Tiap Akhir Riset, Produknya Udah Pasti Laku Ngga?

Sebagian besar produk yang lahir dari laboratorium kampus, inkubator startup, dan UMKM di Indonesia apakah akan tetap bertahan di pasar dimasa depan?

Bukan karena pasarnya jelek. Bukan juga karena teknologinya kurang. Tapi karena asumsi pondasi yang menjadi dasar pengembangan, tidak pernah diuji dengan bukti yang bisa menggugurkannya. Pola universitas dengan paten yang tertidur, inkubator dengan portofolio yang berguguran sebelum tahun ketiga, pemilik bisnis yang yakin produknya hebat tapi tidak laku. Bukan kreativitasnya yang kurang. Yang kurang validasi🙌

Validasi bukanlah obrolan dengan pihak yang mendukung secara default. Bukan juga demo yang keren. Bukan focus group dimana tiap orang yang hadir tersenyum. Validasi adalah upaya menggugurkan asumsi sendiri sebelum biaya membangunnya jadi terlalu tinggi🥹

Lima tahap berurutan bisa dimulai dengan membongkar asumsi pondasi, uji yang paling berisiko dengan wawancara behavior-based dan fake door test, audit bukti dengan tiga lensa Coverage Depth Falsifiability, putuskan PIPK berbasis bukti bukan ego, dan eksekusi roadmap 30/60/90 dengan threshold eksplisit.

Dalam 30 hari tim punya bukti awal, 60 hari posisi PIPK disangga bukti, 90 hari keputusan masuk pasar dengan probabilitas sukses jauh lebih tinggi.

Paradoks yang luput di institusi inovasi Indonesia. Validasi murah, tapi membangun mahal. Wawancara 30 calon pengguna biayanya kurang dari 1% biaya bangun prototipe yang tidak dipakai. Kampus, inkubator, dan pemilik bisnis dengan modal terbatas justru paling diuntungkan oleh disiplin ini, bukan paling tidak mampu.

Yang berat bukan tekniknya, Yang berat adalah berani Kill atau Pivot ketika bukti memintanya, meskipun investasi sudah bertahun-tahun. Sunk cost ialah beban yang harus dilepas, bukan justifikasi posisi.

Tim yang konsisten menjalani siklus ini berhenti menerka-nerka. Mereka tau kenapa produknya akan berhasil, atau tidak. Yang lain terus bertanya “kenapa belum laku?” setelah 6 bulan, setahun, 3 tahun. Validasi bukan magic, bukan luxury perusahaan besar. Validasi adalah pilihan institusional: bertahun-tahun menggebrak tembok dengan keyakinan, atau tiga bulan menemukan kebenaran dengan bukti🚀🚀

Proker Kemahasiswaan Tak Laku

Dalam pelatihan Lembaga Kemahasiswaan Se-Untan bersama IBT Untan, kami membahas bagaimana program kemahasiswaan disusun.

Biasanya, Raker dibuka dengan “tahun ini bikin acara apa?”, “targetnya berapa peserta?”, “anggaran dari mana?”. Akhir tahun rapi: seminar, lomba, dokumentasi estetik. Tapi yang berubah dari mahasiswa yang kita layani? Samar. Inilah Activity-Trap; mayoritas ormawa terjebak.

Pengurus sibuk menyiapkan event, kejar anggaran; yang berubah hanya daftar nama yang bisa bantu melengkapi “pengalaman organisasi” di CV.

Dalam upaya membuat program, pertanyaan pertama itu bukan “bikin acara apa”, tapi “mau bantu siapa, dan kebutuhan fungsional, sosial, emosional apa yang harus terpenuhi”. Empati.

Kemudian pastikan punya kerangka tiga lapis ini biar ngga sering ketuker dan harus jadi orientasi dalam melaksanakan setiap proker;

🚀 Output; sertifikat, plakat, foto, realisasi anggaran. Sifatnya permukaan, habis acara hilang. Di bawahnya

🚀 Outcomes: transformasi internal; Cara Berpikir baru yang ditopang Skills, Knowledge, Values, Tools (SKVT). & yang paling dalam;

🚀 Impact: ekosistem ketika tiap angkatan merasa sejahtera dan tetap berlanjut meski kita selesai.

Kemudian bagaiman cara menyentuh lapisan paling dalam? Ormawa perlu skillful merancang program dengan metode Backward Design. Mulai dari membayangkan Visi (kondisi dimana para lulusan di masa depan), kemudian detailkan SVKT yang diperlukan, dan kemudian turunkan jadi aktivitas. Ingat ya, Backward🥳

Soal berikutnya kapasitas organisasi.
Banyak pengurus burnout menggerakkan semua angkatan sekaligus. Difusi inovasi jelas: fokuskan energi pada 15% teratas yang punya bibit penggerak. Biarkan mereka jadi jembatan menarik mayoritas. Begitu pula: 100 mahasiswa sendiri-sendiri tetap 100, tapi 100 yang terhubung kuat, saling rujuk magang, beasiswa, lowongan, dampaknya eksponensial.

Pengurus perlu serius berhenti bikin proker silo satu per satu, mulailah rancang ekosistem antar-angkatan, jurusan, alumni. Identitasnya bergeser: bukan jadi EO kampus, rapi arsitek ekosistem kampus. Tugas arsitek bukan cari proker biar keliatannya banyak kegiatan, tapi mencari masalah yang layak diselesaikan🚀

Imah Babaturan

Bisnis pertama? Gagal. Kedua? Gagal juga. Ketiga, keempat, kelima, semua tumbang. Pegawai jualan ayam kabur bawa stok dan uang. Partner konveksi kabur bawa duit klien. Mobil dijual, modal habis.

Tapi kalau sudah lima kali bangkrut, takut bangkrut keenam tidak masuk akal lagi. Itulah mental Anggi dan Uyul ketika mulai Imah Babaturan. Modal cuma Rp45 juta pinjam keluarga. Garasi 100 meter di Kebon Bibit Bandung. Tongseng kambing resep ibu mertua. Tanpa mindset workshop, tanpa coaching motivasi, cuma pasrah terus jalan.

Sepuluh tahun kemudian, antrian setiap hari, food vlogger datang tanpa diundang, komunitas tumbuh sendiri di warung. Bukan karena strategi sat-set ala startup. Murni pendekatan dapur.

Polanya muncul setelah berbulan-bulan diamati. Saya coba beri nama Lima bumbu dapur ala Imah Babaturan.

🧅 Bawang untuk yang sudah hidup: bisnis lahir bukan dari riset pasar, tapi dari tongseng yang sudah biasa dimasak di rumah, jauh sebelum berpikir itu bisa jadi bisnis.

🧂Garam untuk mengubah keterbatasan jadi cerita: dapur kecil jadi menu mingguan, meja madrasah roboh dari Cimahi jadi identitas brand, parkir penuh jadi voucher minum gratis dari Batos.

🌱 Sereh untuk modal pertemanan: dijaga puluhan tahun sampai komunitas tumbuh sendiri, bukan dari networking transaksional.

🫚 Jahe untuk memimpin dengan hati tapi tegas: pas COVID dengan 40 pegawai, tidak satupun dipecat, semua diberdayakan antar frozen food.

🌶️ Cabai untuk berani bilang tidak: investor mata duitan, franchise utuh, pinjaman bank, semua ditolak demi karakter warung sebagai rumah teman.

Di Negeri ini yang dipenuhi narasi scale-up dan unicorn, Imah Babaturan adalah anomali yang menyegarkan. Lebih relevan untuk anak muda yang merintis kecil-kecilan, ketimbang case study Y Combinator yang tiap bab bahas billion-dollar exit. Tidak butuh modal besar, ide revolusioner, atau background fancy.

Cuma butuh kesediaan melihat ke dapur sendiri, mengakui yang sudah hidup, menamai keterbatasan jadi narasi, merawat pertemanan tanpa agenda, memimpin dengan hati yang tegas, dan tahu kapan harus bilang nggak. Gimana dengan resep bisnis kamu?

Connect Tanpa Sync = Chaos

Banyak organisasi hari ini bangga karena timnya “terkoneksi”. Semua ada di grup yang sama, semua pakai tools kolaborasi, semua bisa saling chat kapan saja. Meeting penuh, notifikasi gak berhenti, koordinasi jalan terus. Sekilas terlihat modern dan collaborative. Tapi pertanyaannya: connect semua, sync nggak?

Karena faktanya, banyak organisasi bukan kekurangan koneksi, mereka kekurangan sinkronisasi. Semua saling terhubung, tapi gak benar-benar bergerak ke arah yang sama. Diskusi ramai, tapi eksekusi lambat. Semua terlihat sibuk, tapi impact-nya kecil.

Di sinilah bedanya *network effect* dan “benang kusut”. Bedanya tipis banget.

Kalau koneksi dikelola dengan baik, organisasi bisa mengalami *network effect*. Informasi ngalir cepat, kolaborasi terasa ringan, dan satu ide kecil bisa berkembang jadi impact besar karena antar tim saling support. Semakin sehat koneksinya, semakin cepat organisasi belajar dan bertumbuh.

Tapi kalau koneksinya terlalu banyak tanpa arah dan tata kelola yang jelas, semuanya berubah jadi chaos. Semua orang sibuk koordinasi, tapi makin bingung siapa yang benar-benar responsible. Meeting bertambah, follow-up menumpuk, approval makin panjang. Energi akhirnya habis untuk menjaga sistem tetap jalan, bukan menciptakan dampak nyata.

Makanya organisasi modern gak cuma butuh koneksi, tapi juga orkestrasi. Karena organisasi hebat bukan yang paling ramai komunikasinya, tapi yang paling mampu membuat banyak orang bergerak ke arah yang sama tanpa saling bikin lelah 🙌🙌🙌

Tokonya tutup saat waktu sholat .Di atasnya berdiri masjid. Dan ia bertahan 15 tahun.

Tokonya tutup saat waktu sholat.
Di atasnya berdiri masjid. Dan ia bertahan 15 tahun.

Ada satu flagship fashion lokal di Jalan Sultan Agung Bandung yang masih ramai setelah 15 tahun. Namanya @houseofsmith . Ia sudah melewati tiga titik hampir bangkrut, pandemi yang menutup enam dari sebelas tokonya, dan gempuran kaos murah dari pabrik impor. Di atas tokonya berdiri masjid yang nyaman, dibangun dari hasil berdagang. Pemandangan yang ganjil di tengah industri fashion yang serba cepat dan bising.

Oscar, co-foundernya, punya rumus sederhana. Bisnis cuma bisa memilih dua dari tiga: Volume, Cash Flow, atau Margin.

Tahun 2021 sampai 2024, Smith mengejar Volume. Masuk marketplace, turunkan harga, kejar jumlah. Omset besar, tapi untung makin tipis karena fee platform naik dari 15% ke 22%. Sejak 2025 mereka ganti arah. Kejar Margin, perkuat offline, berani menaikkan harga. Banyak yang ragu. Tapi Q1 2026 menjawab sendiri. Traffic naik ke jutaan, keranjang belanja naik, omset ikut naik.

Ternyata menaikkan harga tidak selalu menurunkan permintaan, asal brandnya sudah dipercaya selama bertahun-tahun. Dan Smith tidak pernah mengubah segmennya: pasar motor, bukan pasar mobil. Tidak tergoda naik ke premium. Toko tetap tutup saat sholat. Kajian tetap jalan tiga kali seminggu. Sudah 15 tahun begitu. Oscar bilang, “Perintah langsung dari Allah saja masih ada yang dilanggar, apalagi aturan dari manusia. Jadikan ini ibrah, bukan sekadar SOP.”

Yang bisa dipelajari dari Smith sebetulnya sederhana. Bertahan lama itu bukan soal kaku, juga bukan soal nekat. Tapi soal tahu mana yang jadi jangkar, mana yang jadi layar. Nilai otentik, taqwa, amanah, keberpihakan, tidak pernah diadaptasi. Channel, harga, cara operasi, selalu diadaptasi.

Yang menarik dari Smith, ketaqwaan bukan dijaga karena ia membawa omset. Ia dijaga karena ia benar. Omset dan keberkahan datang belakangan, sebagai buah, bukan sebagai tujuan. Negeri ini tidak kekurangan brand lokal yang pintar. Yang langka adalah yang tahu mana yang harus dijaga apapun hasilnya, dan cukup sabar menunggu sampai keputusannya dibenarkan oleh waktu.

Di Balik Bioeconomy: Siapa yang Benar-Benar Diuntungkan?

Di ujung sebuah desa di Kalimantan, seorang petani membakar sisa jerami setelah panen. Bukan karena ia tidak tahu jerami itu bisa bernilai, ia tahu benar. Tapi tidak ada yang pernah datang menjelaskan caranya, atau memberinya hak untuk ikut menentukan.

Di tempat lain, di kota besar, di pabrik, di pasar luar negeri, orang lain mengolah bahan serupa menjadi produk senilai puluhan kali lipat. Inilah wajah nyata bioeconomy hari ini: sistem yang bertumpu pada alam dan kerja komunitas lokal, tapi hampir seluruh nilainya mengalir ke tempat lain.

Bukan karena petani itu tidak mampu. Tapi karena sistem ini tidak pernah dirancang untuk memberinya tempat di meja untuk bersama merancangnya.

Humanity Centered Design, adalah upaya untuk mengubah mekanisme ini, dimulai dari satu pertanyaan: Untuk siapa sebenarnya sistem ini dirancang? Pendekatan ini dimulai dengan urutan yang berbeda. Biasanya dimulai dari peluang pasar atau target produksi & kemudian komunitas lokal masuk belakangan, sebagai penerima manfaat atau latar foto laporan.

Nah, framework ini beda, ia dimulai dari orang yang paling jarang didengar: petani yang tanahnya menjadi bahan baku, ibu-ibu pengolah hasil hutan, nelayan yang tahu perubahan laut lebih dini dari siapapun.

Dari sana, prosesnya menelusuri ke mana nilai mengalir dan di mana ia berhenti, untuk menemukan bukan sekadar apa yang perlu diperbaiki, tapi mengapa masalah yang sama terus kembali meski sudah ada regulasi dan investasi.

Dalam praktiknya, HCD++ menggeser tiga hal yang selama ini dianggap wajar.

1. Keberhasilan tidak lagi diukur dari besarnya produksi, tapi dari berapa banyak nilainya yang kembali ke komunitas sumber.
2. Keterlibatan komunitas tidak lagi berarti hadir dalam sosialisasi program yang sudah jadi, tapi ikut menyusunnya sejak awal.
3. Dan solusi tidak lagi dicari dengan mendorong angka naik, tapi memahami mengapa komunitas terus tertinggal di sistem yang tidak bisa berjalan tanpa mereka.

Petani di Kalimantan itu mungkin tidak pernah mendengar kata HCD++, Tapi kalau suatu hari ada yang datang menanyakan pendapatnya sebelum program dimulai, bukan sesudah, ia akan tahu bahwa sesuatu akan lebih baik🍓

Lets Co-create!

Kita Semua Dilatih Cari Kerja, Tapi Dunianya Udah Nggak Sama

Narasi mencari pekerjaan sebagai tujuan utama hidup makin kehilangan relevansinya. Bukan cuma karena bekerja tidak penting lagi, tetapi karena struktur penciptaan kerja itu sendiri sedang bergeser.

Kita dibesarkan dengan asumsi sederhana: belajar → lulus → mencari kerja → stabil. Hari ini, rantai itu mulai terputus. Banyak lulusan sudah menjalani semua “tahapan yang benar”kuliah, magang, kirim CV ke mana-mana, tapi tetap kesulitan menemukan pijakan. Bukan karena individu gagal, tetapi karena sistem yang dulu menopangnya tidak lagi bekerja dengan cara yang sama.

Negeri ini sedang menghadapi tekanan fiskal, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian global yang nyata. Namun persoalannya lebih dalam dari itu. Kebijakan yang berorientasi jangka pendek, fragmentasi antar lembaga, dan siklus kekuasaan yang sempit membuat negara sulit hadir sebagai orkestrator penciptaan nilai. Akibatnya, lapangan kerja tumbuh secara sporadis, tidak pernah cukup untuk menampung gelombang lulusan baru setiap tahunnya.

Yang sebenarnya terjadi bukan sekadar “pekerjaan hilang”, tapi nilainya yang berpindah. Nilai ekonomi saat ini terkonsentrasi di platform, jaringan, dan ekosistem yang bisa mengorkestrasi solusi atas masalah nyata.

Yang dibutuhkan bukan lagi cuma sekadar tenaga kerja, tetapi kemampuan membaca masalah, menghubungkan aktor, dan menciptakan nilai dari kompleksitas. Strategi hidup bertahan para lulusan yang basisnya “mencari pekerjaan” menjadi sangat rentan justru karena bergantung pada struktur yang sedang ditinggalkan.

Maka yang perlu diubah bukan hanya strategi, tetapi cara berpikir. Dari “mencari kerja” menjadi “mengambil peran dalam menyelesaikan masalah.” Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang mau menerima saya?”, tetapi “di mana saya bisa mulai memberi nilai?” Siapa saja yang mampu mengidentifikasi masalah nyata dan menawarkan solusi yang terbukti dan bermanfaat, pada akhirnya akan menciptakan ruang kerjanya sendiri. Dalam dunia yang semakin kompleks, pekerjaan bukan lagi titik awal, melainkan konsekuensi dari kontribusi nyata yang bermanfaat🙌.

Mengapa Kita Membayar Mahal di Negeri Sendiri

Ada pertanyaan yang jarang kita ajukan secara serius: mengapa berobat di Malaysia lebih terjangkau daripada di negeri sendiri? Mengapa universitas negeri yang dibangun dengan dana publik justru terasa semakin jauh dari jangkauan publik itu sendiri? Jawaban yang lazim selalu berkisar pada inefisiensi atau korupsi. Padahal ada persoalan yang lebih mendasar: hampir seluruh institusi publik kita diposisikan sebagai unit penghasil pendapatan. Di saat itulah institusi yang seharusnya menjadi public enabler perlahan bertransformasi menjadi value extractor, dan masyarakat yang seharusnya dilayani berubah menjadi sumber penerimaan yang terus dioptimalkan.

Pergeseran ini tidak melahirkan pelaku yang dapat ditunjuk. Yang terjadi jauh lebih sistemik: absennya shared problem statement di antara seluruh aktor institusional. Masing-masing mengoptimalkan indikator kinerjanya sendiri tanpa ada yang mengikat mereka pada tujuan yang lebih besar. Rumah sakit mencapai target pendapatannya. Kampus mencapai target PNBP-nya. Birokrasi mencapai target retribusinya. Pada level mikro, semua terlihat berhasil. Namun pada level makro, sistem gagal menjawab satu pertanyaan mendasar: untuk siapa semua ini dibangun?

Di sinilah ecosystem thinking menjadi jawaban struktural. Negara-negara yang berhasil membangun layanan publik berkualitas tidak mencapainya melalui keunggulan anggaran semata. Malaysia dan Singapura berhasil karena seluruh aktornya bergerak dalam satu misi yang disepakati bersama, saling memperkuat, bukan saling memungut. Prinsip ini sejalan dengan nilai yang jauh lebih fundamental khairunnas anfa’uhum linnas, kemuliaan diukur dari seberapa dalam manfaat yang diberikan, bukan seberapa besar nilai yang diekstrak.

Tantangan sesungguhnya bukan pada keterbatasan sumber daya. Tantangan terbesar kita adalah keberanian untuk sepakat, sebagai institusi, sebagai sistem, sebagai bangsa, bahwa ada satu masalah yang harus dijawab bersama, dan masyarakat adalah alasan mengapa kita semua ada.​​​​​​​​​​​​, berupaya dengan sungguh-sungguh berkontribusi bagi kesejahteraanya, bukan kita, tapi mereka (baca: masyarakat)

(Bukan) Generasi Yang Lelah Tapi Belum Sampai Mana-Mana

Banyak orang hari ini bekerja lebih keras dari sebelumnya, mengambil pekerjaan tambahan, menjalankan side hustle, memangkas pengeluaran sekecil mungkin. Tapi pada akhir bulan, hasilnya sering kali hanya cukup untuk menjaga hari ini tetap berjalan. Bukan untuk naik. Hanya untuk tidak tenggelam. Dan yang menyakitkan bukan kelelahan itu sendiri, tapi kesadaran bahwa kerja keras yang sudah dituangkan habis-habisan terasa seperti tidak pernah cukup.

Masalahnya bukan pada individu yang kurang gigih. Masalahnya ada pada sistemnya. Ketika akses terhadap kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial masih rapuh, setiap guncangan kecil bisa meruntuhkan segalanya. Sakit sebentar. Kehilangan satu kontrak. Harga yang tiba-tiba naik. Hal-hal yang seharusnya hanya menjadi hambatan sementara, berubah menjadi krisis. Di sinilah kerja keras kehilangan fungsinya, bukan lagi tangga menuju kemajuan, melainkan roda yang berputar di tempat.

Di negeri lain, orang juga bekerja keras dan menghadapi tekanan. Tapi bedanya: ketika mereka jatuh, ada lantai yang menahan, bukan jurang yang menelan. Sistem mereka dibangun untuk menanggung risiko bersama, bukan melemparkan semuanya ke pundak individu. Dengan fondasi seperti itu, kerja keras punya makna berbeda, ia menjadi investasi masa depan, bukan sekadar tiket untuk bertahan hingga esok pagi.

Jadi pertanyaannya bukan apakah masyarakat kita mau bekerja keras. Jawabannya sudah jelas, mereka sudah melakukannya, setiap hari, tanpa henti. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah sistem yang kita bangun sudah layak untuk menerima kerja keras itu? Karena kemajuan sejati bukan lahir dari kerja keras semata. Ia lahir ketika kerja keras bertemu sistem yang adil dan memampukan. Selama pertemuan itu belum terjadi, yang kita sebut “maju” mungkin hanya nama lain dari kelelahan yang lebih rapi.

Konten Edisi Ramadan

Konten Edisi Ramadan;

Setiap manusia mendambakan hidup yang penuh keberkahan: keluarga yang sakinah, anak yang saleh, rezeki yang menenangkan, dan umur yang bermanfaat. Itulah fitrah. Barokah berarti kebaikan yang banyak dan menetap, bukan kenikmatan sesaat yang cepat hilang. Ia seperti air yang tertampung dan memberi manfaat berkelanjutan. Dalam Islam, keberkahan mencakup dunia dan akhirat sekaligus: hidayah dan pahala, juga rezeki dan ketenangan. Namun semangat “ngalap berkah” bisa keliru jika tidak dibangun di atas tauhid yang benar.

Tabarruk adalah ibadah, bukan sekadar tradisi atau simbol. Karena itu, ia harus tunduk pada wahyu. Tidak semua tempat, benda, atau orang bisa dianggap membawa berkah tanpa dalil yang sahih. Caranya pun harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, dan keyakinannya harus lurus: yang memberi berkah hanyalah Allah. Menetapkan sesuatu sebagai sebab tanpa dasar syariat termasuk syirik kecil; meyakini benda memberi manfaat secara mandiri adalah syirik besar. Kekeliruan ini sering lahir bukan dari niat buruk, tetapi dari kurangnya ilmu.

Islam membedakan jelas antara yang disyariatkan dan yang dilarang. Mengusap Hajar Aswad atau berdoa di Multazam ada tuntunannya. Namun mengusap tembok, membawa pulang tanah sebagai jimat, atau mencari berkah dari benda tanpa dalil bukan ajaran Nabi ﷺ. Keberkahan pada zat tubuh adalah kekhususan beliau dan tidak diwariskan kepada siapa pun. Keberkahan ulama terletak pada ilmu dan keteladanannya, bukan pada fisiknya. Pada akhirnya, mencari keberkahan bukan tentang mendekati simbol, tetapi mendekat kepada Allah, Sang Pemberi Berkah. “Wal barokatu minallah”, keberkahan itu datangnya dari Allah.

Disarikan dari Kajian Ramadhan bersama
Ustadz @hamdialbakry