When discussion feels too smooth, something important is being ignored.

Sering kali diskusi tim terasa lancar justru karena semuanya terlalu cepat sepakat. Semua kursi terisi, semua orang bicara, dan keputusan kelihatan rapi. Tapi di situlah jebakannya. Tanpa jeda untuk bertanya “siapa yang belum kita dengar?”, diskusi gampang jatuh ke pola lama, mengulang asumsi, merasa aman karena ramai yang setuju, dan lupa melihat ke luar kepala sendiri. Kursi kosong hadir bukan karena kurang orang, tapi sebagai pengingat bahwa selalu ada sudut pandang lain di luar ruangan itu.

Coba deh kamu taruh satu kursi kosong tiap kamu diskusi bareng. Kelihatannya sepele, tapi ini cara paling sederhana buat ngerem diskusi sebentar. Bukan buat memperlambat, tapi buat ganti mode berpikir. Dari yang buru-buru cari jawaban, jadi mau buka kemungkinan lain dulu. Jeda kecil ini memaksa kita membayangkan POV yang nggak biasa: pelanggan paling kecewa, orang yang terdampak tapi nggak duduk di meja, atau masa depan yang belum kejadian.

Tanpa kursi kosong, diskusi kelompok gampang berubah jadi saling menguatkan pendapat. Bukan karena idenya paling benar, tapi karena semua orang mikirnya mirip. Pendapat yang beda sering tenggelam atau nggak sempat muncul. Kursi kosong jadi wakil suara yang nggak hadir, yang minor, yang lemah, atau yang nggak populer. Dan sering kali, justru dari suara-suara inilah blind spot paling berbahaya mulai kelihatan.

Ujung-ujungnya, kursi kosong bukan soal furnitur di ruang rapat, tapi soal sikap berpikir. Tim yang mau nyisain kursi kosong adalah tim yang sadar bisa salah. Dengan ngasih ruang buat jeda dan perspektif lain, diskusi jadi lebih jujur, keputusan lebih matang, dan risiko salah arah bisa ditekan sejak awal. Kadang yang kita butuhin bukan tambahan orang di ruangan, tapi keberanian buat berhenti sebentar dan melihat dari sudut yang belum pernah kita pakai.

When discussion feels too smooth, something important is being ignored.

The Maker Movement Manifesto

Ada sepuluh manifesto dalam The Maker Movement Manifesto yang pada dasarnya ingin mengingatkan satu hal sederhana: manusia bukan cuma diciptakan untuk mengonsumsi, tapi untuk membuat. Manifesto Make menjadi fondasinya, bahwa pemahaman lahir dari mencoba, bukan sekadar berpikir atau berdiskusi. Dari sini Learn, Tool Up, dan Play mengalir dengan natural: belajar itu harus lewat tangan yang bekerja, alat yang dipakai, dan ruang bermain yang aman untuk salah. Gagal kecil bukan masalah, justru tanda proses belajar sedang berlangsung.

Namun making tidak pernah berhenti di level individu. Karena itu manifesto Share dan Give menekankan pentingnya berbagi. Banyak ide tidak pernah tumbuh bukan karena kurang cerdas, tetapi karena terlalu disimpan. Dengan berbagi pengetahuan, waktu, dan bantuan, nilai justru bergerak dan berlipat. Di Maker Movement, kontribusi sering kali datang lebih dulu sebelum transaksi, dan dari situlah kepercayaan terbentuk.

Saat making dan berbagi mulai hidup, keterlibatan menjadi kunci. Manifesto Participate dan Support mengingatkan bahwa inovasi bukan kerja satu orang. Banyak inisiatif berhenti di tengah jalan bukan karena idenya buruk, tetapi karena tidak ada ekosistem yang saling menopang. Maker Movement menolak kamu cuma ada di posisi penonton; setiap orang diajak hadir, terlibat, dan ikut menjaga agar proses terus berjalan bareng!

Semua manifesto itu akhirnya diarahkan pada Change dan Impact. Karena perubahan saja tidak cukup, dan produk saja tidak otomatis berarti. Ukuran akhirnya sederhana tapi manantang: apakah yang kita buat benar-benar membuat hidup orang lain lebih baik dan manusia jadi lebih berdaya. Di titik ini, Maker Movement tidak lagi sekadar gerakan kreatif, tapi menjadi sikap hidup yang sadar akan tujuan besarnya & tanggung jawab yang melekat padanya.

Making is not the last step of thinking, it is thinking

Pecel lele sering terasa lebih nikmat ketika dimakan langsung di warung dibandingkan dibawa pulang

Pecel lele sering terasa lebih nikmat ketika dimakan langsung di warung dibandingkan dibawa pulang. Perbedaan ini bukan semata-mata disebabkan oleh rasa makanan, melainkan oleh pengalaman yang menyertainya. Warung pecel lele pada dasarnya tidak hanya menjual produk berupa lele goreng dan sambal, tetapi juga menjual suasana, ritme, dan momen singkat untuk berhenti dari aktivitas sehari-hari.

Jika dilihat melalui pendekatan The Jobs To Be Done (JTBD), pelanggan datang bukan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Job yang ingin diselesaikan lebih dalam, yaitu menutup hari dengan cara yang sederhana dan tidak menuntut peran apa pun. Duduk di bangku plastik, menunggu pesanan sambil mendengar suara wajan, dan makan dalam suasana santai membantu pelanggan melepaskan kelelahan mental yang tidak bisa diselesaikan oleh makanan yang dibungkus.

Secara experience, warung pecel lele berfungsi sebagai ruang antara, bukan rumah dan bukan tempat kerja. Di ruang ini, identitas sosial menjadi cair. Tidak ada ekspektasi penampilan, tidak ada target, dan tidak ada tuntutan produktivitas. Pengalaman inilah yang membuat makan di tempat terasa lebih utuh, karena pelanggan tidak hanya mengonsumsi makanan, tetapi juga menikmati jeda emosional yang jarang tersedia di tempat lain.

Ketika pecel lele dibawa pulang, yang sampai hanyalah produknya, sementara nilai utamanya tertinggal di warung. Padahal, nilai tersebut terletak pada kombinasi suasana, ritual, dan interaksi sederhana yang membentuk pengalaman makan. Dari sini terlihat bahwa daya tarik utama warung pecel lele bukan pada produknya semata, melainkan pada experience yang tidak bisa dibungkus, dan itulah yang membuat makan di tempat terasa jauh lebih nikmat.

Street food doesn’t sell dishes.
It sells moments you didn’t know you needed

Janji Jiwa : When experience is real, marketing becomes unnecessary.

Janji Jiwa:
When experience is real, marketing becomes unnecessary.

Kalau diperhatikan, gerai Janji Jiwa Buahbatu ini ngajarin kita satu hal penting: etalase itu nggak selalu harus produk. Dari luar, yang kelihatan bukan menu, bukan promo, tapi orang-orang yang lagi duduk, kerja, ngobrol, dan kelihatan nyaman. Tanpa sadar, itu jadi pesan paling kuat: “tempat ini dipakai orang beneran.” Dan otak kita memang lebih percaya bukti sosial dibanding klaim.

Secara konsep “The Jobs To Be Done”, kopi di sini cuma alat. Job utamanya bukan “menghilangkan haus” atau “ngopi enak”, tapi menyediakan tempat buat hadir. Hadir buat kerja, buat istirahat, buat nongkrong tanpa harus ribet. Orang yang lewat nggak mikir rasa kopinya dulu, tapi mikir, “kayaknya enak ya kalau duduk di situ.” Itu job emosional dan sosial yang sering dilupain banyak bisnis.

Tapi strategi seperti ini bukan tanpa risiko. Begitu yang dipajang adalah manusia, brand nggak bisa lagi bersembunyi. Kalau tempatnya panas, berisik, atau bikin nggak betah, semua itu kelihatan langsung dari luar. Etalase manusia jadi sangat jujur. Salah dikit, sinyalnya langsung negatif. Jadi ini bukan sekadar trik marketing, tapi konsekuensi dari pengalaman yang harus beneran dijaga.

Pelajaran pentingnya sederhana tapi dalem: kalau experience kamu kuat, kamu nggak perlu teriak-teriak jualan. Orang lain yang lagi menikmati produkmu akan jadi “iklan” paling meyakinkan. Tapi ingat, ini cuma works kalau pengalaman di dalamnya konsisten. Karena saat pengalaman dijadikan etalase, yang dijual bukan janji, tapi kenyataan.

We don’t buy coffee, we buy a place to show up

Fore x Robries

Kita sudah lama nyaman dengan kebiasaan yang sama: nikmatin hasilnya, tutup mata soal sisanya. Datang ke gerai kopi, minum, buang gelas, beres. Urusan dianggap selesai. Padahal, kebiasaan ini bisa jalan karena dampaknya dipindahin ke tempat yang ga kita lihat. Bukan hilang, cuma disingkirkan dari ceritanya.

Di dunia kopi, brand tumbuh, transaksi naik, sampah gelas plastik mengalir deras. Fore Coffee juga gitu, mereka berkembang cepat, melayani banyak orang &otomatis ninggalin limbah dalam jumlah besar. Masalahnya bukan soal ini baik buruknya, tapi siapa yang akhirnya ngurus dampaknya & sejauh apa bisnis mau mengakuinya.

Di titik ini, @fore.coffee milih jalan pilih cara yang nggak banyak diambil brand lain. Alih-alih main aman lewat kampanye hijau yang rapi dan berbaui greenwashing, mereka bawa dampaknya balik lagi langsung ke depan mata. Gelas plastik bekas nggak disembunyiin di balik proses yang nggak kelihatan, tapi muncul lagi jadi furnitur dan elemen di gerai. Langkah ini jelas berisiko. Begitu dampak ditampilin, nggak ada lagi ruang buat pura-pura bersih. Di situlah kejujuran bener-bener diuji.

Tentu, langkah kayak gini nggak mungkin jalan sendirian. Di sinilah @robries pegang peran penting. Mereka masuk ke bagian yang jarang ada yang mau pegang: limbah yang kotor, proses yang ribet, dan hasil yang harus bener-bener kepakai. Nggak ada janji nol sampah, nggak ada klaim heroik. Yang ada kerja nyata. Banyak inisiatif “hijau” tumbang bukan karena idenya jelek, tapi karena nggak ada yang mau ngurus bagian paling nggak enak ini.

Makanya, soal greenwashing nggak perlu dibela panjang-panjang. Cukup ditunjukin lewat sistem. Usaha yang mengusung Greenwashing biasanya sibuk ngurus kesan, tapi yang transformasif, dia sibuk ngurus dampak nyatanya. Tentu, Fore tetap adalah bisnis kopi yang pengen tumbuh & Robries tetap bergulat sama limbah yang nyata. Tapi waktu dampak ditampilkan langsung dan bebannya dibagi sama partner yang tepat, bedanya kelihatan jelas.

Kalau cuma cerita hijau, semua bisa. Tapi bisnis yang bertanggung jawab kelihatan dari siapa yang mau diajak kerja bareng buat ngurus dampak negatif bisnis seperti sampah plastik yang dihasilkannya tiap hari.

Revenue tanpa Produksi: Menambah Pendapatan Tanpa Menambah Beban

Revenue tanpa Produksi:
Menambah Pendapatan Tanpa Menambah Beban

Banyak usaha kecil diajarkan untuk tumbuh dengan menambah produksi, jam kerja, atau lini produk. Namun strategi ini kerap berujung pada kelelahan dan ketidakstabilan. Warung Surabi Teh Pupun, Warung langganan kami di Cileunyi Kabupaten Bandung ini menunjukkan alternatif yang jarang dibahas: meningkatkan pendapatan tanpa menambah produksi.

Kuncinya ada pada kemampuan membaca momen yang selama ini dianggap tidak produktif. Dalam usaha kuliner kecil, waktu menunggu adalah keniscayaan. Alih-alih dipandang sebagai kelemahan layanan, Teh Pupun memaknainya sebagai ruang nilai. Camilan titipan tetangga juga hadir untuk mengisi jeda tersebut, mengubah waktu tunggu menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bernilai ekonomi. Tak menambah waktu kerja dan layanan, tapi revenuenya tentu membesar, dan stabil dalam jangka panjang. Sejahtera? tentu!

Yang membedakan model membawa pada kesejahteran ini adalah pilihan sadar untuk tidak memproduksi semuanya sendiri. Teh Pupun tidak menambah beban dapur, tenaga, atau kompleksitas. Ia mengambil peran sebagai penghubung antara pelanggan dan produk komunitas. Risiko produksi dan modal berada di pemasok, sementara pendapatan mengalir melalui mekanisme titipan yang sederhana dan fleksibel.

Transaksi pun terjadi secara alami. Pelanggan membeli bukan karena promosi agresif, tetapi karena konteks yang relevan. Nilai muncul dari kesesuaian situasi, kebutuhan, dan penawaran, ukan dari dorongan penjualan.

Lebih dari itu, pendekatan ini membentuk ekosistem kecil yang saling menguatkan: tetangga mendapat akses pasar, warung menambah pendapatan, dan pelanggan menikmati pengalaman yang lebih nyaman. Prinsip “revenue tanpa produksi” akhirnya bukan sekadar strategi bisnis, melainkan cara pandang, bahwa keberlanjutan usaha kecil sering lahir dari kecermatan mengelola waktu, relasi, dan konteks, bukan dari ambisi memperbesar skala.

More revenue doesn’t have to mean more work💙

Beneran Mau Pakai OKRs?

Beneran Mau Pakai OKRs?

Ada satu fase ketika mulai merasa tak nyaman dengan cara kami bekerja. Di atas kertas, semuanya keliatannya bergerak: rapat jalan, inisiatif nambah, target makin jelas. Namun di balik itu, kelelahan tim terus meninggi, sementara rasa kemajuan tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan. Dari situ kami mulai bertanya, bukan soal kurang kerjaan, tapi soal tujuan. Sibuk tapi tidak benar-benar fokus. Di titik itulah wacana penggunaan kerangka tujuan mulai muncul.

Pada awalnya, pendekatan ini terasa masuk akal. Kami perlu fokus & kerangka tersebut menawarkan clarity. Tapi pas dijalankan, muncul kegelisahan lain. Target memang tertulis rapi & progres rutin dilaporkan, tetapi pola kerja nyaris tidak berubah. Diskusi tetap reaktif, prioritas mudah bergese & keputusan sering diambil terlalu hati-hati. Perlahan kami sadar, persoalannya bukan pada kerangkanya, melainkan pada kesiapan kami sendiri. Cara berpikir tim belum cukup matang, budaya belajarnya belum kuat, dan kami belum cukup lincah untuk langsung bertumpu pada satu pendekatan strategis.

Kesadaran ini membawa kami pada pilihan penting: berhenti berharap ada alat yang bisa “menyelamatkan” keadaan & mulai bereksperimen secara lebih sadar. Karena itu, kami mencoba menggabungkan kerangka tujuan dengan disiplin eksekusi yang lebih membumi. Yang pertama kami gunakan untuk menyepakati hal-hal yang benar-benar penting, sementara yang kedua menjadi penyangga agar fokus tersebut tidak kembali tenggelam dalam kesibukan harian. Fokus mingguan, ukuran yang bisa dikendalikan & akuntabilitas sederhana perlahan membentuk ritme baru, tidak selalu nyaman, tetapi lebih nyata.

Dari proses ini, kami belajar bahwa perubahan jarang berjalan lurus. Yang paling menentukan bukan pilih metode apa? Tapi jujur membaca kesiapan diri & tim. Pendekatan strategis yang terasa terlalu “tinggi” untuk kondisi kami saat itu, sementara disiplin eksekusi membantu membangun kedewasaan berpikir langkah demi langkah. Agile pun akhirnya tidak kami kejar sebagai label, tapi sebagai kebiasaan yang tumbuh perlahan: belajar fokus, konsisten & jujur sebelum melangkah lebih jauh.

Belajar OKRs & 4DX bareng @agilitytransformation

Honesty may feel disruptive, but prolonged silence is far more costly

Di banyak organisasi dan bisnis, kritik jujur sering dianggap bikin ribut. Begitu nadanya keras, niat baiknya langsung dipertanyakan. Pola ini mirip dengan cara sebagian orang menanggapi kritik Pandji Pragiwaksono di Mens Rea: yang dibahas bukan substansinya, tapi “kok ngomongnya begitu”. Padahal, di dunia bisnis, masalah jarang datang dengan bahasa sopan. Biasanya justru muncul sebagai sinyal tidak nyaman, penjualan mulai melambat, pelanggan makin banyak komplain, atau tim internal mulai gelisah.

Masalahnya, banyak organisasi belum punya mekanisme yang cukup dewasa untuk menampung radical candor. Ketika ada orang bicara blak-blakan, fokus cepat bergeser dari “apa yang perlu dibenahi” ke “siapa yang berani ngomong”. Label pun muncul: tidak solutif, kurang loyal, atau tidak sejalan dengan budaya. Akibatnya, organisasi memang terlihat tenang di permukaan, tapi sebenarnya kehilangan kejujuran. Yang rusak ditutup, yang keliru dibiarkan, dan keputusan terus diulang tanpa koreksi berarti.

Di bisnis, harga dari budaya anti-kritik ini mahal. Produk yang jelas bermasalah dipertahankan terlalu lama, strategi yang keliru terus dijalankan, dan orang-orang terbaik memilih diam atau pergi. Radical candor seharusnya diperlakukan seperti data lapangan: belum tentu langsung benar, tapi wajib diuji dan dipikirkan. Tugas pemimpin bukan meredam suara, tapi mengubah ketidaknyamanan menjadi bahan analisis dan keputusan yang lebih masuk akal.

Pada akhirnya, organisasi yang sehat bukan yang paling minim konflik, tapi yang paling cepat belajar. Kritik memang mengganggu, tapi sering kali justru gangguan itulah yang menyelamatkan bisnis sebelum terlambat. Organisasi yang dewasa tidak mematikan suara jujur, mereka mengolahnya menjadikan ia lebih dekat dengan tujuan.

-Honesty may feel disruptive, but prolonged silence is far more costly-

Belajar Dari Kasus Nadiem Makarim

Kasus yang menyeret nama Nadiem Makarim kerap dibingkai melalui narasi bahwa ia telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi jutaan pengemudi ojek daring. Dari sini muncul tuntutan moral agar para pengemudi “berterima kasih” atau bahkan membela. Masalahnya, logika “sudah memberikan pekerjaan” ini juga digunakan pemerintah. Ia bukan kasus tunggal, melainkan cerminan dari cara pandang negara yang keliru: ketika penciptaan pekerjaan dianggap telah memenuhi mandat kesejahteraan.

Fakta bahwa jutaan pengemudi ojek daring bekerja penuh waktu namun tetap hidup dalam kerentanan menunjukkan kegagalan kebijakan publik, bukan kegagalan individu atau pelaku usaha. Pendapatan yang fluktuatif, minim perlindungan sosial, risiko keselamatan tinggi, serta keterbatasan akses kesehatan dan pendidikan memperlihatkan bahwa negara membiarkan pekerjaan tumbuh tanpa sistem penyangga kesejahteraan. Dalam kondisi ini, beban kesejahteraan tidak dapat dialihkan kepada pengusaha yang menciptakan kerja, apalagi dijadikan sasaran atas masalah yang bersumber dari kegagalan sistemik.

Masalah utamanya terletak pada kegagalan pemerintah menjalankan fungsi negara secara utuh. Negara lemah sebagai regulator pelindung pekerja rentan, tidak efektif sebagai penyedia layanan publik dasar, dan tidak konsisten sebagai penjamin mobilitas sosial. Kebijakan ketenagakerjaan berjalan terpisah dari kebijakan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan jaminan sosial. Akibatnya, pekerjaan diperlakukan sebagai tujuan akhir pembangunan, bukan sebagai sarana menuju kesejahteraan.

Ketika keberhasilan pembangunan terus diukur terutama dari angka serapan tenaga kerja, negara sedang melakukan penyederhanaan kebijakan yang berbahaya. Tanggung jawab kesejahteraan dialihkan kepada individu dan pelaku usaha: selama pekerjaan tercipta, negara merasa tugasnya selesai. Kasus Nadiem seharusnya menjadi cermin untuk mengoreksi logika ini. Kritik yang relevan bukan pada siapa yang menciptakan pekerjaan, melainkan pada negara yang gagal memastikan bahwa bekerja benar-benar membawa warganya hidup lebih aman, lebih sehat, dan lebih bermartabat.

Indonesia dinobatkan sebagai negara paling optimis menyambut 2026

Indonesia dinobatkan sebagai negara paling optimis menyambut 2026. Kabar ini terdengar menggembirakan, tetapi optimisme bukan bukti kemajuan. Ia baru menjadi kekuatan jika ditopang oleh pembacaan realitas yang jujur: apa yang benar-benar membaik, untuk siapa, di wilayah mana, dan dengan dampak seperti apa. Tanpa itu, optimisme hanya rasa percaya diri kolektif yang belum tentu berakar pada perubahan nyata.

Masalahnya, optimisme sering bergerak lebih cepat daripada data. Program terasa “berhasil” sebelum sempat diuji, narasi kemajuan mengalahkan indikator, dan kritik dianggap mengganggu suasana. Di titik ini, optimisme berubah fungsi: bukan lagi energi untuk berubah, tetapi pelindung dari koreksi. Ia menenangkan emosi, namun melumpuhkan pembelajaran, membuat kebijakan terasa aman meski dampaknya tidak pernah benar-benar dibuktikan.

Optimisme yang dewasa seharusnya berani diuji, bukan sekadar dirayakan. Ia harus siap diukur, dikoreksi, bahkan dihentikan jika tidak bekerja. Bangsa yang matang bukan bangsa yang paling optimis, melainkan yang berani menantang optimismenya sendiri dengan data dan evaluasi. Menyambut 2026 dengan harapan itu penting; menyambutnya dengan keberanian membuktikan harapan, itulah yang menentukan masa depan.

Karena pada akhirnya, optimisme tanpa bukti hanya menunda kekecewaan. Data yang diabaikan hari ini akan berubah menjadi krisis besok. Jika optimisme tidak diuji, ia bukan tanda kemajuan, tapi alarm yang memang sengaja dimatikan.