Sering kali diskusi tim terasa lancar justru karena semuanya terlalu cepat sepakat. Semua kursi terisi, semua orang bicara, dan keputusan kelihatan rapi. Tapi di situlah jebakannya. Tanpa jeda untuk bertanya “siapa yang belum kita dengar?”, diskusi gampang jatuh ke pola lama, mengulang asumsi, merasa aman karena ramai yang setuju, dan lupa melihat ke luar kepala sendiri. Kursi kosong hadir bukan karena kurang orang, tapi sebagai pengingat bahwa selalu ada sudut pandang lain di luar ruangan itu.

Coba deh kamu taruh satu kursi kosong tiap kamu diskusi bareng. Kelihatannya sepele, tapi ini cara paling sederhana buat ngerem diskusi sebentar. Bukan buat memperlambat, tapi buat ganti mode berpikir. Dari yang buru-buru cari jawaban, jadi mau buka kemungkinan lain dulu. Jeda kecil ini memaksa kita membayangkan POV yang nggak biasa: pelanggan paling kecewa, orang yang terdampak tapi nggak duduk di meja, atau masa depan yang belum kejadian.

Tanpa kursi kosong, diskusi kelompok gampang berubah jadi saling menguatkan pendapat. Bukan karena idenya paling benar, tapi karena semua orang mikirnya mirip. Pendapat yang beda sering tenggelam atau nggak sempat muncul. Kursi kosong jadi wakil suara yang nggak hadir, yang minor, yang lemah, atau yang nggak populer. Dan sering kali, justru dari suara-suara inilah blind spot paling berbahaya mulai kelihatan.

Ujung-ujungnya, kursi kosong bukan soal furnitur di ruang rapat, tapi soal sikap berpikir. Tim yang mau nyisain kursi kosong adalah tim yang sadar bisa salah. Dengan ngasih ruang buat jeda dan perspektif lain, diskusi jadi lebih jujur, keputusan lebih matang, dan risiko salah arah bisa ditekan sejak awal. Kadang yang kita butuhin bukan tambahan orang di ruangan, tapi keberanian buat berhenti sebentar dan melihat dari sudut yang belum pernah kita pakai.

When discussion feels too smooth, something important is being ignored.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *