Kita Semua Dilatih Cari Kerja, Tapi Dunianya Udah Nggak Sama

Narasi mencari pekerjaan sebagai tujuan utama hidup makin kehilangan relevansinya. Bukan cuma karena bekerja tidak penting lagi, tetapi karena struktur penciptaan kerja itu sendiri sedang bergeser.

Kita dibesarkan dengan asumsi sederhana: belajar → lulus → mencari kerja → stabil. Hari ini, rantai itu mulai terputus. Banyak lulusan sudah menjalani semua “tahapan yang benar”kuliah, magang, kirim CV ke mana-mana, tapi tetap kesulitan menemukan pijakan. Bukan karena individu gagal, tetapi karena sistem yang dulu menopangnya tidak lagi bekerja dengan cara yang sama.

Negeri ini sedang menghadapi tekanan fiskal, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian global yang nyata. Namun persoalannya lebih dalam dari itu. Kebijakan yang berorientasi jangka pendek, fragmentasi antar lembaga, dan siklus kekuasaan yang sempit membuat negara sulit hadir sebagai orkestrator penciptaan nilai. Akibatnya, lapangan kerja tumbuh secara sporadis, tidak pernah cukup untuk menampung gelombang lulusan baru setiap tahunnya.

Yang sebenarnya terjadi bukan sekadar “pekerjaan hilang”, tapi nilainya yang berpindah. Nilai ekonomi saat ini terkonsentrasi di platform, jaringan, dan ekosistem yang bisa mengorkestrasi solusi atas masalah nyata.

Yang dibutuhkan bukan lagi cuma sekadar tenaga kerja, tetapi kemampuan membaca masalah, menghubungkan aktor, dan menciptakan nilai dari kompleksitas. Strategi hidup bertahan para lulusan yang basisnya “mencari pekerjaan” menjadi sangat rentan justru karena bergantung pada struktur yang sedang ditinggalkan.

Maka yang perlu diubah bukan hanya strategi, tetapi cara berpikir. Dari “mencari kerja” menjadi “mengambil peran dalam menyelesaikan masalah.” Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang mau menerima saya?”, tetapi “di mana saya bisa mulai memberi nilai?” Siapa saja yang mampu mengidentifikasi masalah nyata dan menawarkan solusi yang terbukti dan bermanfaat, pada akhirnya akan menciptakan ruang kerjanya sendiri. Dalam dunia yang semakin kompleks, pekerjaan bukan lagi titik awal, melainkan konsekuensi dari kontribusi nyata yang bermanfaat🙌.

Mengapa Kita Membayar Mahal di Negeri Sendiri

Ada pertanyaan yang jarang kita ajukan secara serius: mengapa berobat di Malaysia lebih terjangkau daripada di negeri sendiri? Mengapa universitas negeri yang dibangun dengan dana publik justru terasa semakin jauh dari jangkauan publik itu sendiri? Jawaban yang lazim selalu berkisar pada inefisiensi atau korupsi. Padahal ada persoalan yang lebih mendasar: hampir seluruh institusi publik kita diposisikan sebagai unit penghasil pendapatan. Di saat itulah institusi yang seharusnya menjadi public enabler perlahan bertransformasi menjadi value extractor, dan masyarakat yang seharusnya dilayani berubah menjadi sumber penerimaan yang terus dioptimalkan.

Pergeseran ini tidak melahirkan pelaku yang dapat ditunjuk. Yang terjadi jauh lebih sistemik: absennya shared problem statement di antara seluruh aktor institusional. Masing-masing mengoptimalkan indikator kinerjanya sendiri tanpa ada yang mengikat mereka pada tujuan yang lebih besar. Rumah sakit mencapai target pendapatannya. Kampus mencapai target PNBP-nya. Birokrasi mencapai target retribusinya. Pada level mikro, semua terlihat berhasil. Namun pada level makro, sistem gagal menjawab satu pertanyaan mendasar: untuk siapa semua ini dibangun?

Di sinilah ecosystem thinking menjadi jawaban struktural. Negara-negara yang berhasil membangun layanan publik berkualitas tidak mencapainya melalui keunggulan anggaran semata. Malaysia dan Singapura berhasil karena seluruh aktornya bergerak dalam satu misi yang disepakati bersama, saling memperkuat, bukan saling memungut. Prinsip ini sejalan dengan nilai yang jauh lebih fundamental khairunnas anfa’uhum linnas, kemuliaan diukur dari seberapa dalam manfaat yang diberikan, bukan seberapa besar nilai yang diekstrak.

Tantangan sesungguhnya bukan pada keterbatasan sumber daya. Tantangan terbesar kita adalah keberanian untuk sepakat, sebagai institusi, sebagai sistem, sebagai bangsa, bahwa ada satu masalah yang harus dijawab bersama, dan masyarakat adalah alasan mengapa kita semua ada.​​​​​​​​​​​​, berupaya dengan sungguh-sungguh berkontribusi bagi kesejahteraanya, bukan kita, tapi mereka (baca: masyarakat)

(Bukan) Generasi Yang Lelah Tapi Belum Sampai Mana-Mana

Banyak orang hari ini bekerja lebih keras dari sebelumnya, mengambil pekerjaan tambahan, menjalankan side hustle, memangkas pengeluaran sekecil mungkin. Tapi pada akhir bulan, hasilnya sering kali hanya cukup untuk menjaga hari ini tetap berjalan. Bukan untuk naik. Hanya untuk tidak tenggelam. Dan yang menyakitkan bukan kelelahan itu sendiri, tapi kesadaran bahwa kerja keras yang sudah dituangkan habis-habisan terasa seperti tidak pernah cukup.

Masalahnya bukan pada individu yang kurang gigih. Masalahnya ada pada sistemnya. Ketika akses terhadap kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial masih rapuh, setiap guncangan kecil bisa meruntuhkan segalanya. Sakit sebentar. Kehilangan satu kontrak. Harga yang tiba-tiba naik. Hal-hal yang seharusnya hanya menjadi hambatan sementara, berubah menjadi krisis. Di sinilah kerja keras kehilangan fungsinya, bukan lagi tangga menuju kemajuan, melainkan roda yang berputar di tempat.

Di negeri lain, orang juga bekerja keras dan menghadapi tekanan. Tapi bedanya: ketika mereka jatuh, ada lantai yang menahan, bukan jurang yang menelan. Sistem mereka dibangun untuk menanggung risiko bersama, bukan melemparkan semuanya ke pundak individu. Dengan fondasi seperti itu, kerja keras punya makna berbeda, ia menjadi investasi masa depan, bukan sekadar tiket untuk bertahan hingga esok pagi.

Jadi pertanyaannya bukan apakah masyarakat kita mau bekerja keras. Jawabannya sudah jelas, mereka sudah melakukannya, setiap hari, tanpa henti. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah sistem yang kita bangun sudah layak untuk menerima kerja keras itu? Karena kemajuan sejati bukan lahir dari kerja keras semata. Ia lahir ketika kerja keras bertemu sistem yang adil dan memampukan. Selama pertemuan itu belum terjadi, yang kita sebut “maju” mungkin hanya nama lain dari kelelahan yang lebih rapi.

Konten Edisi Ramadan

Konten Edisi Ramadan;

Setiap manusia mendambakan hidup yang penuh keberkahan: keluarga yang sakinah, anak yang saleh, rezeki yang menenangkan, dan umur yang bermanfaat. Itulah fitrah. Barokah berarti kebaikan yang banyak dan menetap, bukan kenikmatan sesaat yang cepat hilang. Ia seperti air yang tertampung dan memberi manfaat berkelanjutan. Dalam Islam, keberkahan mencakup dunia dan akhirat sekaligus: hidayah dan pahala, juga rezeki dan ketenangan. Namun semangat “ngalap berkah” bisa keliru jika tidak dibangun di atas tauhid yang benar.

Tabarruk adalah ibadah, bukan sekadar tradisi atau simbol. Karena itu, ia harus tunduk pada wahyu. Tidak semua tempat, benda, atau orang bisa dianggap membawa berkah tanpa dalil yang sahih. Caranya pun harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, dan keyakinannya harus lurus: yang memberi berkah hanyalah Allah. Menetapkan sesuatu sebagai sebab tanpa dasar syariat termasuk syirik kecil; meyakini benda memberi manfaat secara mandiri adalah syirik besar. Kekeliruan ini sering lahir bukan dari niat buruk, tetapi dari kurangnya ilmu.

Islam membedakan jelas antara yang disyariatkan dan yang dilarang. Mengusap Hajar Aswad atau berdoa di Multazam ada tuntunannya. Namun mengusap tembok, membawa pulang tanah sebagai jimat, atau mencari berkah dari benda tanpa dalil bukan ajaran Nabi ﷺ. Keberkahan pada zat tubuh adalah kekhususan beliau dan tidak diwariskan kepada siapa pun. Keberkahan ulama terletak pada ilmu dan keteladanannya, bukan pada fisiknya. Pada akhirnya, mencari keberkahan bukan tentang mendekati simbol, tetapi mendekat kepada Allah, Sang Pemberi Berkah. “Wal barokatu minallah”, keberkahan itu datangnya dari Allah.

Disarikan dari Kajian Ramadhan bersama
Ustadz @hamdialbakry

Most organizations don’t fail.They get comfortable.

Banyak orang menganggap inovasi telah selesai ketika sebuah program dijalankan atau produk diluncurkan. Padahal, justru pada titik itulah proses pembelajaran yang sesungguhnya dimulai. Output bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk memahami apakah sebuah gagasan benar-benar bermanfaat, dipahami oleh pengguna, dan mampu mengubah perilaku. Pendekatan design thinking menegaskan bahwa inovasi tumbuh melalui proses eksperimen, umpan balik, dan perbaikan berulang, bukan dari perencanaan yang dianggap sempurna sejak awal (Brown, 2009; Liedtka, 2015).

Melalui proses tersebut, output secara bertahap berkembang menjadi outcomes, yakni perubahan nyata dalam cara berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan. Pada tahap ini, ide diuji oleh realitas organisasi: sistem, sumber daya, budaya kerja, dan keberlanjutan operasional. Tidak sedikit inovasi berhenti di tengah jalan karena gagal terhubung dengan model bisnis dan sistem kerja yang sehat. Tanpa fondasi yang kuat, ide yang baik hanya akan menjadi proyek sesaat. Oleh karena itu, Osterwalder dan Pigneur (2010) menekankan pentingnya mengaitkan inovasi dengan penciptaan nilai yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, inovasi mencapai makna terdalamnya ketika mampu menghasilkan impact; perubahan yang melampaui batas satu program atau satu organisasi. Impact lahir ketika inovasi terhubung dengan ekosistem yang lebih luas: komunitas, mitra, pemerintah, dan dunia usaha. Perubahan yang bertahan lama hampir selalu bersifat kolaboratif, bukan hasil kerja individu semata (Moore, 1996; Kania & Kramer, 2011). Pada titik inilah inovasi berkontribusi membentuk better society: masyarakat yang tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga tumbuh, berdaya, dan berperan aktif dalam proses perubahan.

Most organizations don’t fail.
They get comfortable.🙌

Untuk Siapa Sebenarnya Pembangunan, Jika Warganya Jadi Miskin?

Melewati kawasan-kawasan yang tertata rapi di Bandung, Jakarta, hingga Tangerang, kita mudah merasa bahwa pembangunan telah berjalan ke arah yang benar. Jalan lebar, ruang publik nyaman, aktivitas ekonomi tampak hidup. Kita menikmatinya, seolah ikut merasakan kemajuan. Namun di balik itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah orang-orang yang hidup di sekitar kawasan tersebut benar-benar ikut maju, atau hanya ikut menyaksikan perubahan dari pinggir?

Banyak pembangunan dimulai dari ruang, dari fungsi lahan, nilai ekonomi, dan tampilan kawasan, dengan keyakinan bahwa manusia akan menyesuaikan diri. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Masyarakat hidup dengan keterbatasan akses, kapasitas, dan pilihan. Ketika pembangunan tidak berangkat dari realitas ini, kawasan bisa tumbuh rapi, tetapi kehidupan warganya tidak ikut menguat.

Pelan-pelan, jarak itu terasa. Peluang ekonomi baru hadir, tetapi tidak ramah bagi masyarakat lokal. Biaya hidup meningkat, ruang usaha menyempit, dan peran warga bergeser. Mereka tetap tinggal di tempat yang sama, namun tidak lagi menjadi bagian utama dari cerita kemajuan. Dalam situasi seperti ini, kemiskinan bukan kegagalan individu, melainkan hasil dari pembangunan yang tidak membaca kehidupan manusia secara utuh.

Karena itu, pembangunan kawasan seharusnya dipahami bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana. Ukuran keberhasilannya bukan pada seberapa rapi ruang ditata atau seberapa ramai aktivitas terlihat, tetapi pada apakah masyarakat memperoleh kapasitas baru, pilihan hidup yang lebih luas, dan posisi yang lebih bermartabat. Tanpa orientasi ini, pembangunan akan terus tampak berhasil, namun hanya sebagai pemandangan yang indah, bukan sebagai proses yang benar-benar memajukan kehidupan masyarakatnya.

Growth without inclusion turns progress into displacement

A bigger container never fixes poor planning.

A bigger container never fixes poor planning.

Seorang istri meminta suaminya membelikan kulkas yang lebih besar karena kulkas di rumahnya selalu terasa penuh. Secara permukaan, solusi ini tampak logis: jika ruang penyimpanan tidak cukup, maka kapasitas perlu ditambah. Namun, problem solving yang baik tidak langsung menjawab permintaan, melainkan menunda solusi untuk memahami apa yang sebenarnya sedang bermasalah.

Ketika kebutuhan ini ditelusuri menggunakan pendekatan Five Whys, terlihat bahwa kulkas penuh bukan disebabkan oleh ukurannya, melainkan oleh penumpukan bahan makanan. Penumpukan tersebut terjadi karena tidak adanya perencanaan konsumsi, mingguan, dua mingguan, atau bulanan, sehingga belanja dilakukan tanpa rujukan kebutuhan nyata. Akibatnya, bahan pangan disimpan bersamaan, tidak dikonsumsi secara terukur, dan akhirnya memenuhi kulkas. Dalam konteks ini, kulkas yang penuh hanyalah gejala, bukan masalah utama.

Dengan demikian, akar persoalan sesungguhnya adalah perilaku. Membeli kulkas yang lebih besar hanya akan memperluas ruang bagi kebiasaan lama dan menunda masalah yang sama untuk muncul kembali. Solusi yang lebih tepat adalah membenahi cara berpikir dan bertindak: merencanakan konsumsi, menyelaraskan belanja dengan kebutuhan, dan membangun disiplin dalam pengelolaan pangan. Ketika perilaku berubah, kebutuhan akan kulkas yang lebih besar sering kali menghilang, dan di situlah esensi problem solving yang benar-benar berkelanjutan.

Benarkah Kita Membutuhkan Kulkas yang Lebih Besar? Membaca Kebutuhan dari Perilaku Sehari-hari

Piramida Kejelasan

Misi yang mudah diingat tidak lahir dari kalimat yang indah, tetapi dari keberanian memilih manusia dan perubahan apa yang benar-benar ingin diperjuangkan. Karena itu, misi sebaiknya dirumuskan dengan bahasa yang dekat dengan pengalaman hidup target yang dituju, bukan sekedar istilah institusional yang aman.

Kalimat seperti “membantu guru mengajar dengan lebih percaya diri” jauh lebih melekat daripada pernyataan umum tentang kualitas atau keunggulan. Misi semacam ini langsung memberi gambaran: jika manusia sasaran belum merasakan perubahan itu, maka misi belum benar-benar bekerja.

Misi yang membangkitkan semangat juga tidak berbicara tentang organisasi, melainkan tentang gap nyata yang dihadapi objek sasaran. Dengan merumuskan misi sebagai perjuangan, misalnya mendampingi pelaku usaha berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, organisasi menetapkan standar yang jelas bagi dirinya sendiri. Setiap program dan kebijakan harus diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah ini benar-benar membantu manusia yang kita perjuangkan, atau sekadar membuat organisasi terlihat produktif?

Agar misi benar-benar hidup, ia harus konsisten muncul dalam cara organisasi bertindak, terutama saat menghadapi tekanan. Misi sejati diuji ketika target meleset, sumber daya terbatas, atau konflik muncul. Di saat seperti itulah misi seharusnya menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan. Jika dalam kondisi sulit misi selalu dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek dan kenyamanan sistem, maka misi tersebut pada dasarnya tidak pernah dimaksudkan untuk dijalankan.

Ketika misi dirumuskan dan dijalankan secara konsisten, visi tumbuh secara alami. Visi tidak lagi hadir sebagai janji besar yang membebani, tetapi sebagai gambaran masa depan yang masuk akal dan layak diperjuangkan. Orang-orang membangun visi bukan karena diminta, melainkan karena mereka merasakan bahwa misi yang mereka jalani hari ini nyata, bermakna, dan memberi harapan bagi masa depan bersama🙌🙌

Leaders Change, Mindsets Remain

Leaders Change, Mindsets Remain
Mengapa Pergantian Pemimpin Tidak Selalu Menghasilkan Regenerasi

Dalam banyak organisasi, pergantian kepemimpinan kerap disalahartikan sebagai regenerasi. Secara struktural figur memang berganti, tetapi secara substantif yang diwariskan tetap cara berpikir lama dalam memaknai masalah, risiko, dan keberhasilan. Seperti dikritik oleh Peter Senge, organisasi dapat terus bergerak dan tampak sehat, namun gagal menjadi learning organization karena tidak pernah memperbarui mental models yang mengarahkan keputusan strategis. Regenerasi pun berhenti sebagai prosedur administratif, bukan pembaruan kepemimpinan yang sesungguhnya.

Kemandekan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari desain sistem internal. Konsep defensive routines dari Chris Argyris menunjukkan bagaimana organisasi secara tidak sadar melindungi cara berpikir dominan dan menekan perbedaan. Sistem promosi dan kaderisasi cenderung memilih pemimpin yang paling aman dan patuh terhadap logika lama. Akibatnya, generasi muda belajar bahwa penyesuaian diri lebih dihargai daripada keberanian berpikir, sehingga regenerasi berubah menjadi kloning kepemimpinan: muda secara usia, tua secara cara pandang.

Pola ini memang menciptakan stabilitas jangka pendek, konflik minim dan konsensus cepat, namun menyimpan risiko jangka panjang. Ronald Heifetz menegaskan bahwa tantangan adaptif tidak dapat dijawab dengan solusi teknis atau pengalaman masa lalu. Ketika ketidakpastian dihadapi dengan logika lama, inovasi menyempit menjadi efisiensi dan dialog strategis berubah menjadi ritual pembenaran. Karena itu, regenerasi kepemimpinan harus dipahami sebagai proses kognitif dan kultural yang disengaja. Edgar Schein mengingatkan bahwa asumsi dasar yang jarang dipertanyakan justru paling menentukan arah organisasi. Tanpa pembaruan cara berpikir, organisasi mungkin terus berjalan, namun semakin jauh dari kemampuan untuk bertahan dan relevan🙌

Ketika Sang Kekasih Bersedih

Nabi Muhammad ﷺ lahir dari keluarga besar Quraisy, suku paling berpengaruh di Makkah, dengan nasab yang mulia & kehormatan yang diakui. Jika kebenaran diukur dari status & dukungan sosial, beliau seharusnya paling aman. Namun justru dari rumah besar itulah ujian dimulai. Orang-orang terdekat yang paling mengenal kejujurannya adalah yang paling keras menolak risalahnya. Dari sini kita belajar bahwa kedekatan tidak menjamin pembelaan, dan kebenaran sering kali justru diuji oleh lingkungan terdekatnya.

Penolakan itu berkembang menjadi pemutusan terhadap hak hidupnya. Boikot memutus makanan & relasi, Nabi ﷺ menahan lapar bersama keluarganya, lalu kehilangan dua penopang dunia sekaligus: Khadijah sebagai rumah tempat pulang dan Abu Thalib sebagai perisai sosial. Ketika Makkah sepenuhnya tertutup, Nabi ﷺ mencari harapan ke Thaif, namun yang diterima justru batu, darah, & penghinaan. Di titik terendah itu, Nabi ﷺ tidak menuntut dunia berubah; ia hanya memastikan satu hal yang menentukan segalanya: Allah tidak murka kepadanya. Jika Allah ridha, dunia boleh runtuh.

Setelah semua sandaran bumi dilepas, Allah membuka pintu langit melalui Isra’ Mi‘raj. Namun Allah tidak memberi kemewahan, kekuasaan, atau jalan pintas kemenangan. Yang Allah berikan hanyalah shalat. Awalnya lima puluh waktu, lalu diringankan menjadi lima dengan nilai tetap lima puluh. Pesannya tegas: manusia tidak diselamatkan oleh kekuatan, tetapi oleh kedekatan. Shalat bukan hadiah untuk hidup yang sudah rapi, tapi pegangan bagi hidup yang runtuh.

Di sinilah makna terdalamnya: shalat adalah pintu langsung kita terhubung dengan Allah. Tanpa perantara, tanpa syarat sosial, tanpa pengakuan manusia. Allah tak meminta manusia naik ke langit; Allah membuka jalur langit ke bumi, lima kali sehari. Maka ketika shalat terasa berat / ditunda, persoalannya bukan pada waktu, melainkan pada hati yang masih merasa punya sandaran selain Allah. Jika pintu itu sudah dibuka dan kita enggan masuk, mungkin bukan shalat yang berat, tetapi dunia yang terlalu penuh di dalam diri.

Ustadz @muhammadnuzuldzikri
@muhajirproject
@halfdeen.series