Deforestasi

Ketimpangan kekayaan yang mencolok di Indonesia hari ini bukanlah anomali, melainkan cermin dari cara negara mendefinisikan kesuksesan. Masyarakat kecil terus didorong menjadi wirausaha tangguh, berjuang dari nol, dipuji sebagai pahlawan ekonomi rakyat, sementara pada saat yang sama, kekayaan ekstrem justru terkonsentrasi pada segelintir aktor yang menguasai sumber daya alam melalui konsesi tambang dan sawit. Ini bukan semata dinamika pasar, tetapi hasil dari struktur kebijakan yang timpang.

Masalahnya menjadi lebih serius ketika kekayaan yang lahir dari ekstraksi besar-besaran itu dipromosikan sebagai teladan entrepreneurship. Padahal, banyak di antaranya tidak dibangun melalui inovasi produktif atau penciptaan nilai yang luas, melainkan melalui akses istimewa terhadap izin dan keberpihakan politik. Negara pun secara tidak langsung melegitimasi perusakan lingkungan sebagai jalan sah menuju kemakmuran, sementara risiko sosial dan ekologis ditanggung oleh masyarakat luas.

Dampak dari pilihan ini bersifat jangka panjang dan antargenerasi. Hutan Indonesia, yang dulu diagungkan sebagai zamrud khatulistiwa, terus menyusut, menyisakan krisis ekologis yang tidak dapat dipulihkan dalam satu generasi. Anak cucu kita berpotensi mewarisi tanah rusak, konflik lahan, dan bencana ekologis, bukan kemakmuran. Ketika kebijakan gagal melindungi alam, sesungguhnya yang dikorbankan adalah masa depan bangsa.

Karena itu, persoalan ini bukan sekadar perdebatan antara pembangunan dan lingkungan, melainkan soal keadilan dan integritas kebijakan. Selama negara terus merayakan kekayaan hasil perusakan, sambil meminta rakyat kecil berjuang sendiri atas nama kemandirian, ketimpangan dan kehancuran akan terus direproduksi. Sudah saatnya definisi kesuksesan ekonomi dibenahi, bukan demi hari ini, tetapi demi generasi yang akan datang.

What destroys shared resources cannot be called entrepreneurship.

Happy VS Wealthy

Happy VS Wealthy

Dalam banyak keputusan hidup, kita sering menyamakan happy dan wealthy, seolah keduanya identik. Padahal keduanya berada pada level yang berbeda. Happy adalah output, rasa senang yang muncul segera setelah suatu tindakan. Ia cepat dirasakan, mudah diproduksi, dan cepat menguap.

Wealthy adalah outcomes, kondisi hidup yang relatif stabil dan berkelanjutan setelah berbagai konsekuensi diperhitungkan. Masalahnya, karena output selalu lebih mudah dicapai daripada outcomes, banyak keputusan berhenti pada happy, tanpa memastikan apakah hidup benar-benar menjadi lebih kuat setelahnya.

Melalui kerangka Jobs to Be Done, perbedaan ini menjadi jelas. Manusia selalu berusaha memenuhi tiga kebutuhan sekaligus: functional, emotional, dan social. Happy umumnya muncul ketika satu kebutuhan, biasanya emosional, terpenuhi. Namun wealthy hanya tercapai ketika ketiganya relatif terpenuhi dan saling menopang. Ketika satu dimensi diabaikan, kegembiraan berubah menjadi kerentanan. Inilah sebabnya happy sering terasa penuh di awal, tetapi rapuh dalam jangka panjang.

Contoh sederhana adalah membeli gawai terbaru. Kepemilikan itu memang memberi kepuasan emosional dan simbol sosial. Namun ketika diperoleh dengan skema kredit yang memberatkan, fungsi keuangan terganggu, ketenangan emosional tergerus, dan relasi sosial ikut tertekan. Dalam kondisi ini, seseorang mungkin happy, tetapi jelas tidak wealthy. Kegembiraan hadir, namun dibayar dengan risiko dan masalah di masa depan.

Karena itu, orientasi hidup yang lebih dewasa bukan bertanya, “Apakah ini membuat saya senang?”, melainkan “Apakah ini membuat hidup saya lebih utuh dan tahan uji?” Happy itu mudah, bahkan bisa direkayasa. Wealthy menuntut disiplin berpikir dan kesadaran lintas waktu. Happy tanpa wealthy hanyalah kegembiraan sesaat; sementara wealthy, meski tidak selalu euforia, memberi probabilitas keberlanjutan hidup yang jauh lebih tinggi🚀

Bluebird

Yang selalu satset (pain relievers)
buat jemput kamu tanpa ribet (pain points)

Dalam pengalaman saya, Bluebird selalu menjadi top of mind. Bukan karena logonya, bukan pula karena sejarah panjangnya, tetapi karena satu hal yang konsisten: setiap kali masuk ke taksinya, mood terasa terjaga.

Mobilnya rapi, pengemudinya relatif tenang, dan interaksinya profesional tanpa basa-basi yang melelahkan. Pengalaman ini mungkin tampak sederhana, tetapi justru di situlah Brand Experience (BX) bekerja, bukan sebagai pesan, melainkan sebagai rasa aman yang langsung dirasakan tubuh dan pikiran pelanggan.

Namun dalam konteks bisnis hari ini, BX seperti ini tidak lagi bisa bergantung pada kebiasaan lama atau ingatan masa lalu. Pasar kini memberi pelanggan terlalu banyak pilihan, dan top of mind tidak otomatis berarti top of choice. BX Bluebird yang kuat di momen inti, saat duduk di dalam mobil, akan melemah jika pengalaman di luar momen itu terasa tertinggal, berjarak, atau tidak kompetitif. Di titik ini, BX diuji bukan oleh niat baik perusahaan, tetapi oleh apakah pengalaman tersebut masih terasa relevan di tengah kemudahan alternatif lain.

Pelajaran bisnisnya keras: BX bukan sesuatu yang bisa diwariskan, ia harus terus dibuktikan. Reputasi yang dulu dibangun dari konsistensi layanan bisa terkikis jika tidak diterjemahkan ulang ke dalam ekspektasi pelanggan hari ini. Bluebird “yang sekarang” sedang berada pada fase krusial BX, bukan lagi soal dikenal atau dipercaya, tetapi soal apakah rasa aman dan nyaman itu masih cukup kuat untuk membuat pelanggan memilih tanpa berpikir ulang. Dalam persaingan yang semakin transparan, BX bukan soal dikenang dengan baik, melainkan soal tetap dipilih unconsciously 🚙🚙

Sumber gambar @bluebirdgroup 💙

Mengapa Pemilik Warung Lebih Layak Dibantu Daripada Warungnya

Simak deh ungkapan ini:
Saya mau bantu Warung Tegal memisahkan sampah,” lalu membawa 2 tempat sampah kuning & hijau. Tapi, masalah pemilahan sampah tetap tidak terselesaikan🥲

Membantu Warung Tegal adalah kesalahan dalam Design Thinking karena Warung Tegal adalah benda mati—tempat, fisik, atau sistem. Design Thinking berfokus pada manusia di balik masalah. Kalimat yang tepat adalah: “Saya mau bantu pemilik Warung Tegal.”

Dengan fokus ini, langkah berikutnya adalah berempati pada pemilik warung, individu yang menjalani rutinitas, menghadapi tantangan, dan memiliki kebiasaan tertentu. Mungkin pemilik merasa pemilahan sampah memakan waktu, merepotkan di tengah kesibukan, atau tidak memahami pentingnya pemilahan. Bisa jadi ada kendala lain, seperti tidak ada sistem pengangkutan sampah terpilah atau keterbatasan ruang yang membuat tempat sampah tambahan mempersempit area kerja.

Dengan berfokus pada pemilik warung, solusi tidak hanya sebatas menyediakan tempat sampah, tetapi juga memahami perilaku, motivasi, dan hambatan mereka. Solusinya bisa berupa edukasi, perubahan proses kerja yang lebih praktis, atau kemitraan dengan pengelola sampah terpilah.

Kalimat “Mau bantu siapa?” mencerminkan pola pikir Design Thinker sejati karena fokusnya pada orang yang dibantu. Ini selaras dengan prinsip User Centricity, di mana inovasi dimulai dari pemahaman mendalam tentang siapa pengguna atau orang yang menghadapi masalah. Pendekatan ini menempatkan empati di depan, mendorong pemahaman tentang kebutuhan, keinginan, dan tantangan pengguna sebelum mencari solusi.

Sebaliknya, pertanyaan “Mau dibantu apa?” menggeser fokus ke solusi yang mungkin tidak relevan dengan kebutuhan sebenarnya. Ini menunjukkan pendekatan reaktif dan solusi-sentris, bukan user-centric. Dengan langsung menanyakan “apa”, ada kecenderungan mengasumsikan masalah sudah jelas, padahal sering kali yang terlihat bukanlah akar masalah.

Inti Design Thinking adalah memahami bahwa inovasi bukan tentang menciptakan solusi canggih, tetapi membantu orang dengan cara yang bermakna dan relevan. Empati adalah langkah pertama yang krusial—tanpanya, solusi terasa dangkal dan tidak relevan, meskipun secara teknis benar🎉

Problem Solver

Saat ini, menjadi seorang Problem Solver sangat penting karena dunia semakin kompleks dan berubah dengan cepat. Tantangan yang dihadapi individu dan organisasi bersifat dinamis dan memerlukan solusi inovatif yang cepat diimplementasikan. Problem solver yang efektif mampu menganalisis situasi, mengidentifikasi masalah inti, dan menemukan solusi kreatif yang praktis🤩

Punya jiwa wirausaha dan kepemimpinan sangat penting, bahkan jika kita tidak berencana menjadi wirausahawan atau pemimpin. Jiwa wirausaha melibatkan sikap dan pola pikir proaktif, inovatif, dan berani mengambil risiko untuk mencapai tujuan. Jiwa kepemimpinan, di sisi lain, mencakup kemampuan memotivasi, mempengaruhi, dan mengarahkan diri sendiri serta orang lain menuju kesuksesan bersama🥳

Menjadi problem solver adalah keterampilan krusial di berbagai bidang kehidupan. Ini mencakup kemampuan komunikasi, analisis masalah, kreativitas dan inovasi, prototyping, umpan balik dan iterasi, serta fasilitasi😎

Jiwa wirausaha membantu seseorang selalu mencari peluang dan berinovasi dalam situasi apapun, baik dalam pekerjaan, komunitas, maupun kehidupan pribadi. Jiwa kepemimpinan memungkinkan seseorang mengambil inisiatif, memimpin dengan memberi contoh, dan membimbing orang lain menuju tujuan bersama. Kombinasi kedua jiwa ini membuat seseorang lebih adaptif dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan🚀

Dengan mengembangkan jiwa wirausaha dan kepemimpinan, setiap individu dapat berperan sebagai problem solver yang efektif, mampu menghadapi tantangan dengan cara inovatif dan kolaboratif. Ini berguna dalam konteks profesional dan kehidupan sehari-hari, membantu kita menjadi lebih adaptif, proaktif, dan siap menghadapi situasi kompleks. Belajar berperan sebagai problem solver adalah investasi penting dalam pengembangan diri yang memberikan manfaat jangka panjang bagi individu dan masyarakat🥳

Keterampilan Memahami Konteks

Dunia yang makin kompleks tentunya memerlukan keterampilan memahami sebuah permasalahan dengan konteks yang lebih luas dan dalam, mengapa jadi penting?

1.Biar ngga bingung dengan kompleksitas😚
Berpikir sistem membantu kita memahami bagaimana semua komponen saling terkait dalam suatu sistem dan bagaimana tindakan di satu bagian dapat berdampak pada bagian lainnya. Dengan memahami hubungan ini, kita dapat mengidentifikasi solusi yang efektif dan menghindari konsekuensi tak terduga.

2. Biar jadi paham atas informasi yang dilihat😎
Memungkinkan kita untuk mengevaluasi kebenaran dan kualitas informasi yang kita terima, serta mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda. Berpikir kritis membantu kita menghindari penipuan atau manipulasi, serta membuat keputusan yang lebih baik berdasarkan pemahaman yang akurat.

3. Agar lebih paham melihat keterkaitannya 🥳
Inovasi dan kreativitas: Berpikir sistem memungkinkan kita untuk melihat pola dan hubungan yang mungkin tidak terlihat pada pandangan pertama. Ini membuka pintu bagi inovasi dan kreativitas dalam memecahkan masalah yang kompleks. Dengan berpikir kritis, kita dapat mengidentifikasi peluang baru, menghasilkan gagasan yang orisinal, dan menciptakan solusi yang inovatif.

4. Agar lebih efektif😃
Logikanya ditarik lebih luas dan panjang, hal ini akan memungkinkan kita untuk menganalisis situasi secara menyeluruh, mengidentifikasi akar masalah, dan menghasilkan solusi yang terbaik berdasarkan pemikiran logis dan bukti yang ada. Dengan keterampilan ini, kita bisa menghindari kesalahan yang mungkin terjadi dan mencapai hasil yang lebih baik.

5. Jadi paham big picturenya🙄
Peningkatan pemahaman: Dengan berpikir sistem dan berpikir kritis, kita dapat memperdalam pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita. Kemampuan ini membantu kita melihat gambaran yang lebih luas, menghubungkan informasi dari berbagai disiplin ilmu, dan memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang kompleksitas fenomena dan permasalahan yang dihadapi.

Dengan mengembangkan keterampilan ini, kita dapat menjadi pemikir yang lebih baik, pengambil keputusan yang lebih bijaksana, dan inovator yang lebih kreatif🤩

Konsep “Conscious Competence”

Sering merasa berat, kesal bahkan rasanya mau marah dalam sebuah lingkup pekerjaan bisa jadi adalah tanda memang kita perlu belajar lagi, tak cukup kompeten dengan tantangan yang dihadirkan, perlu ruang dan waktu memperbesar kapasitas.

Ada sebuah konsep bernama “Conscious Competence” yang sering digunakan dalam pembelajaran & pengembangan keterampilan seseorang. Ada 4 tingkat kesadaran & kemampuan yang dimiliki individu saat kita menguasai suatu keterampilan.

🤨Pertama, kondisi “Unconscious Incompetence” (Kita tak sadar kalau kita tak mampu ). Pada tahap ini, seseorang tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan tentang suatu hal, dan bisa jadi kita juga tidak menyadari kekurangan tersebut.

😩Kedua, “Conscious Incompetence” (Sadar jika Ia tak mampu). Pada tahap ini, seseorang sadar bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan dalam suatu hal tertentu.

🤓Ketiga, “Conscious Competence” (Sadar akan Kemampuan) adalah tahap di mana seseorang telah belajar & mengembangkan keterampilan baru, tapi mereka harus tetap fokus dan sadar dalam menggunakannya. Pada tahap ini, individu punya kemampuan & pengetahuan yang cukup, tetapi masih memerlukan usaha & kesadaran untuk menerapkannya dengan benar.

😎Keempat “Unconscious Competence” (Tidak Sadar tentang Kemampuan) adalah tingkat puncak dalam pembelajaran keterampilan. Pada tahap ini, seseorang telah menguasai suatu keterampilan secara alami sehingga mereka dapat melakukannya dengan lancar dan tanpa perlu berpikir secara sadar.

Dengan memahami konsep ini “Conscious Competence,” kita bisa mengenali tahapan pembelajaran & pengembangan dirinya, serta paham apa yang diperlukan untuk mencapai tingkat kemahiran yang lebih tinggi.

Kamu ada di level mana?🥳

Belajar Mengelola Kompleksitas melalui Kerangka Cynefin

Melahirkan inovasi tentunya akan berhadapan dengan kemampuan mengelola kompleksitas. Jika tak dilatih sering kali kita jadi frustasi karena tak paham kompleksitasnya😥

Dalam kerangka Cynefin ini dinamakan Managing complexity. Kerangka kerja yang digunakan untuk memahami & mengkategorikan berbagai jenis masalah & situasi yang dihadapi🫣

Dalam kerangka ini, kompleksitas merujuk pada kondisi di mana hubungan antara penyebab & akibat tidak jelas dan atau dapatkah ia diprediksi dengan jelas atau tidak😬

Situasi kompleks sering kali melibatkan interaksi yang rumit, banyak pemangku kepentingan yang terlibat, beragam variabel yang saling terkait, dan solusi yang tidak jelas atau terbatas. Jika tak pandai mengelola berujung chaos dan frustasi!🥸

Untuk mengelola kompleksitas, tentu perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah dan situasi yang kompleks, serta mengakui bahwa solusi ngga selalu bisa direncanakan secara terperinci atau dijelaskan sebelumnya.

Beberapa situasi bisa digambarkan sebagai situasi yang “Simple” (Sederhana), “Complicated” (Rumit), atau “Chaotic” (Kacau)😴

Belajar mengelola kompleksitas complexity kerangka Cynefin akan melibatkan proses eksplorasi, percobaan, pembelajaran adaptif & kemampuan untuk menyesuaikan dengan perubahan yang tak dapat diprediksi🤫

Hal ini menuntut kita untuk selalu meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan situasi yang kompleks dengan langkah-langkah yang secara konsisten kita lakukan seperti percobaan, prototyping, komunikasi & menguatkan kolaborasi, jangan lupa dipantau & disesuaikan & terjaga keberlanjutannya.

Penting untuk memahami bahwa dalam kerangka ini, ngga ada satu pun pendekatan manajemen yang cocok untuk semua jenis situasi atau masalah. Topa domain dalam Cynefin perlu pendekatan yang berbeda untuk mengatasi tantangan yang dihadapi.

Dalam domain kompleksitas, pendekatan yang tepat akan tetap melibatkan penerimaan ketidakpastian, pembelajaran eksperimental & fleksibilitas dalam merespons perubahan🤩

Jadi sangat penting untuk menguasai keterampilan ini, senantiasa jadi individu yang adaptif, bisa mengelola kompleksitas agar energi yang digunakan pun terukur, selamat hingga tercapai tujuan!🚀🚀

The Flow Model

Ada saatnya kita dilanda jenuh, apatis & bosan dalam keseharian, terutama jika dalam upayanya menggapai mimpi-mimpi yang sudah terucap & tertuliskan berupa tujuan yang jelas & terdefinisikan, memberikan arahan & fokus pada aktivitas yang perlu dilakukan, hingga bagaimana bisa mempertahankan keterlibatan & meningkatkan kepuasannya🤩

Ada imajinasi yang kerap kita ilustrasikan, hingga memacu degup kecang jantung saking gembira dan membuncahnya energi yang kita miliki saat itu, tapi dalam perjalanannya perjalanan mencapainya tak selalu baik-baik saja🥲Ada kalanya jadi apatis, apatis akan terjadi jika tantangan terlalu rendah dengan keterampilan yang rendah pada kenyataannya. Atau stress, kala mimpinya lebih tinggi ketimbang skillnya. Atau bahkan membosakan, kala keterampilan kita mumpuni tapi tantangan yang hadir tak cukup tinggi😵‍💫

Jika tantangan terlalu rendah, individu bisa merasa bosan, sedangkan jika tantangan terlalu tinggi, mereka dapat merasa cemas/kewalahan🫨

Kondisi ideal adalah ketika kondisi tantangan yang cukup tinggi dibarengi dengan keterampilan yang cukup mumpuni (Flow). Biasanya jika pada kondisi ini, individu akan merasakan kehilangan kesadaran diri dan waktu, mengalami pengalaman yang dalam dan memuaskan, Terlibat secara emosional dan kognitif, dan tidak terganggu oleh gangguan atau pemikiran yang mengganggu🤩🤩

Yang perlu disadari bahwa kondisi ke-empat dimensi ini dalam pekerjaan sehari-hari adalah dinamis, berganti-ganti keadaanya. Untuk tetap menjadikannya pada kuadran paling ideal yakni “Flow” adalah membuka diri untuk tetap belajar. Hanya kadang kita tak berkesadaran penuh untuk peduli bahwa kita perlu belajar terus, bahkan lebih parahnya, jangan-jangan kita lebih senang menggurui dari pada belajarnya🥹

Belajar biasanya dapat berupa mencari umpan balik yang membantu individu jadi paham apakah mereka sedang berhasil atau tidak, serta memungkinkannya untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan.

Menyempatkan belajar dan berguru, akan membawa pengalaman manusia pada titik yang optimal, hingga Ia sepenuhnya akan terlibat dalam aktivitas yang memicu perasaan fokus, keterlibatan, dan kepuasan yang tinggi.

Jangan berhenti belajar🤝

Pengambilan Keputusan secara Inklusif

Pastikan setiap orang terlibat yaaa! Organisasi pembelajar buat tim makin kreatif, gimana melibatkannya?

Pengambilan keputusan secara inklusif adalah proses pengambilan keputusan yang melibatkan partisipasi dari beragam perspektif dan kelompok yang berbeda dalam suatu organisasi atau masyarakat.

Tujuannya tentunya adalah untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil mencerminkan kebutuhan dan kepentingan semua anggota masyarakat atau organisasi.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk melakukan pengambilan keputusan secara inklusif🥳

✔️Identifikasi stakeholder yang terlibat dalam pengambilan keputusan: Stakeholder adalah pihak-pihak yang akan terpengaruh oleh keputusan yang diambil. Identifikasi dan undanglah mereka untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan🥳

✔️Pilih metode yang sesuai: Pilih metode yang sesuai untuk memfasilitasi diskusi dan pengambilan keputusan yang inklusif, seperti focus group, workshop atau forum diskusi😁

✔️Buat ruang untuk partisipasi aktif: Buatlah ruang yang aman dan terbuka untuk semua stakeholder untuk berpartisipasi secara aktif dan memberikan masukan mereka🫡

✔️Berikan informasi yang lengkap: Berikan informasi yang lengkap dan transparan kepada semua stakeholder sehingga mereka dapat membuat keputusan yang didasarkan pada fakta dan data yang valid😎

✔️Beri waktu yang cukup: Berikan waktu yang cukup bagi stakeholder untuk mempertimbangkan opsi yang tersedia dan memberikan masukan mereka🧐

✔️Pertimbangkan semua opsi: Pertimbangkan semua opsi yang tersedia dengan cara yang objektif dan adil, tanpa memihak pada satu kelompok atau individu tertentu.

✔️Evaluasi keputusan: Setelah keputusan diambil, evaluasi hasilnya secara terbuka dan transparan dan berikan kesempatan bagi stakeholder untuk memberikan masukan dan umpan balik🤓

✔️Dengan mengikuti langkah-langkah ini, proses pengambilan keputusan secara inklusif dapat membantu organisasi atau masyarakat untuk mencapai keputusan yang lebih baik dan memperkuat hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi☺️

Ayo gas belajar lagi🚀🚀