasi, inovasi akan selalu kalah di meja evaluasi (Kaplan & Norton, 1996).

Organisasi yang benar-benar ingin berinovasi harus berani mengakui satu hal yang tidak nyaman: selama KPI dan GPI hanya mengukur kinerja hari ini, organisasi sedang menggadaikan masa depannya. Inovasi tidak akan lahir dari sistem yang hanya menilai hasil pasti dan menghukum pembelajaran dari kegagalan. Karena itu, indikator harus diperlakukan ulang, bukan sebagai alat kontrol, tetapi sebagai mekanisme pembelajaran strategis yang menilai apa yang sedang dipelajari, diuji, dan dipertaruhkan untuk masa depan. Inilah inti dari organizational ambidexterity dan double-loop learning: inovasi bukan persoalan budaya semata, melainkan konsekuensi langsung dari desain kepemimpinan & sistem kinerja yang berani mengoreksi asumsi tentang apa itu “sukses” (OECD, 2019).

Kreativitas

Kreativitas adalah denyut nadi yang menjaga perusahaan tetap hidup. Ia lahir dari manusia, dari rasa ingin tahu, dari kegelisahan melihat sesuatu yang bisa dibuat lebih baik, dari keberanian kecil untuk bertanya “bagaimana jika?” Tidak ada kreativitas tanpa keberanian, dan tidak ada keberanian tanpa harapan. Ketika kreativitas tumbuh, ia tidak sekadar melahirkan ide; ia menyalakan kembali energi seseorang, membuat mereka merasa bahwa pekerjaannya punya makna, dan bahwa dirinya penting bagi perjalanan perusahaan.

Namun kreativitas tidak bisa berkembang sendirian. Ia membutuhkan rumah, sebuah ekosistem yang membuat orang merasa aman untuk mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Ekosistem yang memberi ruang bagi suara-suara kecil yang sering tak terdengar. Yang menatap kesalahan sebagai bagian dari proses, bukan alasan untuk menyalahkan. Yang memeluk kegelisahan sebagai sumber pemantik, bukan ancaman. Di dalam ekosistem seperti ini, kreativitas bukan lagi inspirasi sesaat, tetapi denyut kolektif yang menggerakkan semua orang untuk berani melangkah sedikit lebih jauh dari kemarin.

Dan ketika kreativitas bertemu ekosistem yang mencintainya, perusahaan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada organisasi kerja: ia menjadi tempat di mana orang tumbuh, saling menguatkan, dan menemukan versi terbaik dari dirinya. Di sana lahir inovasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga tulus. Solusi yang bukan hanya efektif, tetapi juga penuh empati. Inilah momen ketika perusahaan tidak sekadar berkembang, tetapi melejit, menembus batas-batasnya, dan memberi dampak yang lebih luas. Karena pada akhirnya, kreativitas yang dijaga oleh ekosistem adalah bentuk cinta: cinta pada kemungkinan, cinta pada pertumbuhan, dan cinta pada masa depan dan kebermanfaatan.

Terimakasih @injourneyairports sudah berkenan menjadi bagian dari proses co-innovation ekosistem-ekosistem kreativitas🚀

It’s a Feeling That You Belong, Rather Than a Life Full of Belongings

“It’s a feeling that you belong, rather than a life full of belongings.”

Saya mendapatkan insight yang sangat kuat dari speech Bapak @herdyharman , Direktur Human Capital & Digital Injourney, ketika ia mengatakan: “It’s a feeling that you belong, rather than a life full of belongings.” Kalimat itu langsung menampar cara pikir kita selama ini, bahwa hidup bukan diukur dari apa yang kita kumpulkan, tetapi dari di mana kita merasa diterima dan dihargai. Belongings memberi kenyamanan sesaat, tetapi belonging memberi tempat pulang.

Dalam konteks organisasi, makna ini menjadi sangat penting. Orang bertahan bukan karena benefit terbesar, tetapi karena mereka merasa dilihat, didengar, dan menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna. Belonging membuat orang berani tumbuh, mengambil peran, dan menghadapi tantangan bersama. Energi kolektif seperti ini tidak bisa dibeli atau dipaksakan; ia hanya lahir dari hubungan manusia yang tulus.

Pada akhirnya, pesan ini mengingatkan kita bahwa masa depan organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya fasilitas atau struktur, tetapi oleh kedalaman ikatan di dalamnya. Belonging mengubah tim menjadi komunitas, dan pekerjaan menjadi perjalanan bersama. Dan di dunia yang semakin bising, belonging bukan hanya kebutuhan, ia adalah kekuatan yang membuat kita benar-benar merasa pulang🛩️

Bertemu dengan kawan-kawan PKP Pasca Sarjana UGM

Bertemu dengan kawan-kawan PKP Pasca Sarjana UGM berdiskusi bagaimana mengambangkan proses yang lebih relevan dengan jamannya. Selama ini banyak program pemberdayaan dirancang dari jauh dan dipaksakan ke masyarakat, seolah perubahan bisa dibentuk hanya dengan modul dan kegiatan. Ketika hasilnya tidak bertahan, masyarakat yang disalahkan, padahal yang lemah adalah cara kita membaca manusia dan sistem. Tanpa memahami konteks sosial secara mendalam, pemberdayaan mudah terjebak menjadi aktivitas administratif. HCD+ hadir sebagai koreksi terhadap pendekatan teknokratis yang terlalu jauh dari kenyataan hidup warga.

Pendekatan menjadi HCD+ penting karena menggeser fokus pemberdayaan: dari agenda lembaga menuju kebutuhan dan dinamika manusia yang sebenarnya.

Banyak kegagalan terjadi bukan karena kurangnya kapasitas masyarakat, tetapi karena program dibangun di atas asumsi. Dengan memahami budaya, norma, motivasi, dan cara orang mengambil keputusan, HCD+ memastikan perubahan yang dirancang tidak hanya masuk akal bagi institusi, tetapi juga relevan dan bermakna bagi warga.

Namun memperkuat individu saja tidak cukup jika sistem tetap menciptakan hambatan. HCD+ memetakan pertukaran nilai, ketidakselarasan antar-aktor, dan ketegangan struktural yang membentuk perilaku. Ini membuat intervensi tidak berhenti pada pelatihan, tetapi menyasar akar masalah: insentif yang salah, beban yang tidak adil, dan relasi kekuasaan yang timpang. Dengan memahami ekosistem, pemberdayaan dapat mendorong perubahan yang benar-benar memperkuat kemandirian.

Pada akhirnya, pemberdayaan hanya berkelanjutan jika masyarakat memiliki kontrol atas perubahan itu sendiri. Melalui co-creation, pengujian prototipe, dan learning loops, HCD+ menempatkan warga sebagai mitra dalam mendesain solusi. Inovasi tidak lagi datang dari luar, tetapi tumbuh bersama komunitas. Dengan cara ini, HCD+ membuat pemberdayaan lebih adil, lebih inklusif, dan lebih tahan lama, karena perubahan tidak dipaksakan, tetapi dimiliki🙌

“As long as solutions arrive faster than empathy, empowerment will remain a project; not a transformation.”

Pertemuan dengan para penggerak kawan-kawan @turuntangan

Pertemuan dengan para penggerak kawan-kawan @turuntangan kemarin seperti mengisi ulang baterai empati. Jika dalam pendekatan Humanity Centered Design +, empati bukan cuma soal “ikut merasakan,” tetapi kemampuan untuk benar-benar melihat manusia secara utuh, ceritanya, perjuangannya, dan konteks hidupnya. Ketika para relawan saling berbagi pengalaman, ada energi yang muncul: rasa terinspirasi karena menyaksikan ketulusan orang lain. Banyak peneliti menyebut ini sebagai moral elevation, dan memang terasa bahwa pertemuan itu mengembalikan alasan mendasar kenapa kita semua bergerak.

Namun perjalanan gerakan sosial bisa berbelok ketika kita terlalu fokus pada angka dan target, sampai lupa pada manusia yang ingin kita bantu. Dalam dunia akademik, kondisi ini dikenal sebagai mission drift, yaitu saat tujuan mulia mulai tersisih oleh logika yang serba teknis. HCD+ mengingatkan bahwa gerakan kehilangan kekuatannya ketika terlalu sibuk mengurusi indikator, tetapi lupa memeriksa apakah manusia benar-benar merasakan manfaatnya. Seperti kata Amartya Sen, pembangunan yang hanya mengejar efisiensi biasanya gagal menyentuh inti kemanusiaan.

Karena itu, pertemuan-pertemuan seperti ini menjadi penting, karena akan membantu kita menyelaraskan kembali tujuan gerakan. Ini bukan sekadar kumpul-kumpul, tetapi proses memahami ulang “kenapa kita bergerak” dan “siapa yang paling perlu kita dengarkan.” Dalam bahasa teori organisasi, proses ini disebut sensemaking. Dalam bahasa HCD+, ini adalah cara untuk memastikan bahwa setiap langkah kita kembali berpihak pada manusia. Pertemuan ini bukan hanya menghangatkan hati, tetapi juga mengingatkan bahwa kekuatan gerakan ada pada nilai, empati, dan kemampuan kita menjaga agar api kebermanfaatan tetap menyala🙌🙌

Witnessing someone’s kindness awakens the desire to be better. That is where the true energy of a movement begins.

Terimakasih @turuntanganfest 💙

Bencana Ekologis Sekaligus Institusional

Banjir bandang & longsor yang menelan ratusan korban jiwa dan menghancurkan ribuan rumah, kembali menunjukkan bahwa yang kita hadapi bukan semata “bencana alam”. Ini adalah bencana ekologis sekaligus institusional. Kerusakan hutan, alih fungsi lahan, dan lemahnya pengawasan bukan muncul dalam semalam; semuanya adalah hasil dari rangkaian keputusan yang diambil tanpa empati terhadap manusia & lingkungan. Ketika empati hilang dari meja kebijakan, negara tidak lagi membaca risiko, tidak mendengar peringatan alam, dan tidak menangkap kegelisahan warga di hulu sungai.

Masalahnya lebih dalam dari sekadar cuaca ekstrem. Banyak lembaga publik terjebak pada budaya mengejar output: program yang selesai, laporan yang rapi, anggaran terserap. Namun semua itu sering tidak berkorelasi dengan keselamatan warga. Tanpa empati, orientasi output berubah menjadi ketidakpekaan sistematis. Prosedur mengalahkan akal sehat, proyek mengalahkan kehati-hatian, dan angka mengalahkan manusia. Bencana ini memperlihatkan dengan jelas akibat dari institusi yang bekerja secara mekanistik tetapi lupa mendengarkan realitas ekologis & sosial yang melingkupinya.

Tragedi ini juga membuka fakta pahit: kegagalan negara sering tidak lahir dari satu keputusan besar, tetapi dari ratusan kelalaian kecil yang dianggap “wajar”. Izin yang dikeluarkan tanpa kajian ekologis, pengawasan yang longgar, kebijakan yang tone-deaf terhadap situasi masyarakat. Semua keputusan kecil itu mengendap menjadi bom waktu, dan di Sumatra, bom itu meledak. Saat desa-desa terisolasi, bantuan tersendat, habitat satwa liar terfragmentasi, dan keluarga kehilangan tempat tinggal, kita melihat jelas akibat dari institusi yang kehilangan kepekaan.

Empati tidak lagi dapat diperlakukan sebagai nilai moral personal; ia harus menjadi kompetensi struktural. Empati adalah kemampuan institusi untuk membaca risiko, memahami keterhubungan ekologi, & menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan. Tanpanya, kita akan terus mengulangi tragedi di mana pun ekosistem ditekan melampaui batas. Pertanyaannya: apakah kita siap membangun institusi yang kembali mampu merasakan, atau terus menunggu bencana berikutnya untuk menyadarkan kita?

The Leadership Blindspot

The Leadership Blindspot

Banyak organisasi tampak berkembang secara struktural, unit bertambah, aktivitas administratif meningkat, dan program diperluas, namun tidak disertai peningkatan relevansi. Kondisi ini sering muncul ketika posisi kepemimpinan ditentukan oleh kedekatan atau kenyamanan, bukan kapasitas adaptif. Mintzberg (2009) mengingatkan bahwa struktur yang terlalu stabil justru melemahkan fungsi strategis karena organisasi berhenti menantang dirinya. Ketika proses seleksi menjadi seremonial dan homogen, kemampuan organisasi membaca perubahan lingkungan perlahan menurun.

Masalah ini semakin jelas terlihat ketika individu dengan perspektif berbeda justru diperlakukan sebagai gangguan, bukan sumber pembelajaran. Heifetz dan Linsky (2002) menyebut kelompok ini sebagai pembawa adaptive pressure, yakni sinyal bahwa asumsi lama perlu diperiksa ulang. Namun banyak organisasi memilih meredam tekanan tersebut demi menjaga harmoni internal. Akibatnya, psychological safety melemah (Edmondson, 2019), dan kritik substantif sulit muncul. Situasi ini menempatkan organisasi dalam single-loop learning, di mana perbaikan hanya terjadi di level prosedur. Padahal Argyris dan Schön (1978) menunjukkan bahwa perubahan yang bermakna membutuhkan double-loop learning, kemampuan meninjau ulang pola pikir yang mendasari keputusan.

Ketika kondisi tersebut berlangsung lama, dampaknya menjadi struktural. Rekrutmen dan promosi yang tidak berbasis kompetensi menghasilkan organisasi yang sulit beradaptasi dan terjebak pada pola kerja statis (Laloux, 2014). Karena itu, memperkuat meritokrasi dan menata ulang proses seleksi bukan sekadar langkah administratif, tetapi fondasi kapasitas adaptif organisasi. Prinsip organisasi pembelajar dari Senge (1990) relevan di sini: ketahanan organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya aktivitas, tetapi oleh kemampuan melihat realitas secara jernih dan memperbaiki sistem yang keliru. Dengan begitu, organisasi dapat keluar dari blind spot-nya sendiri dan kembali berorientasi pada misi yang seharusnya🙌

Ilmu

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak dipandang sebagai kumpulan informasi, melainkan sebagai fondasi moral yang menuntut transformasi diri. Ilmu hanya memperoleh legitimasi ketika melahirkan perubahan nyata dalam sikap, perilaku, dan cara seseorang mengambil keputusan. Karena itu, keikhlasan, kesungguhan belajar, dan pengamalan yang konsisten menjadi tiga pilar utama yang menentukan apakah sebuah ilmu benar-benar berfungsi sebagai hidayah atau berhenti sebagai pengetahuan yang kosong dari nilai.

Ali bin Abi Thalib r.a. memberikan kerangka evaluatif yang sangat kuat mengenai bagaimana manusia memposisikan ilmu. Ia mengkritik empat kecenderungan yang merusak integritas keilmuan:
– ketidakamanahan terhadap ilmu,
– mengikuti tanpa verifikasi (taklid),
– kemalasan yang menghindari proses, serta
– orientasi hidup yang menempatkan harta di atas ilmu.

Kecenderungan-kecenderungan ini membuat seseorang mampu mendengar kebenaran tanpa pernah hidup di dalam kebenaran tersebut. Dengan demikian, nasihat Ali bukan sekadar catatan historis, tetapi sebuah alat untuk menilai konsistensi diri dalam membangun karakter ilmiah yang jujur.

Pada akhirnya, ilmu tidak pernah tumbuh subur dalam kesantaian atau pola hidup yang serba mudah. Disiplin mujāhadah dan riyāḍah menegaskan bahwa kedalaman ilmu hanya dapat dicapai melalui kesediaan menghadapi ketidaknyamanan, mengendalikan hawa nafsu, dan melatih diri secara berkesinambungan. Ilmu menjadi cahaya ketika ia hadir dalam keputusan moral, ketahanan emosi, dan akhlak sehari-hari. Dari sini, jelas bahwa ilmu bukan penghias identitas, melainkan mekanisme pembentukan pribadi yang menuntun seseorang berjalan di atas jalan kebenaran.

Empati, Data, dan Masa Depan Pendidikan

Catatan Dua Hari di @binusuniversityofficial
Empati, Data, dan Masa Depan Pendidikan

Key Lesson, disampaikan Wakil Rektor Binus Prof. Yohannes, mengingatkan lagi bahwa bahwa empati bukan sekadar kompetensi yang diajarkan, tetapi struktur berpikir yang menentukan bagaimana sebuah universitas melihat dirinya di tengah perubahan dunia. Ketika beliau menekankan bahwa;

🔆 Empathy Sustains, jadi langsung teringat pada banyak ruang pendidikan kita yang justru kehilangan empati, sibuk mengejar akreditasi, ranking, dan KPI, tetapi lupa membaca denyut hidup mahasiswa dan masyarakat. Apa yang beliau sampaikan membuat saya menilai ulang: tanpa empati, pendidikan mungkin tetap berjalan, tetapi tidak akan pernah menumbuhkan manusia.

🔆 Data Matters, but Humanity Matters More
Pesannya terkait antara data dan kemanusiaan juga menggugah. Beliau tidak menolak data; beliau mengingatkan bahwa data tanpa moralitas hanya menghasilkan efisiensi yang dingin. Ini relevan sekali dengan kerja-kerja yang saya lihat di banyak ekosistem, kita sering terjebak pada dashboard dan angka, sampai lupa untuk bertanya “siapa yang terdampak?” atau “nilai apa yang sedang kita tegakkan?”. Catatan itu seperti menepuk pundak saya: inovasi tak boleh menjauh dari manusia, karena manusia adalah tujuan, bukan variabel.

🔆 Learning to Knowing
Yang paling menempel adalah konsep learning → knowing. Banyak universitas sibuk mengajarkan konten, padahal yang kita butuhkan adalah kebijaksanaan. Knowing bukan soal menambah informasi, tetapi kemampuan membacanya dalam konteks yang tidak pasti, memahami tensi sosialnya, dan mengeksekusinya dengan keberanian.

Pembelajaran ini mengajak kita untuk collaborate fearlessly & design for sustainability, tentu ini adalah ilmu yang mahal, membuat kita bisa melihat jelas arah baru pendidikan: bukan sekadar menyiapkan lulusan untuk dunia kerja, tetapi menyiapkan mereka menjadi penjaga masa depan. Dan bagi saya pribadi, ini adalah pengingat bahwa misi pendidikan adalah merawat manusia dan merancang masa depan, secara bersamaan.

“A university’s greatest achievement is not producing brilliance, but raising humans who protect the future.”

Great event mas @arimgn 🙌🙌