
Pecel lele sering terasa lebih nikmat ketika dimakan langsung di warung dibandingkan dibawa pulang. Perbedaan ini bukan semata-mata disebabkan oleh rasa makanan, melainkan oleh pengalaman yang menyertainya. Warung pecel lele pada dasarnya tidak hanya menjual produk berupa lele goreng dan sambal, tetapi juga menjual suasana, ritme, dan momen singkat untuk berhenti dari aktivitas sehari-hari.
Jika dilihat melalui pendekatan The Jobs To Be Done (JTBD), pelanggan datang bukan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Job yang ingin diselesaikan lebih dalam, yaitu menutup hari dengan cara yang sederhana dan tidak menuntut peran apa pun. Duduk di bangku plastik, menunggu pesanan sambil mendengar suara wajan, dan makan dalam suasana santai membantu pelanggan melepaskan kelelahan mental yang tidak bisa diselesaikan oleh makanan yang dibungkus.
Secara experience, warung pecel lele berfungsi sebagai ruang antara, bukan rumah dan bukan tempat kerja. Di ruang ini, identitas sosial menjadi cair. Tidak ada ekspektasi penampilan, tidak ada target, dan tidak ada tuntutan produktivitas. Pengalaman inilah yang membuat makan di tempat terasa lebih utuh, karena pelanggan tidak hanya mengonsumsi makanan, tetapi juga menikmati jeda emosional yang jarang tersedia di tempat lain.
Ketika pecel lele dibawa pulang, yang sampai hanyalah produknya, sementara nilai utamanya tertinggal di warung. Padahal, nilai tersebut terletak pada kombinasi suasana, ritual, dan interaksi sederhana yang membentuk pengalaman makan. Dari sini terlihat bahwa daya tarik utama warung pecel lele bukan pada produknya semata, melainkan pada experience yang tidak bisa dibungkus, dan itulah yang membuat makan di tempat terasa jauh lebih nikmat.
Street food doesn’t sell dishes.
It sells moments you didn’t know you needed





No comment yet, add your voice below!