Engineer Hebat Dimulai Dari Empati

Akhir pekan ini saya berkesempatan berbagi dengan teman-teman di Ikatan Mahasiswa Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung. Saya memulai dengan satu refleksi sederhana: sebagai engineer, kita dilatih sangat kuat untuk memecahkan persoalan teknis, tetapi sering kali tidak cukup dilatih untuk memahami manusia yang mengalami persoalan tersebut.

Di banyak proyek teknologi, kita berlomba membuat sistem yang semakin canggih, aplikasi yang semakin kompleks, atau algoritma yang semakin pintar. Namun pengalaman menunjukkan bahwa banyak solusi teknis yang akhirnya tidak digunakan. Bukan karena teknologinya buruk, tetapi karena kita tidak cukup memahami kehidupan penggunanya. Di situlah design thinking menjadi penting, sebuah cara berpikir yang mengajak kita untuk berhenti sejenak, melangkah mendekat, dan benar-benar memahami manusia sebelum merancang solusi.

Dalam diskusi dengan mahasiswa Telekomunikasi ITB, saya juga mengajak mereka membedakan antara invention dan innovation. Dunia engineering sangat kaya dengan invention, temuan baru, teknologi baru, atau sistem baru.

Namun sebuah temuan baru, baru bisa disebut inovasi ketika ia benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pengguna. Artinya, yang kita rancang bukan sekadar produk, tetapi experience yang dialami manusia. Ketika kita memahami aktivitas sehari-hari pengguna, memahami rasa frustrasi mereka, memahami tujuan hidup mereka, maka teknologi yang kita bangun tidak lagi terasa seperti alat yang dipaksakan, melainkan menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Pada akhirnya, design thinking bukan sekadar metode untuk membuat produk yang lebih baik. Ia adalah cara berpikir yang memperluas peran seorang engineer. Engineer masa depan tidak hanya membangun teknologi, tetapi merancang perubahan.

Teknologi hanyalah salah satu komponen dari solusi; yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi itu terhubung dengan manusia, proses bisnis, dan ekosistem yang lebih luas. Ketika cara berpikir ini tumbuh, maka inovasi tidak lagi hanya tentang membuat sesuatu yang baru, tetapi tentang menciptakan dampak yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Terimakasih kawan-kawan @imtsignumitb

Konten Edisi Ramadan

Konten Edisi Ramadan;

Setiap manusia mendambakan hidup yang penuh keberkahan: keluarga yang sakinah, anak yang saleh, rezeki yang menenangkan, dan umur yang bermanfaat. Itulah fitrah. Barokah berarti kebaikan yang banyak dan menetap, bukan kenikmatan sesaat yang cepat hilang. Ia seperti air yang tertampung dan memberi manfaat berkelanjutan. Dalam Islam, keberkahan mencakup dunia dan akhirat sekaligus: hidayah dan pahala, juga rezeki dan ketenangan. Namun semangat “ngalap berkah” bisa keliru jika tidak dibangun di atas tauhid yang benar.

Tabarruk adalah ibadah, bukan sekadar tradisi atau simbol. Karena itu, ia harus tunduk pada wahyu. Tidak semua tempat, benda, atau orang bisa dianggap membawa berkah tanpa dalil yang sahih. Caranya pun harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, dan keyakinannya harus lurus: yang memberi berkah hanyalah Allah. Menetapkan sesuatu sebagai sebab tanpa dasar syariat termasuk syirik kecil; meyakini benda memberi manfaat secara mandiri adalah syirik besar. Kekeliruan ini sering lahir bukan dari niat buruk, tetapi dari kurangnya ilmu.

Islam membedakan jelas antara yang disyariatkan dan yang dilarang. Mengusap Hajar Aswad atau berdoa di Multazam ada tuntunannya. Namun mengusap tembok, membawa pulang tanah sebagai jimat, atau mencari berkah dari benda tanpa dalil bukan ajaran Nabi ﷺ. Keberkahan pada zat tubuh adalah kekhususan beliau dan tidak diwariskan kepada siapa pun. Keberkahan ulama terletak pada ilmu dan keteladanannya, bukan pada fisiknya. Pada akhirnya, mencari keberkahan bukan tentang mendekati simbol, tetapi mendekat kepada Allah, Sang Pemberi Berkah. “Wal barokatu minallah”, keberkahan itu datangnya dari Allah.

Disarikan dari Kajian Ramadhan bersama
Ustadz @hamdialbakry

Berhenti Jadi Pahlawan. Bangun Sistemnya.

Berhenti Jadi Pahlawan. Bangun Sistemnya.

Coba jujur sebentar.
Pernah merasa bangga karena organisasi “nggak jalan” tanpa kita? Semua keputusan harus lewat kita. Semua masalah mentok kalau kita belum turun tangan. Rasanya enak, merasa penting, dibutuhkan.

Tapi mundur satu langkah:
itu bukan tanda organisasi yang kuat. Itu tanda organisasi yang rapuh. Berdiri di atas stamina satu orang. Begitu orang itu kelelahan atau sakit, semuanya goyang. Kalau keberlanjutan masih tergantung seberapa kuat kita begadang, yang kita bangun bukan organisasi, tapi ketergantungan.

Organisasi yang sehat bukan yang punya satu orang paling jago, tapi yang punya sistem paling jelas. Sistem bikin kerja nggak tergantung mood. Budaya bikin arah tetap konsisten meski orangnya berganti.

Dan soal ukuran sukses, jangan berhenti di “kaya” (angka tercapai) atau “sejahtera” (tim nyaman). Yang bermakna itu makmur: manfaatnya terasa sampai ke luar lingkaran kita. Orientasi angka bikin energi cepat habis. Orientasi kebermanfaatan bikin daya tahan jauh lebih panjang.

Masalahnya sering bukan di tim, tapi di ego kita. Merasa belum ada yang bisa kerja sebaik kita. Takut kualitas turun kalau dilepas. Padahal ujian kepemimpinan justru di situ: apakah organisasi tetap jalan tanpa kita ngurusin hal teknis setiap hari?

Cara berpikir, standar kerja, pola keputusan, harus ditulis, dibagikan, dilatihkan. Mau pakai AI atau SOP manual, yang penting nggak lagi cuma tersimpan di kepala kita.

Tes sederhana: kalau besok kita nggak aktif, apakah organisasi tetap hidup dengan derap langkah yang sama? Kalau belum, berarti kita baru berlari, belum membangun kendaraan. Dan kendaraan itulah yang bikin kebaikan terus bergerak, bahkan ketika giliran kita sudah selesai.

Ecosystem Connect 2026: Dari Berbagi Menuju Kolaborasi!

Ecosystem Connect 2026: Dari Berbagi Menuju Kolaborasi!🤩

6 Februari 2026 menjadi salah satu momentum bersama para mitra di Ecosystem Connect 2026 — ruang yang dihadirkan agar praktik baik menemukan tempatnya untuk dibagikan, dipelajari, dan dikembangkan, sehingga kebermanfaatan tidak berhenti di satu tempat.

Di sela-sela berbagi tersebut, percakapan-percakapan bermakna tumbuh secara terbuka dan setara. Pengalaman yang kemudian dipertemukan, dipertanyakan, dan saling diperkaya dengan kesamaan nilai dan semangat untuk terus berdampak.

Ecosystem Connect menjadi pengingat bahwa ketika pengalaman dibagikan secara terbuka, pembelajaran dapat tumbuh lebih luas, dan hubungan yang terbangun membuka peluang bagi langkah-langkah bersama ke depan.

Terima kasih kepada seluruh mitra yang telah menjadi bagian dari Ecosystem Connect 2026!🙌
Semoga ruang berbagi ini dapat terus hidup dan memberi manfaat dalam langkah-langkah berikutnya✨️

#EcosystemConnect2026
#TheLocalEnablers

Ramadhan Dimarkas

@thelocalenablers x @masjidallathiif@altf.club ]

Ngabuburit nggak cuma nunggu buka 😌
tapi juga waktunya upgrade cara tumbuh bareng 🌱

Bareng Pak @dwiindrapurnomo kita bakal ngobrol santai soal “Grow Together”
bahas gimana caranya organisasi bisa makin solid, nggak jalan sendiri-sendiri, dan kuat bareng sampai tujuan 🚀

Setiap Rabu Selama Ramadan
Jam 16:00-17:30 WIB
di @masjidallathiif Bandung

Bukan teori berat, tapi insight real yang relate sama dinamika tim & komunitas hari ini, karena organisasi kuat itu dibangun bareng, bukan sendirian

Gas ikut, biar ramadanmu makin produktif

Free terbuka buat siapa aja!

#Allathiif#RamadanDiMarkas#MakeIt Matter #TLE

Transformasi Dimulai dengan Pertanyaan yang Tepat

Transformasi Dimulai dengan Pertanyaan yang Tepat 🌟

Keberhasilan program sosial bukan hanya soal seberapa banyak yang dilakukan, tapi seberapa besar dampak nyata yang dihasilkan. Di Gathering Nasional Turun Tangan & Turun Tangan Festival 2025 lalu, kami menyelami esensi dari Theory of Change dan Design Thinking untuk memastikan setiap langkah program memberikan perubahan yang jelas.

Saat menyusun program, menjadi penting untuk kita berfokus pada:
🔎 Memetakan Akar Masalah
Tidak hanya melihat gejalanya, tetapi memahami masalah yang sesungguhnya.

💡 Mendesain Solusi yang Relevan
Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis pengguna.

🎯 Mengukur Dampak
Melalui Theory of Change, kami pastikan setiap program memiliki logika dampak yang terukur.

👉 Swipe untuk melihat bagaimana Anda dapat merancang masa depan yang berdampak dengan berpikir sistematis!

Kerja keras bukan jaminan lompatan kualitas

Kerja keras bukan jaminan lompatan kualitas

Tanpa sistem yang tepat, CSR bisa terjebak pada aktivisme yang sibuk tanpa dampak yang nyata.

Itulah titik awal dari Workshop Design Thinking yang kami fasilitasi bersama tim CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, di Bandung pada 4–5 Februari 2026 lalu.

Selama dua hari, kami bersama-sama:
🔍 Memetakan akar masalah implementasi CSR
🎯 Membangun logika dampak melalui Theory of Change
💡 Merancang inovasi sosial yang siap dikembangkan
🌱 Mempersiapkan fondasi menuju PROPER Hijau-Emas

CSR bukan tentang seberapa banyak program yang berjalan, tapi juga tentang seberapa jelas dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar kita.

Swipe untuk melihat perjalanan dua hari yang penuh insight ini. 👉

Seberapa penting Thought Leadership?

Seberapa penting Thought Leadership?

Di banyak organisasi hari ini, hampir semua hal diukur dengan angka. Target bulanan, KPI, skor kinerja, dan peringkat internal menjadi ukuran utama keberhasilan. Kalender penuh rapat evaluasi, layar dipenuhi dashboard, dan percakapan kerja didominasi capaian. Dalam sistem seperti ini, bekerja bukan lagi tentang memahami persoalan, melainkan tentang mengejar indikator. Ruang untuk berpikir menyempit, dan refleksi dianggap tidak produktif.

Tekanan target membuat organisasi hidup dalam mode darurat permanen. Setiap masalah harus segera ditutup, setiap deviasi harus cepat dirapikan, setiap kegagalan harus segera “dipoles” agar laporan tetap hijau. Keputusan diambil demi menyelamatkan angka, bukan memperbaiki sistem. Kita menyebutnya percepatan atau adaptasi, padahal sering kali itu hanya tambal sulam. Masalah diselesaikan di permukaan, lalu muncul kembali dalam bentuk lain.

Akibatnya, kapasitas manusianya kok terasa menurun? Orang tak lagi sempat belajar dari kesalahan, tidak punya ruang untuk merenung, dan jarang mengembangkan cara berpikir baru. Pelatihan cuma formalitas, evaluasi hanya jadi rutinitas, pembelajaran menjadi slogan. Organisasi tampak sibuk dan produktif, tetapi perlahan kehilangan kecerdasannya sendiri.

Di sinilah thought leadership menjadi penting. Thought leadership adalah keberanian menciptakan ruang berpikir di tengah tekanan kinerja. Ia hadir ketika seseorang berani berkata, “Kita perlu berhenti sebentar untuk jadi paham, bukan cuma lari dan mengejar.” Bukan untuk memperlambat, tetapi untuk memastikan kita berjalan dengan arah dan tetap benar. Tanpa itu, target hanya melahirkan kelelahan dan kebuntuan. Organisasi yang sehat bukan hanya yang mencapai angka, tetapi yang terus menumbuhkan kapasitas berpikir orang-orang di dalamnya.

Clear thinking is the rarest investment in modern organizations🙏

Most organizations don’t fail.They get comfortable.

Banyak orang menganggap inovasi telah selesai ketika sebuah program dijalankan atau produk diluncurkan. Padahal, justru pada titik itulah proses pembelajaran yang sesungguhnya dimulai. Output bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk memahami apakah sebuah gagasan benar-benar bermanfaat, dipahami oleh pengguna, dan mampu mengubah perilaku. Pendekatan design thinking menegaskan bahwa inovasi tumbuh melalui proses eksperimen, umpan balik, dan perbaikan berulang, bukan dari perencanaan yang dianggap sempurna sejak awal (Brown, 2009; Liedtka, 2015).

Melalui proses tersebut, output secara bertahap berkembang menjadi outcomes, yakni perubahan nyata dalam cara berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan. Pada tahap ini, ide diuji oleh realitas organisasi: sistem, sumber daya, budaya kerja, dan keberlanjutan operasional. Tidak sedikit inovasi berhenti di tengah jalan karena gagal terhubung dengan model bisnis dan sistem kerja yang sehat. Tanpa fondasi yang kuat, ide yang baik hanya akan menjadi proyek sesaat. Oleh karena itu, Osterwalder dan Pigneur (2010) menekankan pentingnya mengaitkan inovasi dengan penciptaan nilai yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, inovasi mencapai makna terdalamnya ketika mampu menghasilkan impact; perubahan yang melampaui batas satu program atau satu organisasi. Impact lahir ketika inovasi terhubung dengan ekosistem yang lebih luas: komunitas, mitra, pemerintah, dan dunia usaha. Perubahan yang bertahan lama hampir selalu bersifat kolaboratif, bukan hasil kerja individu semata (Moore, 1996; Kania & Kramer, 2011). Pada titik inilah inovasi berkontribusi membentuk better society: masyarakat yang tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga tumbuh, berdaya, dan berperan aktif dalam proses perubahan.

Most organizations don’t fail.
They get comfortable.🙌

Untuk Siapa Sebenarnya Pembangunan, Jika Warganya Jadi Miskin?

Melewati kawasan-kawasan yang tertata rapi di Bandung, Jakarta, hingga Tangerang, kita mudah merasa bahwa pembangunan telah berjalan ke arah yang benar. Jalan lebar, ruang publik nyaman, aktivitas ekonomi tampak hidup. Kita menikmatinya, seolah ikut merasakan kemajuan. Namun di balik itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah orang-orang yang hidup di sekitar kawasan tersebut benar-benar ikut maju, atau hanya ikut menyaksikan perubahan dari pinggir?

Banyak pembangunan dimulai dari ruang, dari fungsi lahan, nilai ekonomi, dan tampilan kawasan, dengan keyakinan bahwa manusia akan menyesuaikan diri. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Masyarakat hidup dengan keterbatasan akses, kapasitas, dan pilihan. Ketika pembangunan tidak berangkat dari realitas ini, kawasan bisa tumbuh rapi, tetapi kehidupan warganya tidak ikut menguat.

Pelan-pelan, jarak itu terasa. Peluang ekonomi baru hadir, tetapi tidak ramah bagi masyarakat lokal. Biaya hidup meningkat, ruang usaha menyempit, dan peran warga bergeser. Mereka tetap tinggal di tempat yang sama, namun tidak lagi menjadi bagian utama dari cerita kemajuan. Dalam situasi seperti ini, kemiskinan bukan kegagalan individu, melainkan hasil dari pembangunan yang tidak membaca kehidupan manusia secara utuh.

Karena itu, pembangunan kawasan seharusnya dipahami bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana. Ukuran keberhasilannya bukan pada seberapa rapi ruang ditata atau seberapa ramai aktivitas terlihat, tetapi pada apakah masyarakat memperoleh kapasitas baru, pilihan hidup yang lebih luas, dan posisi yang lebih bermartabat. Tanpa orientasi ini, pembangunan akan terus tampak berhasil, namun hanya sebagai pemandangan yang indah, bukan sebagai proses yang benar-benar memajukan kehidupan masyarakatnya.

Growth without inclusion turns progress into displacement