
Bagaimana agar ilmu jadi lebih urgent untuk dikejar?
Menggunakan 5 Whys dengan pertanyaan why dari sudut pandang user memaksa seseorang berhenti mencari kambing hitam di luar dirinya. Setiap why tidak hanya menelusuri sebab-akibat program atau kebijakan, tetapi juga menyeret kesadaran ke wilayah yang lebih personal: cara berpikir, asumsi yang dipakai, dan keputusan yang diambil. Pada titik tertentu, 5 Whys tidak lagi nyaman, karena ia memperlihatkan bahwa banyak kegagalan perubahan bukan terjadi karena sistem semata, melainkan karena keterbatasan manusia yang menjalankannya.

Ketika why terus ditarik ke pengalaman manusia, termasuk diri sendiri, fokus perubahan pun bergeser secara radikal. Masalah tidak lagi dipahami sebagai “kurangnya anggaran”, “lemahnya regulasi”, atau “rendahnya partisipasi”, melainkan sebagai cerminan dari kapasitas diri yang belum cukup untuk membaca kompleksitas, memahami dampak, dan merespons dengan tepat. Kesadaran ini sering kali menyakitkan, karena ia menuntut pengakuan bahwa niat baik tidak selalu cukup tanpa kedalaman pemahaman.
Di sinilah ilmu mulai hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai kebutuhan. Bukan ilmu untuk terlihat pintar, bukan pula ilmu untuk memenuhi standar formal, melainkan ilmu untuk memperluas kapasitas diri agar tidak terus mengulang kesalahan yang sama. Ilmu menjadi alat untuk menajamkan cara berpikir sebab–akibat, memperhalus intuisi pengambilan keputusan, dan memahami realitas secara lebih utuh. Tanpa ilmu, refleksi berhenti pada kesadaran; dengan ilmu, refleksi berubah menjadi pembelajaran.
Pengalaman menggunakan ToC dengan yang berangkat dari 5 Whys yang berpegang konsisten pada sudut pandang user akhirnya mengajarkan satu hal mendasar: perubahan yang berkelanjutan selalu dimulai dari peningkatan kapasitas manusia itu sendiri. Ilmu menjadi penting bukan karena ia menjanjikan hasil instan, tetapi karena ia memungkinkan seseorang bertumbuh menjadi subjek yang sadar akan perannya, batasannya, dan tanggung jawabnya. Dalam kerangka ini, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan fondasi agar perubahan tidak berhenti sebagai niat, tetapi benar-benar menjadi dampak.





No comment yet, add your voice below!