A bigger container never fixes poor planning.

Seorang istri meminta suaminya membelikan kulkas yang lebih besar karena kulkas di rumahnya selalu terasa penuh. Secara permukaan, solusi ini tampak logis: jika ruang penyimpanan tidak cukup, maka kapasitas perlu ditambah. Namun, problem solving yang baik tidak langsung menjawab permintaan, melainkan menunda solusi untuk memahami apa yang sebenarnya sedang bermasalah.

Ketika kebutuhan ini ditelusuri menggunakan pendekatan Five Whys, terlihat bahwa kulkas penuh bukan disebabkan oleh ukurannya, melainkan oleh penumpukan bahan makanan. Penumpukan tersebut terjadi karena tidak adanya perencanaan konsumsi, mingguan, dua mingguan, atau bulanan, sehingga belanja dilakukan tanpa rujukan kebutuhan nyata. Akibatnya, bahan pangan disimpan bersamaan, tidak dikonsumsi secara terukur, dan akhirnya memenuhi kulkas. Dalam konteks ini, kulkas yang penuh hanyalah gejala, bukan masalah utama.

Dengan demikian, akar persoalan sesungguhnya adalah perilaku. Membeli kulkas yang lebih besar hanya akan memperluas ruang bagi kebiasaan lama dan menunda masalah yang sama untuk muncul kembali. Solusi yang lebih tepat adalah membenahi cara berpikir dan bertindak: merencanakan konsumsi, menyelaraskan belanja dengan kebutuhan, dan membangun disiplin dalam pengelolaan pangan. Ketika perilaku berubah, kebutuhan akan kulkas yang lebih besar sering kali menghilang, dan di situlah esensi problem solving yang benar-benar berkelanjutan.

Benarkah Kita Membutuhkan Kulkas yang Lebih Besar? Membaca Kebutuhan dari Perilaku Sehari-hari

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *