Di banyak institusi kita, ada ritual yang berulang setiap tahun: rapat koordinasi lintas divisi yang dihadiri banyak orang, menghasilkan notulen tebal, lalu menguap tanpa jejak dalam tiga minggu.

Bukan karena pesertanya tidak kompeten. Bukan karena niat kerja samanya tidak tulus. Tapi karena begitu rapat selesai, setiap orang kembali ke sistem yang mengukur keberhasilannya secara terpisah, melaporkan ke atasan berbeda, dan bersaing memperebutkan anggaran dari sumber yang sama. Inilah kondisi un-collective, bukan sekadar tidak berkolaborasi, tapi secara aktif menghalangi potensi kolektif yang sebetulnya sudah ada.

Ego sektoral yang sering kita keluhkan bukan soal karakter buruk. Dia adalah respons paling rasional terhadap sistem yang menghadiahi kompetisi antar unit, bukan kontribusi kolektif. Ketika KPI divisi A tidak terhubung dengan keberhasilan divisi B, berbagi sumber daya terasa seperti kerugian, bukan investasi. 🙌

Ketika koordinasi resmi butuh tiga surat dan dua disposisi, inisiatif kolaboratif mati sebelum sempat dicoba. Sistem uncollective tidak butuh orang jahat, dia cukup butuh orang-orang waras yang beradaptasi terhadap insentif yang salah🥳

Yang paling ironis: orang-orangnya sebetulnya ingin berkolaborasi. Percakapan informal ☕️☕️☕️ lintas divisi sering jauh lebih produktif dari rapat koordinasi resmi. Solusi terbaik lahir di lorong kantor, bukan di ruang sidang. Tapi sistem kita tidak pernah menghargai lorong, hanya menghargai notulen✍️. Perlahan, orang-orang belajar: kalau tidak ada yang mencatat, seolah tidak ada yang terjadi.

Bergerak dari un-collective menuju collective genius tidak dimulai dari workshop kolaborasi satu hari. Dia dimulai dari keberanian menggugat arsitekturnya, cara mengukur keberhasilan, cara merancang insentif, cara memimpin tanpa memonopoli keputusan.

Collective genius bukan kondisi yang datang sendiri. Dia adalah pilihan yang dibuat setiap hari. Pertanyaannya bukan apakah orang-orang kita mampu berkolaborasi, mereka mampu. Pertanyaannya: apakah kita cukup serius untuk membongkar sistem yang selama ini menghalangi mereka? ✨

Inspired by @h.setyowibowo 🙏





































































































