Divergent?!?

“Dimana sekali banyak sumber daya, yang dilihat cuma kurangnya” sepenggal percakapan malam tadi.

Kreativitas itu justru hadir dalam beragam keterbatasan, jika semuanya tercukupi tak akan ada kreativitas yang meletup. Keterbatasan, gap, kekurangan atau beragam ketidaksempurnaan lainnya.

Kreativitas itu juga erat dengan keberanian mencoba, ada kalanya “topi hitam” dalam Six Thinking Hats – Edward de Bono justru mendominasi lima topinya. Gagal deh mencuatkan solusi kreatifnya🥲

Boleh kita menjadi kritis, namun jangan sikap kritis ini menjadi penghalang beragam solusi kreatif. Sebelum lompat ke Topi Hitam, ada banyak hal yang dapat dikemukakan. Mulai dari data dan faktnya dulu, ikuti dengan rasa optimisnya (kuning), kemudian resikonya apa (hitam), gagasannya apa (hijau) setelah itu revie lagi l proses berpikirnya (biru) dan kemudian ungkapkan perasaanya (merah).😎

Kreativitas memang memerlukan pemikiran yang terbuka, mau menyimak, mau mendengar dan mau mengakomodir. Topi-topi diatas akan membuat kita lebih dekat dengan solusi, ketimbang memberikan skeptisisme mendominasinya.

Nanti jika kita diskusi tak ada salahnya kita buat rundown sesuai topinya😂 . Ya! silahkan topi putih maju! Dilanjutkan dengan topi-topi yang lain, diakhir kita akan melihat perspektif yang lebih luas, mendorong keberanian yang lebih kuat menghadirkan solusi.

Kemampuan divergent thinking ini biasanya akan membawa bukan hanya sebuah solusi biasa, namun justru menghadirkan hal-hal baru “beyond solution”🚀🚀

Selamat mencoba! *pake aksen Sisca Kohl

Design Thinking, membingungkan?

Mengenal Design Thinking ga semata-mata berhenti disana, yang lebih menantang justru menerapkan keterampilan berpikir desain dalam kehidupan nyata, mengeksekusinya langkah berikutnya hingga bisnis berjalan baik & terjaga keberlanjutannya.⁣⁣
⁣⁣
Jangan sampai melompat-lompat dari proses yang sesungguhnya, nanti bingung! Nah begini alurnya;⁣⁣

⁣⁣1. Design Thinking⁣⁣
Mulai dari gagasan, ikuti dengan validasi masalah pada konsumen. Lakukan proses empati, definisikan masalah dengan baik dengan sudut pandang user, buat purwarupa & uji. Teruskan proses iterasinya hingga menghasilkan purwarupa. Solusi ini kemudian divalidasi & mulai digagas Model Bisnisnya & memulai langkahnya dengan Lean StatrUp⁣⁣
⁣⁣
2. Lean Startup⁣⁣
Tahap ini menyediakan pendekatan ilmiah untuk membuat & mengelola bisnis agar lebih cepat menyampaikan produk yang diinginkan ke tangan pelanggan.Juga mendorong cara mengarahkan, kapan berhenti & kapan harus bertahan & menumbuhkan bisnis dengan akselerasi maksimum. ⁣⁣
⁣⁣
Fase lean ini menguji coba, dengan harapan mendapatkan siklus Learn-Build-Measure, hingga menghadirkan Model Bisnis yang valid. Fase ini penting, jangan memulai dengan asumsi bahwa produknya diinginkan banyak orang. Kemudian menghabiskan waktu menyempurnakan produknya tanpa pernah menunjukkan pada calon pelanggan. ⁣⁣
⁣⁣
3. Design Sprint⁣⁣
Dalam fase Lean Startup baiknya melakukan pendekatan Design Sprint untuk menjawab pertanyaan krusial melalui proses perancangan, purwarupa & tes pada konsumen. Proses ini memotong proses panjang, cukup 5 hari untuk berkutat pada siklus yang lebih pendek yakni pada gagasan (Idea) – belajar (learn) tidak perlu Idea-Build-Launch-Learn yang memakan waktu-biaya
tinggi.⁣⁣
⁣⁣
4. Agile (Scrum)⁣⁣
Proses ini melahirkan produk tervalidasi, tapi belum sampai Model Bisnis tervalidasi. Memvalidasi proses bisnis gunakan pendekatan Agille (Scrum) agar tujuan bisnis dapat diperoleh dengan proses dinamis dengan proses perencanaan yang tepat, sprint, review & retrospektif hingga Model Bisnisnya inovatif.

Perhatikan juga sumbu X-nya, semakin tinggi maka gagasan yang dihasilkan akan makin kongkret! Makin kongkret bisnisnya pun makin jalan!

Jadi kapan kita belajar bareng?

Business Plan vs Business Model

Mengembangankan Model Bisnis memang diperuntukkan bagi validas model bisnis. Berbeda dari Business Plan, merancang Model Bisnis memang dialamatkan untuk banyak melakukan validasi. Menuntut founder dan timnya untuk mau melangkah keluar dan berbicara dengan konsumen dan calon-calon konsumennya secara nyata.⁣

Yang membedakannya lagi dengan Perencanaan bisnis adalah Model Bisnis adalah fokus yang tertuju pada input, dibukanya kesempatan untuk menerima proses-proses validasi. Prosesnya juga dimulai dengan sederhana dengan membangun purwarupa.⁣

Jika dalam Perencanaan Bisnis biasanya membatasi asumsi dengan data yang sesuai, di model bisinis justru ditekankan mengubah sudut pandang menjadi sudut pandang konsumen yang tervalidasi. ⁣

Goals utama model bisnis adalah validasi, sedangkan Business Plan adalah pendanaan. Model bisnis diluncurkan dengan proses yang customer-proven, beda dengan perencanaan bisnis yang menekankan pada kemungkinan apa yang akan terjadi dimasa depan.⁣

Nah untuk itu, kita perlu paham dalam proses valdasi model bisnis. Dalam model bisnis ada 3 bagian penting, Desirebily, Feasibilty dan Viability, ⁣


Proses Validasi I⁣
Pastikan Disirability.⁣
Apakah sudah Problem-solution Fit? Kemudian apakah proses Akuisisi pelanggan sudah mampu melahirkan rentensi? (Inget lagi Marketing funnel yaa!)⁣

⁣Proses Validasi II
Pastikan Feasibilty⁣
Coba cek lagi ketersediaan dan keterjangkaua sumberdaya, teknologi, aktivitas dan mitranya. Cukupkah dapat dibangun dan diaktivasi, cukup kuatkah?⁣

Proses Validasi I⁣II
Pastikan Viability.⁣
Proses paling menantang nih! Membuat Revenue Models dan berstrategi terkait costnya.⁣

Selamat belajaar!⁣

1 Menit Pitching

Beberapa hari ini kami kerap mengajarkan kawan‑kawan startup & UKM berlatih berjualan efektif agar jualan laku jika menawarkannya. Banyak diantaranya masih takut, asumtif bahkan tak berani membuka pembicaraan

Hasilnya pun sudah pasti dagangannya tak terjual. Bagaimana mau terjual, membuka komunikasi pun sulit, belum lagi komunikasinya yang panjang membuat calon client tak menanggapinya, bahkan di masa normal sekali pun

Tidak setiap kali di masa normal kita berkesempatan bagus & panjang bertemu dengan orang penting & menemukan momentum menginformasikan hal esensial. ⁣

Karena jika di kampus sering kali belajar presentasi panjang lebar karena keleluasaan waktu, tidak sama halnya didunia nyata, sering kali hanya punya waktu singkat menerangkannya, sangat singkat bahkan!!

Nah mumpung lagi banyak waktu di rumah, ada bahan buat latihan komunikasi singkat nih! Jika suatu hari bertemu beberapa orang yang potensial membuka upaya kolaborasi atau bahkan berinvestasi.⁣

Beberapa hal yang perlu dilakukan atara lain, membuka keberanian menyapa & lakukan pitch singkat, jangan lebih dari satu menit. Dilatih yaa, mulai dengan berlatih One Minute Pitch!⁣

Dimulai dengan menerangkan bahwa ⁣

1) Usaha kamu bernama……sedang mengembangkan….untuk membantu siapa menghadirlan gagasan solusi terhadap apa dengan “uniqe value proposition” apa?⁣

2)Berusaha pada bidang….yang tahun lalu bernilai…. ⁣

3)Jika melihat pasar mungkin mirip dengan X dan Y hanya saja memiliki diferensiasi berupa …. ⁣

4)Saat ini memiliki (Produk, Tim atau Usaha yang…..) ⁣

5)Untuk itu kami mencari……..untuk membantu usaha berkembang, oleh karena itu kami bermaskud untuk.. ⁣

Template di atas hanya satu dari sekian banyak cara berlatih bagaimana kita bisa menyampaikan pesan dengan singkat, padat dalam kesempatan yang sempit. ⁣

Ada juga bentuk lain, misalnya kita perlu berlatih membuat Pitch Deck yang bagus, biasaya durasinya 5 hingga 10 menit, atau membuat Rencana Bisnis tapi tidak dengan puluhan lembar seperti layaknya proposal. Cukup satu lembar ukuran A4 kita menuliskan singkat rencana bisnis agar calon mitra paham dulu tentang apa yang dimaksud.⁣

Selamat berlatih ya!

Flywheel Effect

Melanjutkan konsep Hedgehog kemarin, ga jauh dari #janganlelahberproses, didalamnya terdapat aktivitas yang konsisten menuju sebuah goal. Seiring perjalanannya, niat belajar jadi hal penting seperti dalam konsep yang diutarakan Jim Collins, dalam bukunya Good To Great, Turning the Flywheel.⁣⁣
⁣⁣
Kita kembali dulu ke jaman SMA, belajar Fisika!⁣⁣
A flywheel (roda gaya) adalah peralatan mekanikal, dirancang menyimpan energi rotasinya secara efisien (energi kinetik). Flywheel menahan perubahan kecepatan rotasi pada saat inersianya. Jumlah energi yang disimpan sebanding dengan kuadrat kecepatan rotasi & massanya. Cara untuk mengubah energi simpanan Flywheel tanpa mengubah massanya adalah dengan menambah/mengurangi kecepatan rotasinya.⁣⁣
⁣⁣
Mengacu konsep ini, Flywheel Effects menitikberatkan pada bagaimana kita memanfaatkan momentum, bukan serangkaian list langkah yang perlu dilakukan. Mirip dengan Agile, adaptif pada titik‑titik baru & memanfaatkan insightnya untuk melompat lebih baik.⁣⁣
⁣⁣

Flywheel as “Reinforcing Loop” digambarkan seperti ini;⁣⁣
“A series of good decisions, supremely well executed, taken with disciplined thought, that added up one upon another over a very long period of time to produce a great result” ⁣⁣
⁣⁣
Flywheel Effect dimulai dengan;⁣⁣
1.Curiosity‑fed Big Question⁣⁣
Saya ingin tau tentang apa?⁣⁣
⁣⁣
2.Research⁣⁣
Jika sangat ingin tau sesuatu, jangan sekedar menunggu jawabannya jatuh dari langit, perlu komitmen untuk belajar & memandu riset tentangnya.⁣⁣
⁣⁣
3.Chaos to Concept⁣⁣
Chaos itu biasa, dalam prosesnya jangan lupa untuk membuka peluang ide & insight dari beragam penjuru hasil proses belajar & riset yang dijalankan.⁣⁣
⁣⁣
4.Writing & Teaching⁣⁣
Tulis hasil belajarnya, segera bagikan! Momentum & insight lebih baik biasanya akan hadir setelah itu.⁣⁣
⁣⁣
5.Impact⁣⁣
Setidaknya kita punya dampak positif bagi dunia jika merampungkannya kelak⁣⁣
⁣⁣
6.Funding⁣⁣
Fund & Feed your next big questions!⁣⁣
⁣⁣
Coba bayangkan loops Flywheel Effect ini, ga salah jika seseorang tekun memutarkan rodanya secara persisten, suatu hari Ia akan ditemui jauh didepan, sementara bagi yang tak tekun, lupa bahwa waktu terus berjalan & orang lain tetap berlari.

Ngga Turun Dari Langit

Klien itu ga dateng dengan sendirinya, ada proses panjang dibalik transaksi yang didapatkan, tidak tiba‑tiba juga datang sendirinya. Sebuah kejadian ketika salah satu tim merasa tak memiliki kepentingan membuat berbagai press release, update kegiatan, atau sekedar share pengetahuan pada media‑media yang pas untuk diketahui khalayak ramai. Padahal ini adalah salah satu proses penting dalam membangkitkan kesadaran, awal mula keberhasilan penjualan bermula.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dalam startup ada kalanya sebagian tim lupa bahwa mereka adalah kawan terpenting membentuk sebuah probabilitas keberhasilan marketing terjadi. Setiap anggota penting untuk paham bagaimana sesungguhnya dibalik transaksi yang terlihat sederhana, ternyata memiliki “journey” panjang bagaimana konsumen dari tahu hingga transaksi hingga loyal, biasanya ini disebut Marketing Funnel.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣

Marketing Funnel awalnya adalah evolusi dari konsep Elias akhir abad 20, dengan konsep AIDA, Awareness, Interset, Desire & Action. Perkembangannya menjadi banyak dikenal sebagai Marketing Funnel. Secara sederhana disebut TOFU‑MOFU‑BOFU” top of funnel, middle of funnel, and bottom of funnel sebagai elemen pentingnya ga bisa dipisah, sebagai satu kesatuan utuh, tiap bagian harus bekerja sempurna agar journeynya berhasil. Hingga kita tau satu persatu mengurangi beragam hambatan dalam saluran pemasaran, tools ini memungkinkan kita tahu apa yang penting dilakukan untuk mempengaruhi konsumen pada tiap tahapnya;⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Awareness: ⁣⁣⁣
Konten substansi udah bagus belum? ini online & offline yaa! buat strategi konten yang menarik bagi audiens & membuat mereka mudah menerima interaksi di masa datang.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Consideration: Pendukung produk & bukti‑bukti yang membantu pelanggan saat mereka membandingkan produk kita dengan yang lain.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Conversion: Proses pembelian yang dibuat sesederhana mungkin agar mengurangi risiko batalnya pembelian.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Loyalty; Buat program yang bikin pelanggan makin loyal, bisa dengan hubungan yang lebih baik, diskon reguler, interaksi email / lainnya atau mempertahankan pelanggan di media sosial.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Advocacy: Konsumen loyal jadi variabel penting saluran pemasaran masa depan.

TUNA? Apa lagi?

Ngga ada formulasi pasti menghadapi ketidakpastian hari ini, yang pasti adalah mencoba merubah mindset & menguji hal baru, hingga kita dapat merespon baik perubahan. Kala kita tak bisa lagi merujuk best practice masa lalu, karena variable perubahan kali ini begitu banyak & tiap variabelnya punya dinamika perubahan unik, cepat & sulit diprediksi.⁣
Jika belakangan ini begitu santer mendengar VUCA, Volatile, Uncertain, Complex & Ambiguous konsep yang menggambarkan derasnya perubahan & hal‑hal yang diakibatkanya. Kemarin kita bahas bagaimana menjawabnya dengan VUCA Prime (Vision, Understanding, Clarity & Agilty)! Konsep ini awalnya digunakan oleh militer selama tahun 90‑an, menginspirasi sekolah bisnis untuk dapat mengelola situasi bisnis yang relatif dapat diprediksi.⁣

Selain VUCA saat ini memang lebih condong pada kondisi TUNA! apalagi di era pandemik ini, kala kondisi Turbulent, Uncertain, Novel & Ambiguous, memberikan suguhan nyata adanya pergeseran VUCA ke TUNA. Jika tidak benar‑benar memahami ini akan terjebak dengan lelah berkepanjangan. ⁣

TUNA ini hadir dari gagasan bahwa dunia saat ini tidak pasti, terus merespon terkait apa hal berikutnya yang dapat dilakukan karena terlalu banyak variabel yang dapat berubah setiap saat, tidak dapat diprediksi, hingga perlu benar‑benar belajar menangkap akar masalah dan mencari jalan keluarnya. ⁣

Lebih lanjut bukan hanya mencari jalan keluar tapi juga berlatih bagaimana agar tetap gesit & menghadapi masalah berikutnya esok hari. Karena saat ini tidak ada hal yang “one‑size‑fits‑all” untuk semua masalah strategis, penting juga untuk kita memahami industri & memprediksinya.⁣

Untuk beradaptasi sesungguhnya ada method bagus agar kita dapat keep on the track, agar tetap menjadi agile & adaptif. Salah satunya adalah dengan melakukan banyak retrospektif, nah ini salah satu tools bagus buat kita berlatih agar kita bisa belajar beradaptasi. Starfish Model membantu kita mereview, apa yang seharusnya untuk terus dilakukan, dikurangi, tambahkan, hentikan dan mulai! Coba deh dalam keseharian, lama kelamaan kita akan tumbuh lebih matang dan adaptif.Selama mengarungi TUNA!⁣

Biar Ga Cape Jualan

Belajar jualan memang Peer, keterampilan penting memonetisasi untuk memastikan organisasi berjalan. Sederhananya ini adalah proses mengubah sesuatu agar dapat menjadi penghasilan. ⁣

Monetisasi kerap tak mudah dipahami karena sering kali tak jadi urgensi, dalam keseharian tak hands‑on belajarnya, atau karena kultur kerja melakukan hal yang sama sepanjang waktu, bekerja silo sendiri‑sendiri tak melihat Helicopter View bahwa proses monetisasi adalah sebuah rantai yang tak bisa terputus pada satu bagian.⁣

Bagi para wirausaha & timnya, monetisasi perlu sungguh‑sungguh bisa terasa & mendarah daging dalam tiap aktivitasnya bersama tim. Karena ini jadi darah segar yang selalu berjalan dipompa bagi kehidupan usahanya. Kehilanganya maka tinggal tunggu kematiannya. Proses monetisasi paling mudah memang dengan Marketing Funnel. Bahwa jualan itu melalui proses, dari hulu ke hilir. Biasanya dibagi menjadi 3 / 4 tahap, yakni:⁣

Top of the Funnel (TOFU)⁣
‑ Proses menjangkau audiens baru⁣
Middle of the Funnel (MOFU)⁣
‑ Proses membangun kesadaran⁣
Bottom of the Funnel (BOFU)⁣
‑ Proses konversi jadi pembelian⁣
Evangelist⁣
‑ Proses mengembangkan loyalitas⁣

Tahap paling sering terlupakan adalah merangkaikannya jadi sebuah kesatuan proses. Apalagi dengan tahap Evangelist, mengembangkan loyalitas setelah mereka membelinya! Pada tahap ini justru tahap paling krusial, bebapa tips untuk mengisi tahap ini adalah dengan mengisinya dengan;⁣

1. Ada feedback antara penjualan dan pemasaran tentang kualitas TOFU⁣
2. Cari & Pahami alasan utama orang tidak membeli / membeli⁣
4. Proses ke MOFU & BOFU harus mulus & menarik⁣
5. Coba ulik Net Promoter Score (NPS) untuk mensegmentasikan pelanggan & berkomunikasi sesuai segmennya⁣
6. Carilah peluang upsell yang masuk akal⁣
7. Dorong studi kasus dan testimonial di antara para loyalis⁣
8. Lanjutkan pengujian sebanyak mungkin⁣

Nah setelah kita belajar funneling, sesungguhnya ada hal penting saat ini dalam bentuk Flywheel! tak jauh beda dengan Funnel, hanya saja, Flywheel menekankan pada Customer Centricity, juga berputar tak putus untuk selalu melakukan perbaikan dan terjaga keberlanjutannya.⁣

Selamat belajar!

IKEA Effect

Beli barang yang perlu dirakit sendiri, kemudian stress dan beberapa skrupnya malah ilang dan berakhir cape tapi malah begitu mencintai produknya, karena selain barangnya bagus juga ada effrort kita membangunnya, capenya terbayar🤣

Ada sebuah bias kognisi yang sering kali kita dapatkan dari sebuah produk yang kita beli, salah satunya dinamai “The Ikea Effect” dari sebuah penelitian tahun 2011 yang menawarkan Value Proposition yang tak biasa pada barang‑barang yang mereka tawarkan sebagian⛏⛏

“The IKEA effect” menggambarkan sebuah produk dengan harga terjangkau karena mengeluarkan komponen buruh perakitan dalam harga pokoknya. Bahkan dengan cara ini pelanggan justru mencintai produknya, walau dalam perjalanan merakitnya mereka kehilangan baut‑baut atau tak tepat memasangnya🛠🛠

“The IKEA effect” diidentifikasi Michael I. Norton of Harvard Business School dkk di tahun 2011. Dalam tulisannya mengungkapkan bahwa walau kita merakitnya sendiri, kemudian salah‑salah, ngga sempurna justru mendatangkan sebuah perasaan “over value” bagi penggunanya, ada ikatan relasi emosional yang tumbub didalamnya. Customer Relationshipnya justru terbangun. Riset ini membuktikan bahwa mengundang pelanggannya untuk menambahkan sedikit lagi usaha dalam membentuk sebuah produk menjadi utuh akan membuatnya lebih menghargainya❤️

Sebenernya fenomena ini sudah ada dalam tulisan Festinger tahun 1957, pada produk Teddy Bear! Kala itu namannya Build‑a‑bear. Walau dijual lebih mahal namun dalam prosesnya justru mengurangi variable biaya buruh namun proses merakitnya menyenangkan:)⁣

Dalam bidang lain, seperti jasa misalnya, ada istilah populer di negara barat yakni “haycations,” ketika orang kota membayar buat membeli pengalaman menjadi petani!🤠

Selalu menarik belajar psikologi konsumen! Saat ini makin banyak yang pake Ikea! Jadi inget @lebahbandung sambil berpetualang tapi bayar dan puas🤣🤣🤣🌻🐝

Makin banyak pengusaha yang mengadopsi ini, ada proses perubahan “viewing consumers as “recipients of value” to instead “co‑creators of value.” ⁣

Produk kamu udah mulai dirancang memiliki pengalaman ini ngga?👏👏

Merayakan Kegagalan

Sebelum Pandemik disudut Rumah Kolaborasi ada helaian post‑it yang setiap harinya didengan ragam kesalahan, “Wall of Fails” namanya. Hanya saat pandemik ini kebiasaan ini mulai hilang karena cukup dibuat panik dengan kondisi serba menantang sepanjang 6 bulan terakhir:(⁣

Diingatkan lagi oleh seorang kawan, untuk mengembalikan kebiasaan merayakan kesalahan ini. Kebiasaan penting untuk dirawat saat yang lain melarang untuk salah. Tapi inget ya konteksnya adalah “The real challenge is not to either accept or reject failure, but rather to differentiate between whether they are in execution or innovation mode”⁣

⁣Membuat tujuan jangka panjang yang diturunkan dalam strategi bertahap memang lebih mudah jika secara nyata bertemu muka melakukan evaluasi & retrospektif berkala, berlatih untuk tidak jaim antar sesama tim & dipenghujung justru merayakan kesalahan! Thomas Edison pernah memaknai kesalahan, Ia katakan “I didn’t fail 1,000 times. The light bulb was an invention with 1,000 steps.” ⁣

Wall of Fails ini seru! Tembok berisi aneka kesalahan yang dbuat ditulis pada kertas berwarna mencolok! Beranikan tiap orang menuliskan tiap kegagalannya. Melakukan kesalahan, berakibat kegagalan adalah resiko proses inovasi, karena inovasi adalah hasil dari experimental. Orang yang berani melakukan kesalahan, dalam sudut pandang lain justru adalah orang yang paling heroik karena Ia mampu mengambil keputusan dan resikonya. ⁣

Harvard Business Review menuliskan, bahwa merayakan kesalahan sangat berhubungan dengan keberhasilan inovasi. Proses ini justru menggambarkan seberapa berani untuk melompat! ‑ Celebrating those kinds of failures will help your people learn to fail gracefully, growing from the experience ‑⁣

Alasan mengapa banyak organisasi sulit berinovasi, karena dalam kesehariannya mental mengeksekusi terhambat, tidak memberanikan bereksperimen mengembangakn kegagalan sebagai pintu dalam mengembangkan beragam produk, jasa atau proses baru.⁣

Failure is a key to learning, growing and figuring out what works. But before you either celebrate or punish failure, make sure you know what you are trying to achieve by doing so ‑Ron Ashkenas‑

#agilitytransformation