Sebelum Mengatur Cost,Pahami Dulu Realitasnya.

Sebelum Mengatur Cost,
Pahami Dulu Realitasnya.

Di era VUCA–BANI yang penuh ketidakpastian, banyak bisnis dan organisasi masih terjebak dalam keyakinan lama: bahwa ketelitian ekonomi manajerial cukup untuk membuat mereka bertahan. Padahal, realitas hari ini menunjukkan sebaliknya, perhitungan yang teliti tidak banyak membantu jika dilakukan di atas model bisnis yang salah baca konteks. Kita sering langsung menghitung biaya, menyusun proyeksi pendapatan, atau menetapkan target penjualan, sementara lingkungan kita berubah lebih cepat daripada rumus-rumus yang kita anggap aman. Ketika pasar bergeser, perilaku konsumen berubah, dan kompetitor bermunculan tanpa pola, maka angka bukan lagi titik awal, melainkan konsekuensi dari keputusan yang kontekstual.

Banyak organisasi masih mengira kegagalan mereka berasal dari ketidaktelitian menghitung cost dan revenue. Padahal, akar masalahnya lebih dalam: mereka tak memahami konteks strategis tempat mereka beroperasi.

Apakah pasar mereka sedang mengalami disrupsi?
Apakah perilaku pelanggan bergeser?
Apakah struktur industrinya berubah?
Apakah ada teknologi baru yang memecah aturan lama?

Tanpa memahami ini semua, perhitungan finansial justru menjadi ilusi kepastian, seolah-olah kita sedang memegang peta lama untuk membaca kota yang sudah berubah total.

Karena itu, di era ini, ekonomi manajerial harus dimulai dari pemahaman konteks: memahami lanskap, memetakan risiko, membaca arah angin industri, dan menyusun model bisnis yang benar-benar relevan. Barulah angka-angka finansial memiliki arti yang kongkret. Jika konteksnya keliru, seluruh hitungan runtuh seperti kartu-kartu domino. Pesannya menampar: bukan perhitungannya yang salah, melainkan titik awal berpikirnya. Bisnis dan organisasi harus belajar membaca realitas sebelum membaca Excel, memahami dunia sebelum mengeksekusi strategi, dan merancang model bisnis sebelum sibuk mengutak-atik laporan keuangan.

“You cannot fix the numbers if you misunderstand the reality they are meant to describe.”

Universitas YARSI

Hari ini, ketika mengajar di Program MARS Universitas YARSI, saya merasakan sesuatu yang jarang hadir: sebuah ruang belajar yang benar-benar hidup. Para calon pemimpin rumah sakit ini datang bukan hanya dengan buku catatan, tetapi dengan kegelisahan, harapan, dan keberanian untuk berubah. Di wajah mereka saya melihat kesungguhan yang tidak bisa dibuat-buat, kesungguhan untuk menjadi pemimpin yang lebih baik bagi ribuan manusia yang akan mereka layani.

Diskusi kami tidak sekadar tentang inovasi. Itu tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana keputusan seorang direktur rumah sakit bisa menentukan apakah seorang pasien merasa aman, apakah seorang perawat merasa dihargai, apakah sebuah keluarga merasa didengar. Dan ketika para peserta mulai mengaitkan teori dengan realitas yang mereka temui setiap hari, saya melihat kilatan-kilatan kesiapan untuk memimpin dengan hati sekaligus pikiran.

Ruang belajar seperti ini selalu membuat saya rindu, tersentuh. Ada sesuatu yang terasa magical ketika orang-orang yang peduli berkumpul, membuka diri, dan mencoba menjadi versi terbaik dari dirinya demi orang lain. Jika energi seperti ini terus tumbuh, saya percaya masa depan rumah sakit Indonesia akan diisi oleh pemimpin yang bukan hanya cerdas mengambil keputusan, tetapi juga tulus menjaga martabat manusia, berlomba-lomba melahirkan kebermanfaatan.

@universitasyarsi 💙

Law of Triviality

Law of Triviality

Bayangkan rapat besar dengan tema serius: transformasi digital, kurikulum baru, atau kota cerdas. Tapi begitu dimulai, yang dibahas justru warna logo, bentuk spanduk, atau siapa yang duduk di depan saat acara. Ide besar lenyap, waktu habis untuk hal kecil. Inilah Law of Triviality, hukum yang bilang semakin remeh topiknya, semakin lama orang membicarakannya. Karena membahas hal mudah terasa lebih aman dan membuat semua orang merasa pintar, padahal tidak membawa perubahan apa pun.

Inilah sebab banyak organisasi terlihat sibuk tapi sebenarnya tidak bergerak. Semua sibuk rapat, tapi hasilnya tidak jelas. Yang sulit dan penting justru dihindari, karena tidak semua paham atau berani menyentuhnya. Diskusi jadi tempat untuk terlihat aktif, bukan untuk menyelesaikan masalah. Energi yang seharusnya dipakai untuk memecahkan isu besar malah habis untuk urusan kecil yang tidak berdampak.

Pemimpin yang baik tahu kapan pembahasan mulai melenceng. Ia bisa memotong diskusi yang tidak penting dan mengarahkan tim kembali ke hal yang benar-benar berpengaruh. Fokus bukan di berapa banyak yang dibahas, tapi apa yang berubah setelahnya. Karena masalah terbesar dalam organisasi bukan kurang ide atau dana, tapi terlalu banyak waktu dihabiskan untuk hal-hal kecil yang tidak mengubah apa-apa.

Law of Triviality, dikemukakan oleh C. Northcote Parkinson dalam bukunya Parkinson’s Law and Other Studies in Administration (1957), menyatakan bahwa semakin remeh suatu hal, semakin banyak waktu dan energi yang dihabiskan orang untuk membahasnya.

“If every meeting is spent on small things, don’t expect big results.”

Pengabdian

Kita sering menyebut Tridharma dengan bangga, tapi dalam praktiknya, pengabdian masih sering diperlakukan sebagai pelengkap. Banyak program berhenti di tataran kegiatan: pelatihan, laporan, dokumentasi, tanpa napas keberlanjutan. Padahal, di situlah seharusnya ilmu diuji, bukan di ruang seminar atau jurnal. Pengabdian adalah cara universitas membuktikan bahwa pengetahuan yang lahir di kampus bisa benar-benar mengubah hidup masyarakat, bukan hanya menambah sitasi.

Pengabdian masa kini perlu bergeser dari sekadar berbagi ilmu menjadi proses membangun nilai bersama. Ia harus menjadi living lab; ruang nyata di mana teori diuji oleh praktik, dan praktik memperkaya teori. Di sana mahasiswa belajar empati dan relevansi, dosen menemukan kembali makna keberilmuannya, dan masyarakat ikut menumbuhkan ekonomi serta martabatnya sendiri. Inilah bentuk nyata integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang hidup, saling menguatkan, dan berdampak.

Sudah saatnya pengabdian dilihat bukan sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai poros dari seluruh Tridharma. Tanpa pengabdian yang bermakna, riset kehilangan valuenya dan pendidikan kehilangan jiwanya. Pengabdian sesungguhnya bukan tentang berapa banyak program dilakukan, tetapi seberapa dalam universitas menjejak di kehidupan masyarakat jadi sumber perubahan, pemberdayaan, dan pengetahuan yang benar-benar membawa masyarakat menjadi lebih baik.

Terimakasih @lppmunib Universitas Bengkulu @univterbuka

Inovasi bukan soal seberapa cepat kamu membangun, tapi seberapa cepat kamu belajar

Inovasi bukan soal seberapa cepat kamu membangun, tapi seberapa cepat kamu belajar.

Banyak tim terjebak ingin hasil sempurna, padahal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menguji, mengamati, dan mengulang hingga memahami apa yang benar-benar pengguna butuhkan.

Mulailah dengan prototype sederhana, amati bagaimana orang berinteraksi, dan terus lakukan iterasi dari temuan kecil. Dari iterasi kita bisa menemukan kelemahan, memperbaiki asumsi, dan menangkap peluang baru yang muncul dari proses iterasi sehingga inovasi lebih relevan dan efektif.

🔗Pelajari selengkapnya di
ebook.designthinkingacademy.id

Agile, Eksploratif, dan Punya Naluri Bisnis

Agile, Eksploratif, dan Punya Naluri Bisnis

Budaya kerja yang agile dan eksploratif lahir dari kesadaran bahwa perubahan bukan ancaman, tapi ruang untuk belajar dan tumbuh. Di tempat kerja yang agile, keputusan dibuat bukan karena tekanan atasan, tapi karena setiap orang paham kenapa sesuatu perlu dilakukan.

Timnya bergerak cepat karena ada rasa percaya, bukan rasa takut. Mereka berani mencoba hal baru, belajar dari kesalahan, dan terus memperbaiki diri. Ketangkasan seperti ini bukan cuma tentang bisa menyesuaikan diri, tapi juga tentang mampu membaca situasi, memahami arah perubahan, dan menyelaraskan langkah dengan tujuan besar organisasi.

Namun, kelincahan tanpa clarity hanya melahirkan kebingungan. Karena itu, agility perlu dipadukan dengan business acumen, kecerdasan untuk melihat hubungan antara strategi, operasional, dan nilai bisnis. Business acumen itu bukan sekadar kemampuan menghitung untung rugi, tapi naluri untuk menilai mana ide yang layak dikejar dan mana yang hanya menarik di permukaan. Ia mengajarkan fokus, keberanian memilih prioritas, dan kepekaan membaca dampak setiap keputusan. Setiap eksperimen tidak hanya kreatif, tapi juga relevan, realistis, dan membawa nilai nyata bagi pengguna maupun ekosistem organisasi.

Pada akhirnya, budaya kerja yang agile, eksploratif, dan berwawasan bisnis akan melahirkan tim yang gesit bergerak tapi tetap berpikir dalam. Mereka berani mencoba, rendah hati untuk belajar, dan bijak dalam menilai hasil.

Jika agility adalah cara kita melangkah, eksplorasi adalah cara kita menemukan jalannya, maka business acumen itu kompas yang memastikan setiap langkah membawa manfaat nyata. Organisasi perlahan menemukan kematangannya: bukan sekadar cepat berubah, tapi juga cerdas menciptakan nilai dan memastikan dampaknya terus berlanjut. 🚀

Pragmatisme

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, sikap pragmatis sering dianggap tanda kecerdasan adaptif, kemampuan menyesuaikan diri dan bertindak efisien. Namun dalam Islam, pragmatisme harus berakar pada nilai moral & spiritual.

Seorang tidak hanya bertanya “apa yang berhasil?”, tetapi juga “apa yang benar?”. Inilah yang disebut hikmah amaliyah; kebijaksanaan praktis yang berpijak pada wahyu.

Rasulullah ﷺ mencontohkannya dalam Perjanjian Hudaibiyah: keputusan yang tampak merugikan justru menjadi jalan bagi kemenangan dakwah.

Pragmatisme Barat, seperti yang dikemukakan William James dan John Dewey, menilai kebenaran dari sejauh mana sesuatu “berfungsi.” Prinsip truth is what works menempatkan manusia sebagai pusat nilai; menganggap benar apa pun yang berhasil.

Islam menolak pandangan ini karena kebenaran (al-haqq) bersifat tetap & bersumber dari Allah, sedangkan keberhasilan (al-falah) tidak hanya diukur dari capaian duniawi, tetapi juga dari kesesuaian dengan nilai Ilahi. Keberhasilan sejati, bukan sekadar hasil cepat, tetapi kemajuan yang berpijak pada keimanan, kesabaran & integritas.

Refleksi ini mengajak kita menata ulang makna “pragmatis.” Islam tidak menolak efisiensi atau strategi, tetapi menegaskan bahwa semua harus dijalankan dalam kerangka keadilan dan keberkahan. Tindakan benar adalah yang membawa manfaat tanpa melanggar prinsip moral.

Menjadi pragmatis yang beriman berarti membaca kenyataan dengan cerdas tanpa kehilangan arah. Sebab kecepatan tanpa nilai bukanlah kemajuan, dan efisiensi tanpa kebenaran bukanlah keberhasilan.

Dalam pandangan tauhid, keberhasilan sejati adalah ketika manfaat dunia berpadu dengan ridha Allah, hasil yang tidak hanya berguna, tetapi juga mendatangkan keberkahan.

Keberhasilan demikian bukan semata diukur oleh capaian materi, tapi oleh sejauh mana hasil itu menghadirkan kebaikan bagi sesama & menumbuhkan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta. Dalam kerangka ini, setiap usaha manusia menjadi bentuk ibadah yang bukan sekadar produktif, tetapi juga menumbuhkan nilai, keadilan & rahmat. Puncak keberhasilan bukan pada apa yang dimiliki, tapi pada apa yang dibagikan & seberapa tulus ikhtiar itu mengundang ridha-Nya.

Subang Ngabret BP4D Naik Kelas

“Subang Ngabret BP4D Naik Kelas – Wujudkan Perencanaan Berkualitas” tertulis pada spanduk acara hari ini, setiap kata saya coba cermati, dan ternyata ini keren!

Di ketinggian Gunung Papandayan sore ini, kami berkumpul menguatkan tekad, menyatukan langkah para perencana pembangunan Subang. Di udara sejuk dan sunyi yang menenangkan, kami belajar kembali arti bergerak bersama: bahwa perencanaan bukan sekadar menyusun dokumen, tetapi menata masa depan. Bukan sekadar memenuhi target, tapi memastikan setiap rencana benar-benar membawa manfaat bagi banyak orang.

Ngabret berarti bergerak eksponensial, melipatgandakan dampak melalui semangat, arah, dan kolaborasi. Kecepatan sejati tidak lahir dari tekanan, tapi dari kesadaran bersama akan tujuan yang sama. Ketika setiap orang memahami perannya, energi itu menyatu, menjadi kekuatan kolektif yang mendorong perubahan.

Naik kelas adalah keberanian untuk berpindah kuadran dalam matrix inovasi, dari memperbaiki sistem lama menuju menciptakan nilai baru. Di titik ini, perencanaan bukan lagi sekadar pekerjaan, melainkan ruang tumbuh bersama. BP4D yang naik kelas bukan hanya lebih cepat, tapi juga lebih relevan, adaptif, dan berdampak.

Dan berkualitas bukan hanya tentang hasil yang rapi atau sesuai standar, tapi tentang manfaat yang nyata. Kualitas sesungguhnya terasa ketika rencana menjelma perubahan, data menjadi arah, dan keputusan membawa kebaikan. Itulah perjalanan dari output ke outcome, dan akhirnya menuju impact, dampak yang mengubah kehidupan masyarakat.

Semua itu berawal dari perubahan cara berpikir. Dari compliance menuju co-creation, dari bekerja sendiri menuju co-innovation. Ketika kolaborasi lahir dari empati dan dijalankan dengan integritas, maka network effect terbentuk; menguatkan sistem dari dalam. Sebab tujuan akhir dari setiap ikhtiar bukan hanya keberhasilan, tetapi kebermanfaatan. Dan bila semua dilakukan dengan kejujuran dan ketulusan, maka hadir keberkahan; koefisien beta yang melipatgandakan setiap usaha menjadi kebaikan yang meluas dan bermakna.

Selamat meluaskan dampak @bp4dsubangofficial

PLN Nusantara Power Services

Coaching berbulan-bulan, berulang-ulang, akhirnya berbuah manis. Tujuh tim berhasil mendapatkan golden ticket dan tiga di antaranya keluar sebagai juara. Sebuah kebanggaan mendampingi para inovator luar biasa ini, bukan hanya karena hasilnya, tetapi karena prosesnya. Setiap sesi adalah perjalanan panjang membentuk cara berpikir, mengasah empati terhadap pengguna, dan memupuk keberanian untuk mencoba lagi setiap kali gagal.

Sejak awal, tujuan utamanya bukan hanya memenangkan kompetisi, tapi menanamkan mindset bahwa inovasi sejati selalu berangkat dari kebutuhan pengguna. Inovasi yang berorientasi pada pengguna akan terus hidup, beregenerasi, dan menciptakan dampak jangka panjang. Karena itu, proses coaching difokuskan pada penguasaan kerangka berpikir inovatif dan kemampuan replikasi, agar inovasi tidak berhenti di satu proyek, tapi terus menular dan berkembang.

Selamat kepada seluruh tim PLN Nusantara Power Services yang telah membuktikan bahwa keberhasilan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan inovasi yang lebih besar. Inovasi bukan hanya tentang produk, tapi juga model bisnis dan ekosistem yang membuatnya tumbuh eksponensial. Semoga kemenangan ini menjadi titik awal untuk menyalakan lebih banyak nyala inovasi di seluruh Indonesia.

Selamat melanjutkan karya nyatanya @pln_npservices

Inovasi

Inovasi bukan sekadar tentang melahirkan hal baru, melainkan tentang menghadirkan makna yang lebih dalam bagi kehidupan. Di tengah hiruk-pikuk ide dan teknologi, banyak organisasi lupa bahwa inti inovasi bukanlah kebaruan, melainkan keberpihakan pada manusia. Inovasi yang bermakna selalu dimulai dari keberanian membaca realitas, menafsirkan keresahan, dan menyalakan perubahan. Dari sinilah tiga poros inovasi lahir: Problem, Opportunity, dan Progress—tiga langkah yang saling menaut, membentuk perjalanan dari empati menuju dampak.

Segalanya bermula dari Problem. Di titik ini, kita belajar mendengar kembali suara yang sering diabaikan: kegelisahan pengguna, hambatan proses, atau ketimpangan sistem yang membuat hidup terasa tidak adil. Rasa tidak nyaman inilah yang menjadi bahan bakar empati. Namun, berhenti di sini hanya akan membuat inovasi terjebak dalam siklus perbaikan tanpa arah yang jelas, memoles gejala tanpa menyentuh akar. Maka langkah berikutnya adalah menemukan Opportunity, yaitu kemampuan untuk melihat sisi terang di balik masalah: kesempatan untuk membangun makna baru, mencipta nilai, dan menata ulang sistem agar lebih manusiawi.

Dari peluang inilah muncul dorongan untuk bergerak menuju Progress. Kemajuan menjadi wujud nyata dari keberhasilan inovasi, saat ide tidak hanya indah di atas kertas, tetapi hidup dalam praktik dan memberi manfaat nyata. Progress bukan sekadar soal hasil, melainkan tentang keberanian mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara berkolaborasi. Ketika empati menjelma aksi dan aksi menghadirkan perubahan yang dirasakan, di situlah inovasi menemukan maknanya.

Akhirnya, inovasi bukan lagi proyek sesaat, tetapi perjalanan panjang memahami manusia dan memperbaiki dunia bersama. Ia menuntut kita untuk terus bergerak; dari masalah menuju peluang, dari peluang menuju kemajuan, dan dari kemajuan menuju keberlanjutan. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah ide layak disebut inovasi bukan seberapa baru bentuknya, tetapi seberapa dalam ia menyentuh kehidupan dan meninggalkan jejak perubahan.

“Innovation is not a project to finish , it’s a lifelong journey of understanding people and improving the world together”