Busyness Is Not Velocity : Reframing Organizational Speed Through System Design Thinking.

Busyness Is Not Velocity:
Reframing Organizational Speed Through System Design Thinking.

Sering kali di dalam organisasi kita merasa sudah bekerja cepat. Aktivitas padat, rapat beruntun, dan eksekusi tanpa henti menciptakan ilusi kemajuan. Kita merasa berlari kencang. Padahal, yang sering terjadi hanyalah kelelahan yang bergerak, bukan perjalanan yang mendekat ke tujuan.

Di saat yang sama, ada organisasi lain yang melaju lebih cepat tanpa terlihat tergesa. Bukan karena orang-orangnya lebih kuat, tetapi karena mereka menggunakan kendaraan. Kendaraan itu bukan gedung atau struktur, melainkan sistem: cara mengambil keputusan, membagi peran, dan mengalirkan nilai. Dengan sistem yang tepat, energi tidak dihabiskan untuk bertahan, tetapi diubah menjadi arah dan kecepatan.

Berlari 🏃‍♂️🏃‍♂️selalu punya batas. Ketika berlari, kita tidak punya ruang untuk berpikir jernih atau berdiskusi substantif, yang ada hanya instruksi teknis dan respons sesaat. Untuk berdialog, kita harus berhenti. Sebaliknya, kendaraan 🚗🏎️🚌🚐memungkinkan kita melaju sambil berpikir, bergerak sambil menyelaraskan, dan berubah tanpa kehilangan arah.

Masalah utama banyak organisasi bukan kurangnya kerja keras, tetapi kegagalan membangun kendaraan 🚌. Kita sibuk melatih orang agar berlari lebih cepat, padahal yang menentukan sampai atau tidaknya sebuah perjalanan adalah sistem yang membawa mereka. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana dan menampar: apakah organisasi kita sedang melaju, atau hanya kelelahan bersama?

Busyness often feels like speed.
But what’s really moving is exhaustion.

Bagaimana agar ilmu jadi lebih urgent untuk dikejar?

Bagaimana agar ilmu jadi lebih urgent untuk dikejar?

Menggunakan 5 Whys dengan pertanyaan why dari sudut pandang user memaksa seseorang berhenti mencari kambing hitam di luar dirinya. Setiap why tidak hanya menelusuri sebab-akibat program atau kebijakan, tetapi juga menyeret kesadaran ke wilayah yang lebih personal: cara berpikir, asumsi yang dipakai, dan keputusan yang diambil. Pada titik tertentu, 5 Whys tidak lagi nyaman, karena ia memperlihatkan bahwa banyak kegagalan perubahan bukan terjadi karena sistem semata, melainkan karena keterbatasan manusia yang menjalankannya.

Ketika why terus ditarik ke pengalaman manusia, termasuk diri sendiri, fokus perubahan pun bergeser secara radikal. Masalah tidak lagi dipahami sebagai “kurangnya anggaran”, “lemahnya regulasi”, atau “rendahnya partisipasi”, melainkan sebagai cerminan dari kapasitas diri yang belum cukup untuk membaca kompleksitas, memahami dampak, dan merespons dengan tepat. Kesadaran ini sering kali menyakitkan, karena ia menuntut pengakuan bahwa niat baik tidak selalu cukup tanpa kedalaman pemahaman.

Di sinilah ilmu mulai hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai kebutuhan. Bukan ilmu untuk terlihat pintar, bukan pula ilmu untuk memenuhi standar formal, melainkan ilmu untuk memperluas kapasitas diri agar tidak terus mengulang kesalahan yang sama. Ilmu menjadi alat untuk menajamkan cara berpikir sebab–akibat, memperhalus intuisi pengambilan keputusan, dan memahami realitas secara lebih utuh. Tanpa ilmu, refleksi berhenti pada kesadaran; dengan ilmu, refleksi berubah menjadi pembelajaran.

Pengalaman menggunakan ToC dengan yang berangkat dari 5 Whys yang berpegang konsisten pada sudut pandang user akhirnya mengajarkan satu hal mendasar: perubahan yang berkelanjutan selalu dimulai dari peningkatan kapasitas manusia itu sendiri. Ilmu menjadi penting bukan karena ia menjanjikan hasil instan, tetapi karena ia memungkinkan seseorang bertumbuh menjadi subjek yang sadar akan perannya, batasannya, dan tanggung jawabnya. Dalam kerangka ini, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan fondasi agar perubahan tidak berhenti sebagai niat, tetapi benar-benar menjadi dampak.

Change Management

Dalam kerangka change management, sebagaimana dirumuskan oleh John P. Kotter, perubahan yang berkelanjutan selalu dimulai dari penciptaan sense of urgency, bukan dari peluncuran simbol / identitas visual. Sense of urgency berfungsi sebagai fondasi psikologis dan organisatoris yang membuat individu & institusi bersedia meninggalkan cara lama yang sudah tidak efektif. Tanpa kesadaran bersama bahwa kondisi eksisting bermasalah atau berisiko jika dipertahankan, perubahan akan dipahami sebagai instruksi administratif / agenda komunikasi semata. Karena itu, manajemen perubahan sejatinya adalah proses membangun kesadaran & kebutuhan akan perubahan sebelum memperkenalkan penanda simbolik dari arah baru yang ingin dituju.

Ketika urutan ini dibalik dan simbol seperti logo atau identitas baru justru diluncurkan di awal, yang terjadi bukan hanya ketidaktepatan komunikasi, tetapi kerusakan logika implementasi perubahan. Dalam istilah Kotter, organisasi berisiko melakukan premature declaration of victory, seolah-olah perubahan telah tercapai karena sudah diumumkan secara visual. Dampaknya, energi perubahan melemah, aparatur merasa tidak lagi berada dalam fase transisi, dan kerja-kerja substantif tertunda. Pada saat yang sama, publik mengalami ketidaksinkronan antara narasi perubahan dan pengalaman sehari-hari, yang memicu sinisme, resistensi pasif, serta memperlebar jarak kepercayaan antara pengelola perubahan dan pihak yang terdampak.

Sebaliknya, perubahan yang dimulai dari sense of urgency dan diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, seperti pembenahan layanan prioritas, perbaikan proses kerja, dan penciptaan quick wins yang konsisten, membangun dasar operasional dan kultural yang kokoh. Pada tahap inilah simbol dan identitas visual memperoleh fungsi yang tepat, yakni sebagai alat pengikat dan pengukuh perubahan yang telah terjadi, bukan sebagai pengganti perubahan itu sendiri. Dalam urutan ini, logo tidak dibaca sebagai janji / kosmetik kebijakan, melainkan sebagai representasi kolektif dari perubahan yang sudah dialami, dipahami & diinternalisasi organisasi maupun publik.

Dari Human-Centered ke Humanity-Centered HCD+

Dari Human-Centered ke Humanity-Centered HCD+

Kita pada dasarnya tidak kekurangan pengetahuan maupun solusi. Banyak persoalan yang kita hadapi, mulai dari isu lingkungan hingga layanan publik, telah dipahami dengan cukup mendalam, dan berbagai alternatif penyelesaiannya pun sudah sering diusulkan🙏

Namun dalam praktiknya, solusi-solusi tersebut kerap berhenti di ruang diskusi karena tidak sepenuhnya terhubung dengan realitas kehidupan orang yang akan menjalankannya. Tantangan utama kita bukanlah kurangnya ide, melainkan memastikan bahwa ide tersebut relevan, dapat diterapkan, dan sesuai dengan konteks komunitas yang menjadi penerimanya🌹

Human-Centered Design membantu kita memahami kebutuhan pengguna, tetapi kompleksitas dunia saat ini menuntut pendekatan yang lebih luas. Setiap teknologi, kebijakan, dan produk membawa konsekuensi yang menjangkau keluarga, komunitas, dan lingkungan. Oleh karena itu, kita perlu bergerak menuju Humanity-Centered Design, suatu cara berpikir yang tidak hanya mempertimbangkan “apa yang dibutuhkan pengguna”, tetapi juga “siapa saja yang terdampak” dan “bagaimana dampaknya terhadap kehidupan bersama.” Dengan perspektif ini, desain tidak semata-mata berorientasi pada kemudahan penggunaan, melainkan juga pada keberlanjutan dan tanggung jawab jangka panjang🌎

Ketika bekerja bersama komunitas, kita perlu mengakui bahwa mereka adalah pihak yang paling memahami kondisi dan dinamika kehidupan mereka sendiri. Para ahli dapat memberikan analisis teknis, tetapi masyarakat memiliki pengetahuan kontekstual yang menentukan apakah sebuah solusi realistis dan dapat bertahan🙌

Peran kita bukan untuk menentukan arah atas nama mereka, tetapi untuk hadir ketika diperlukan, mendengarkan secara tulus, memfasilitasi proses belajar, dan menguatkan kapasitas mereka dalam merancang masa depan. Perubahan yang baik lahir dari dalam komunitas, dan tugas kita adalah memastikan bahwa mereka memperoleh dukungan yang memungkinkan hal tersebut terjadi🔆

“The world doesn’t need more ideas. It needs people willing to apply good ideas together with the communities they affect.” – Don Norman

Human-Centered Design

Bertemu dengan Don Norman, sosok penting di balik lahirnya Human-Centered Design, menjadi momen reflektif bagi perjalanan berpikir kami 🙌

Pembelajaran hari ini menegaskan bahwa inovasi yang relevan tidak cukup hanya berangkat dari kreativitas, tetapi membutuhkan cara berpikir yang lebih luas seperti HCD+. Lima lensanya, systems thinking, wellbeing, bioinspiration, circularity, dan social equity, mengarahkan kita untuk melihat bahwa setiap solusi harus mempertimbangkan manusia, lingkungan, dan keberlanjutan secara bersamaan. Pendekatan ini membantu kita berpindah dari penyelesaian masalah jangka pendek menuju desain yang berdampak jangka panjang.

Kelima pilar HCD+ ini saling memperkuat:
🔆 systems thinking membantu kita membaca pola dan keterhubungan;

🔆 holistic wellbeing memastikan solusi meningkatkan kualitas hidup;

🔆 bioinspiration & regenerasi mengajak kita belajar dari cara alam memecahkan masalah secara berkelanjutan;

🔆 circularity menuntun kita merancang sistem yang minim limbah; dan

🔆 social equity memastikan setiap inovasi berpihak pada akses yang adil bagi semua. Inilah fondasi berpikir yang menempatkan manusia dan bumi sebagai satu kesatuan ekosistem yang harus dijaga bersama.

Terima kasih undangannya mas @arimgn 🙌🙌

Humanity-Centred Design

Humanity-Centred Design

Selama dua dekade, Human-Centered Design menjadi paradigma dominan dalam inovasi. Namun dunia kini memperlihatkan sisi gelap dari pendekatan yang terlalu berfokus pada user. Kita menciptakan aplikasi yang memudahkan hidup, tetapi mendorong eksploitasi pekerja gig economy; kita mendesain layanan cepat, tetapi memperburuk sampah digital dan e-waste; kita membangun kenyamanan individu, tetapi mengorbankan kepentingan kolektif. Escobar (2018) dan Manzini (2015) mengingatkan bahwa inovasi yang hanya berpihak pada pengguna sering gagal melihat jaringan kehidupan yang lebih luas. Inilah tension besar abad ini: inovasi bisa “benar” bagi user, tetapi “keliru” bagi kemanusiaan.

Karena itu, muncul pendekatan Humanity-Centered Design—sebuah koreksi moral yang menggeser fokus dari keinginan pengguna menuju tanggung jawab terhadap masyarakat, lingkungan, dan generasi mendatang. Pendekatan ini menuntut expanded empathy: memikirkan pekerja di balik rantai produksi, komunitas terdampak, kelompok rentan, hingga keberlanjutan ekologis. Ini sejalan dengan gagasan Design Justice (Constanza-Chock, 2020) yang mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, serta Systemic Design (Jones, 2014) yang menegaskan bahwa setiap desain memiliki konsekuensi yang merambat dalam sistem sosial. Norman (2023) menambahkan bahwa inovasi masa depan harus memikul intergenerational responsibility, bukan hanya memecahkan masalah hari ini, tetapi menjaga kehidupan esok.

Pada akhirnya, keberhasilan inovasi tidak lagi cukup dinilai dari seberapa “usable”, “desirable”, atau “viable” sebuah solusi. Inovasi yang matang adalah inovasi yang ethical, equitable, dan sustainable—yang memperbaiki tanpa merusak, memajukan tanpa mengorbankan, dan mencipta tanpa meninggalkan luka. Humanity-Centered Design mengingatkan kita bahwa setiap keputusan desain adalah keputusan moral: apakah ia merawat atau mengabaikan? Apakah ia memperkuat martabat atau meniadakannya? Dan pertanyaan terpenting yang harus kita jawab sebagai desainer, pemimpin, dan pembuat kebijakan adalah:
“Masa depan seperti apa yang sedang kita bentuk melalui desain kita?”

Strength-Based Design Thinking

Bersua @lilinimam memandu kelas bersama. Hari ini kami memadukan Design Thinking dengan pendekatan Strength-Based. Pertanyaannya sederhana: bagaimana jika inovasi tidak dimulai dari masalah, tetapi dari kekuatan manusia yang sudah kita miliki?

Banyak organisasi merasa sudah berinovasi, padahal hanya memperbaiki sistem lama agar terlihat lebih modern. Design Thinking sering dijalankan sebagai ritual mencari masalah dan menambal kekurangan demi efisiensi. Hasilnya, organisasi tampak bergerak, tetapi sebenarnya kehilangan arah, kehilangan energi, dan perlahan kehilangan relevansi. Fokus pada masalah hanya melahirkan inovasi berbasis ketakutan, bukan kekuatan.

Padahal aset terbesar organisasi bukan teknologi atau anggaran, tetapi manusia, dengan empati, imajinasi, nilai, dan jejaring sosial yang hidup di dalamnya. Inilah kekuatan yang tak bisa ditiru pesaing. Strength-Based Design Thinking mengubah manusia dari objek yang harus dibenahi menjadi sumber energi yang siap diperbesar. Inovasi tidak muncul karena keadaan mendesak, tetapi karena kekuatan yang ingin diberdayakan dan dikapitalisasi.

Organisasi yang mengadopsi pendekatan ini tidak lagi bertanya, “Bagaimana mengejar ketertinggalan?” tetapi “Kekuatan apa yang hanya kita miliki, dan bagaimana menjadikannya pemimpin masa depan?” Masa depan bukan milik organisasi yang paling efisien, tetapi yang paling berani mengorkestrasi kekuatan manusianya menjadi gerakan inovasi yang tak terbendung.

Dan di sinilah perjalanan baru dimulai: berinovasi bukan karena terpaksa, tetapi karena kita berdaya. 🚀

-Human potential is the real exponential force; technology only multiplies what the human spirit dares to envision-Telah disunting · 2 ming

More Vs Less

Tidak semua kerja keras menghasilkan dampak besar. Dalam banyak kasus, seseorang bisa sibuk sepanjang hari namun tidak benar-benar menciptakan perubahan yang signifikan. Prinsip Pareto mengajarkan bahwa 30% usaha yang tepat dapat menghasilkan 70% dampak. Ini bukan tentang bekerja lebih banyak, melainkan tentang bekerja pada hal yang paling strategis. Orang yang tidak belajar, tidak mengevaluasi, dan tidak memperluas perspektif cenderung terjebak dalam rutinitas yang produktif secara kuantitas, tapi minim makna. Maka, belajar, baik melalui interaksi, forum, atau eksplorasi di luar, bukan sekadar pelengkap, tapi fondasi untuk menemukan titik ungkit.

Namun bahkan usaha yang tepat sekalipun punya batas jika hanya mengandalkan hitungan teknis. Di sinilah konsep koefisien beta menjadi relevan, sebagai metafora untuk keberkahan yang memperbesar hasil dari usaha yang kecil. Dalam konteks spiritual, beta adalah pengali yang datang dari niat yang lurus, kerja yang jujur, dan izin dari Allah. Sebuah langkah kecil bisa melahirkan lompatan besar jika dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan kecermatan. Maka, tak cukup hanya cerdas dan rajin, kita juga perlu menyadari bahwa dampak sejati seringkali lahir dari perpaduan antara strategi dan keberkahan.

Jangan lupa minta koefisien betanya, semoga kita semua bisa mengawali minggu ini dengan penuh manfaat! Selamat beraktivitas!✨

Trainer Design Thinking

Hari ini menjadi kesempatan penting untuk menegaskan bahwa hakikat Design Thinking bukan sekadar menciptakan solusi kreatif, melainkan membangun kebermanfaatan yang nyata dan berdampak. Kepada para trainer @bpvp.bandungbarat , penting ditekankan bahwa inovasi sejati bukan hanya tentang apa yang baru, tapi tentang apa yang benar-benar dibutuhkan dan memberi nilai bagi kehidupan manusia. Filosofi dasar Design Thinking adalah berpihak pada manusia, membaca kebutuhan terdalam, menyentuh harapan mereka, dan menjadikannya pusat dari setiap proses penciptaan.

Sebagai trainer, peran utama bukan hanya mengajarkan metode, tetapi menanamkan keberanian untuk bertanya: Apakah solusi ini membawa manfaat jangka panjang? Apakah ini akan membuat hidup orang lebih baik secara berkelanjutan? Design Thinking tidak berhenti pada ide yang menarik, tapi menuntut tanggung jawab etis untuk menghasilkan dampak. Inilah sebabnya empati menjadi fondasi, bukan sekadar tahap awal, karena hanya dengan empati yang tulus, kita dapat merancang perubahan yang benar-benar relevan dan bermakna.

Perlu diingat juga untuk para trainer Design Thinking bahwa kita perlu membimbing peserta untuk berpikir melampaui proyek. Bukan hanya menyelesaikan tugas, tapi mengubah cara pandang terhadap problem sosial dan ekonomi secara lebih utuh. Pelatihan Design Thinking yang kuat akan menanamkan kesadaran bahwa setiap intervensi harus berkelanjutan, tidak sekadar menyelesaikan gejala, tapi merawat akar persoalan dan memberdayakan pihak-pihak terkait untuk terus berkembang bersama.

Dengan cara itu, trainer menjadi bagian dari ekosistem perubahan yang bukan hanya mendesain solusi, tapi juga menumbuhkan mindset transformatif. Design Thinking bukan alat teknis belaka, melainkan filosofi kerja yang menuntun kita untuk mencipta dengan hati, merancang dengan nurani, dan menumbuhkan dampak yang bertahan jauh melampaui ruang pelatihan.

@thelocalenablers@tle_agilyst

RE-INVENTING BMC

Kita ingin bisnis terus berkembang.

Tapi kadang, justru strategi yang dulu terasa solid mulai terasa kaku. Pelanggan berubah, pasar bergerak cepat, sementara model bisnis kita masih sama seperti dulu.

Masalahnya, kita seringkali hanya mengisi Business Model Canvas (BMC) sekali, lalu disimpan seperti pajangan. Padahal BMC itu bukan arsip, tapi kompas yang harus terus disesuaikan.

Lewat eBook RE-INVENTING BMC,
@dwiindrapurnomo mengajak kita meninjau ulang model bisnis dari tiga sisi penting:

🎯 Frontstage
bagaimana pelanggan merasakan bisnis kita

🔧 Backstage
bagaimana tim kita bekerja dan menciptakan Value

📈 Profit Formula
bagaimana kita bisa tetap untung tanpa membebani operasional

Bukan berarti harus mulai dari nol, tapi kita perlu tahu bagian mana yang harus diubah, disesuaikan, atau ditinggalkan. Kalau kita merasa bisnis mulai melambat, mungkin ini waktunya reinvent.

📥 Unduh eBook-nya sekarang melalui tautan di bio.

Siapa tahu, perubahan kecil di strate