Membedah Ekosistem Dakwah yang Mandiri: Catatan Seorang Periset Sekaligus Penerima Manfaat

Saya menulis ini bukan sebagai pengamat dari jauh, tapi sebagai orang yang ikut menjalaninya. Saya dan keluarga termasuk penerima manfaat ekosistem dakwah Ustadz @muhammadnuzuldzikri. Kami ikut kajiannya, menontonnya di YouTube, Safar, QurbanPlus, memakai apparel-nya, belajar tahsin gratis di HITS, membaca buku-bukunya, membelikan buku buat anak-anak, sampai ikut Half Deen. Semua itu ikut menguatkan perjalanan kami sekeluarga buat terus berbenah. Jadi saya mau jujur: saya bukan pengamat netral.

Hanya saja, karena pekerjaan saya meneliti ekosistem inovasi, saya tak bisa berhenti di rasa syukur. Saya penasaran, kenapa ekosistem ini makin terasa dekat dan makin terasa manfaatnya.

Yang pertama saya catat: dakwahnya menyebar luas, tapi tak menggantung pada sokongan luar. Ia membiayai dirinya sendiri. Pusatnya tetap ilmu. Kajiannya gratis, terbuka buat siapa saja, dan dari sana tumbuh yang lain: pembinaan keluarga, pendidikan anak, literasi Qur’an, layanan ibadah, sampai kegiatan sosial. Satu keluarga bisa didampingi dari urusan anak sampai ibadah; saya mengalaminya sendiri.

Yang paling menarik justru cara ia tumbuh. Orang datang, lalu mendapati manfaatnya: ilmunya nambah, hatinya tenang, keluarganya tertata. Lama-lama tumbuh kecintaan, dan yang sudah cinta jarang bisa diam. Yang tadinya cuma menyimak, ikut mengajak. Yang pernah dibantu, gantian membantu. Yang dulu dapat beasiswa belajar Qur’an, beberapa tahun kemudian giliran mengajar. Pintunya pun tak cuma buat yang berpunya; yang sederhana juga kebagian tempat.

Di sini POV periset saya jalan. Kekuatannya justru karena ia tak bergantung pada satu orang; semangatnya sudah pindah ke banyak orang. Penyebarannya dari mulut ke mulut, dibawa yang merasa terbantu. Selama niatnya dijaga, dakwah tetap tujuan dan sisanya cuma alat, arahnya tak gampang melenceng. Ilmu tetap di depan, tak disetir kepentingan lain. Kebaikan yang diteruskan jadi amal yang mengalir, walau orangnya berganti.

Pelajarannya sederhana tapi penting. Dakwah yang baik tak diukur dari yang hadir hari ini, tapi yang siap meneruskan besok. Kalau ada yang tanya buktinya, saya tak perlu mencari jauh. Kami penerima manfaat ekosistem yang humble ini ❤️

Jangan Minta Prompt ✍️Minta Ajari Kerangka Berpikirnya🧠

Jangan Minta Prompt ✍️
Minta Ajari Kerangka Berpikirnya🧠

Ukuran kematangan memakai AI bukan seberapa cepat pekerjaan selesai, tapi seberapa dalam kita paham sesudahnya. Repotnya, yang kita ukur sekarang hampir selalu kecepatan🏎️

Dulu orang stres karena kerja lama selesai; sekarang malah bingung karena semuanya selesai terlalu cepat. Tapi diam-diam mengganjal: ini benar-benar bekerja, atau cuma terlihat bekerja? Soalnya makin banyak yang selesai cepat, makin sedikit yang paham yang mereka kerjakan😟

Saya pernah, bersama tim, memperhatikan seseorang presentasi. Di permukaan keren, slide rapi, istilah canggih. Tapi begitu diminta menjelaskan lebih dalam, dia tidak bisa. Dia tidak paham yang ia sampaikan sendiri, logikanya berantakan. Itu bukan hasil berpikir, tapi hasil menyusun yang dibuat seolah-olah berpikir. Dan bukan satu orang.😟🧐😕🥹

Banyak mengira tantangan era AI adalah punya prompt yang canggih. Padahal yang menentukan bukan promptnya, tapi cara berpikir di belakangnya. AI cuma mempercepat isi kepala penggunanya: kalau yang masuk nalar matang, hasilnya makin tajam; kalau yang masuk kemalasan, ia cuma bikin kemalasan terlihat rapi. Maka pertanyaan yang benar ke AI bukan “beri saya jawabannya”, tapi “tunjukkan cara memikirkannya”.

Untuk pekerjaan yang intinya memahami, pemahaman itu pekerjaannya, bukan beban yang dialihkan ke mesin. Menyerahkannya bukan efisiensi, tapi cara berhenti berpikir tanpa terasa.

Jalan keluarnya bukan menjauhi AI, tapi cara kerja yang menjaga manusia tetap ikut berpikir, dan itu sudah punya nama: Hybrid Design Thinking. AI memperluas pilihan, manusia menentukan arah. Yang benar manusia dulu, baru AI mempercepat. Masalah muncul saat AI menjawab dulu, dan manusia tinggal menandatangani.

Jadi lain kali, jangan cuma minta hasilnya, minta AI menjelaskan cara berpikirnya, lalu susun ulang dengan kepala sendiri. Sebab bahaya terbesar era ini bukan mesin yang terlalu pintar, tapi manusia yang pelan-pelan terbiasa tidak lagi berpikir, lalu menganggap itu normal.✍️

Memeras Warga Saat Ekonomi Lesu: Ironi Target Fiskal Pemerintah Daerah.

Bayangkan seorang kepala daerah hari ini. Kasnya menipis: transfer dipangkas, ekonomi lesu, PAD malah turun. Tapi target kinerjanya tidak ikut menyusut. IKU dan target PAD yang dipatok di masa normal tetap harus tercapai, sementara pusat masih menilai daerah dari seberapa mandiri fiskalnya. Ukuran yang dibuat untuk menandai keberhasilan, di tengah krisis, berubah jadi perintah halus untuk mengeruk lebih keras✍️

Refleks paling gampang saat terdesak adalah menggenjot PAD: naikkan pajak, tambah retribusi, perketat pungutan. Masalahnya, warga juga sedang susah. Memeras daya beli yang sudah tipis sama saja memukul ekonomi yang sedang sakit, dan ujungnya PAD makin turun, bukan naik. Persis seperti pedagang yang sepi pembeli lalu menaikkan harga ke pelanggan yang tersisa: bukannya selamat, malah ditinggalkan.💔

Justru di saat seperti ini, sebagian jalan generatif bukan kemewahan jangka panjang, tapi pegangan jangka pendek. Menghidupkan aset dan BUMD yang menganggur adalah langkah paling murah, sebab tidak menambah beban siapa pun. Kemitraan menahan APBD yang kehabisan napas agar tidak memikul semuanya sendiri. Menahan diri menambah pungutan saat daya beli jatuh juga menjaga penerimaan tetap hidup, sebab warga yang masih bisa berbelanja adalah PAD yang masih ada. Membangun ekosistem penuh memang lambat, tapi langkah cepat tadi cukup untuk bertahan🧐

Maka pertanyaan sebenarnya bukan bagaimana memaksa PAD naik di tengah resesi, tapi apa yang masih layak diukur saat semuanya menyusut. Memaksakan target lama cuma menyisakan dua kekalahan: gagal di atas kertas, atau memeras warga sampai ekonominya makin ambruk. Memungut warga yang sedang susah ibarat membunuh ayam bertelur emas justru saat ayamnya sakit. Di masa darurat, target yang tak realistis perlu dinegosiasikan jujur, dan ukurannya digeser: bukan besarnya PAD, tapi dari mana ia datang dan apakah warga masih sanggup bertahan. Itu bukan mengakali kinerja, tapi menolak ukuran yang justru menghancurkan daerah yang ingin diselamatkannya🏁

Sibuk Bertanya “Bisa Bikin Apa?”, Lupa Bertanya “Siapa yang Beli?”.

Beberapa hari lalu melalui daring bertemu dengan 170 pengurus BUMDes dan Kopdes dari seluruh Indonesia. Program Desa BRILiaN 2026, @lppm.unsoed dan @desabrilian.official . Dari Ngawi, Luwu Timur, lereng Merapi, sampai pesisir Sulawesi Tengah.

Masing-masing bawa cerita sendiri. Kandang ayam sudah jadi tapi ternak belum datang lima bulan. Sirup sereh cabai telang beneran beda, tapi belum ketemu pasarnya. Sembilan unit usaha jalan semua, tapi pengurus belum bisa digaji.

Yang bikin penasaran bukan masalahnya. Polanya.

Hampir semua punya modal cukup. Lahan ada, bahan baku ada, warga siap bergerak. Tapi mulainya dari pertanyaan yang salah , bukan “siapa yang butuh ini?” tapi “apa yang bisa kita bikin?” Kebalik. Dan itu yang bikin banyak usaha desa stuck.

Yang paling membekas dari BUMDes Baruga, Luwu Timur. Bandeng dibudidaya, diolah, dijual di warung BUMDes sendiri. Jagung buat pakan ternak sendiri. Petani sekitar dikasih modal bibit, hasilnya diserap jadi bahan baku. Dia nggak nyebut itu ekosistem. Cuma cerita soal apa yang dikerjain setiap hari. Yang bikin saya diam: tidak sekali pun dia nyebut kata “inovasi.”

Ini yang Hatta bayangkan. Koperasi yang tumbuh dari dalam. Bukan dari instruksi. Bukan dari atas. Dari kebutuhan nyata. Dari kerja setiap hari.

Negeri ini punya 75.000 lebih desa. Di baliknya ratusan ribu pengurus yang rapat malam, bikin laporan di sela kerja utama, makin sering tanpa tahu harus mulai dari mana. Mereka nggak kurang motivasi. Kurang cara baca situasinya sendiri. Hari ini saya coba hadir untuk itu. Tapi yang dibawa pulang bahkan jauh lebih besar.🙌🙌

Bukan Tentang Menyembelih, Tapi Tentang Melepaskan

Setiap Idul Adha, kita sibuk dengan teknis: hewan apa, berapa kilo, siapa dapat bagian mana. Wajar. Tapi ada yang lebih besar dari semua itu, yang justru kita lewatkan karena terlalu sibuk merayakannya. Kisah Nabi Ibrahim alaihi salam bukan dongeng lama. Ia blueprint ketahanan mental yang masih relevan untuk siapa pun yang hidupnya penuh tekanan dan pilihan tanpa jawaban mudah. Yang menarik: kisah ini tidak dimulai dari kemenangan. Ia dimulai dari situasi yang kelihatannya tidak masuk akal sama sekali.

Bayangkan: Hajar ditinggal di lembah tanpa air, tanpa tanaman, tanpa tetangga. Tidak ada sinyal. Tidak ada plan B. Ia bertanya tiga kali. Tidak dijawab. Baru saat ia tanya, “Apakah ini perintah Allah?”, Nabi Ibrahim alaihi salam jawab satu kata: “Bala.” Iya. Hajar tidak butuh penjelasan panjang. Cukup tahu ini perintah Tuhan, ia langsung bisa melangkah. Kita hari ini punya banyak hal, data, opsi, grup diskusi, tapi makin susah mengambil keputusan karena takut salah. Hajar punya nol opsi, dan justru paling tenang.

Nabi Ibrahim alaihi salam menunggu 86 tahun untuk seorang anak. Lalu diperintahkan menyembelihnya. Ini bukan kisah kekerasan. Ini tentang sesuatu yang lebih susah diakui: kita sering terlalu takut kehilangan sesuatu yang kita cintai sampai hal itu pelan-pelan jadi yang paling mengendalikan kita. Kita semua punya “Ismail” masing-masing, cuma bentuknya beda. Ada yang berupa jabatan yang tidak berani dilepas meski sudah tidak cocok. Ada yang berupa reputasi yang dijaga sampai lupa tujuan awalnya. Nabi Ibrahim alaihi salam tidak diminta membunuh Ismail. Ia diminta melepas cengkeraman atas Ismail. Itu yang berbeda.

Kurban menggerakkan ekonomi peternak di pelosok yang tidak pernah masuk berita. Itu nyata dan sering kita sepelekan. Tapi pelajaran paling praktis dari Idul Adha bukan cuma soal itu. Kita perlu jujur: apa yang kita sebut aset hari ini, sebagian mungkin cuma hal yang kita takut lepaskan, bukan karena nilainya, tapi karena sudah terlanjur melekat. Nabi Ibrahim alaihi salam mengajarkan bahwa rasa takut kehilangan itu bisa dilatih. Dan kalau belum dilatih, kita akan terus berhenti tepat sebelum hal penting terjadi.

Wisuda: Merayakan Keberhasilan atau Sekadar Kebiasaan?

Setiap wisuda, kampus mengumumkan angka. Sekian persen lulus tepat waktu. Sekian persen IPK di atas tiga koma. Seremoni berjalan khidmat, spanduk terbentang, orang tua berfoto bangga. Dan tahun depan, siklus yang sama berulang🙌

Yang tidak masuk ke dalam angka itu: berapa banyak dari mereka yang, enam bulan kemudian, berdiri di depan dunia nyata dan merasa tidak tahu harus mulai dari mana. Bukan karena bodoh. Tapi karena empat tahun belajar lebih banyak melatih mereka menjawab tanpa secara cermat mendampingi perkembangan kemampuan berpikir kritisnya.

Sementara di luar, ekonomi sedang tidak murah hati. Industri menyerap lebih sedikit dari yang dijanjikan, AI berlari cepat dan pasti, mulai mengerjakan hal-hal yang dulu disebut kompetensi. Lapangan kerja yang ada pun bergeser jauh lebih cepat dari kurikulum yang bisa mengejarnya.

Di sinilah masalahnya bukan soal individu yang kurang keras belajar. Masalahnya adalah sistem yang mengukur keberhasilan dari hal yang mudah diukur, waktu dan nilai, bukan dari hal yang penting: apakah seseorang mampu membaca situasi yang belum punya nama, merumuskan pertanyaan yang tepat, dan berpikir ketika tidak ada kunci jawaban. Persoalan nyata tidak datang dalam format pilihan ganda. Ia datang ambigu, berlapis, dan tidak sabar.✍️

Dunia tidak sedang kekurangan sarjana. Yang langka adalah mereka yang tahan bukan karena hafal banyak, tapi karena bisa belajar ulang dengan cepat. Di era ketika AI bisa menggantikan kompetensi teknis dalam hitungan bulan, yang tersisa sebagai keunggulan manusia adalah cara berpikir, bukan isi kepala. Jika pendidikan tinggi belum serius menjawab itu, maka yang kita rayakan setiap wisuda bukan keberhasilan melainkan kebiasaan🧐

Collective Jenius

Di banyak institusi kita, ada ritual yang berulang setiap tahun: rapat koordinasi lintas divisi yang dihadiri banyak orang, menghasilkan notulen tebal, lalu menguap tanpa jejak dalam tiga minggu.

Bukan karena pesertanya tidak kompeten. Bukan karena niat kerja samanya tidak tulus. Tapi karena begitu rapat selesai, setiap orang kembali ke sistem yang mengukur keberhasilannya secara terpisah, melaporkan ke atasan berbeda, dan bersaing memperebutkan anggaran dari sumber yang sama. Inilah kondisi un-collective, bukan sekadar tidak berkolaborasi, tapi secara aktif menghalangi potensi kolektif yang sebetulnya sudah ada.

Ego sektoral yang sering kita keluhkan bukan soal karakter buruk. Dia adalah respons paling rasional terhadap sistem yang menghadiahi kompetisi antar unit, bukan kontribusi kolektif. Ketika KPI divisi A tidak terhubung dengan keberhasilan divisi B, berbagi sumber daya terasa seperti kerugian, bukan investasi. 🙌

Ketika koordinasi resmi butuh tiga surat dan dua disposisi, inisiatif kolaboratif mati sebelum sempat dicoba. Sistem uncollective tidak butuh orang jahat, dia cukup butuh orang-orang waras yang beradaptasi terhadap insentif yang salah🥳

Yang paling ironis: orang-orangnya sebetulnya ingin berkolaborasi. Percakapan informal ☕️☕️☕️ lintas divisi sering jauh lebih produktif dari rapat koordinasi resmi. Solusi terbaik lahir di lorong kantor, bukan di ruang sidang. Tapi sistem kita tidak pernah menghargai lorong, hanya menghargai notulen✍️. Perlahan, orang-orang belajar: kalau tidak ada yang mencatat, seolah tidak ada yang terjadi.

Bergerak dari un-collective menuju collective genius tidak dimulai dari workshop kolaborasi satu hari. Dia dimulai dari keberanian menggugat arsitekturnya, cara mengukur keberhasilan, cara merancang insentif, cara memimpin tanpa memonopoli keputusan.

Collective genius bukan kondisi yang datang sendiri. Dia adalah pilihan yang dibuat setiap hari. Pertanyaannya bukan apakah orang-orang kita mampu berkolaborasi, mereka mampu. Pertanyaannya: apakah kita cukup serius untuk membongkar sistem yang selama ini menghalangi mereka? ✨

Inspired by @h.setyowibowo 🙏

Ilmu Bisa Dicopy; Rezeki Ga Bisa Dipaste

Kita hidup di zaman yang terlihat produktif, tetapi diam-diam melelahkan banyak orang. Pagi dimulai dengan target, malam ditutup kecemasan soal tagihan dan masa depan. Kita diajarkan bahwa gelar, kerja keras, dan karier yang rapi pasti berujung pada kesejahteraan.

Namun realitas sering bergerak di luar logika itu. Ada sarjana yang hidupnya terseok-seok, sementara ada orang yang tak terlalu “akademis” justru lebih mapan. Akhirnya hidup berubah menjadi arena perbandingan. Media sosial membuat semua orang tampak berhasil, lalu tanpa sadar kita merasa gagal hanya karena tertinggal dari pencapaian orang lain.

Di tengah tekanan itu, jalan pintas mulai terlihat masuk akal. Pinjol, judol, flexing, sampai pekerjaan yang mengorbankan integritas perlahan dianggap normal selama menghasilkan uang. Sistem hari ini terlalu sering memuja hasil, tetapi abai pada ketenangan batin manusia.

Ironisnya, banyak orang terlihat kaya di luar, tetapi hidup dalam kecemasan yang tak pernah selesai. Mereka punya akses ke mana-mana, tetapi kehilangan tidur nyenyak. Kita terlalu lama mengira rezeki hanya soal nominal, padahal ada orang bergaji biasa yang hidupnya jauh lebih damai dibanding mereka yang rekeningnya penuh tetapi pikirannya kosong.

Mungkin karena itu, definisi “cukup” perlu disusun ulang. Bukan berarti berhenti berusaha, tetapi berhenti hidup dalam kepanikan yang terus dipelihara sistem. Sebab tidak semua hal bisa dipaksa dengan ambisi dan rasa takut. Ada yang datang karena kerja keras, ada pula yang tiba tepat ketika waktunya datang. Dan mungkin bentuk kekayaan paling langka hari ini bukan soal seberapa besar penghasilan seseorang, melainkan kemampuan untuk tetap tenang di dunia yang terus membuat manusia merasa kurang✨

Ketika Institusi Menyembah IKU; Semua terlihat baik, kecuali realitas

Ketika Institusi Menyembah IKU;
Semua terlihat baik, kecuali realitas

Banyak organisasi hari ini, pemerintah, universitas, NGO, bahkan perusahaan, perlahan lebih sibuk mengejar angka dibanding menyelesaikan masalah nyata. Dashboard harus hijau, laporan harus rapi, KPI harus aman. ASN bekerja berdasarkan checklist, dosen mengejar publikasi, NGO mengejar jumlah peserta, perusahaan mengejar growth metric. Semuanya terlihat produktif dan terukur, tetapi kehidupan orang-orang yang seharusnya dilayani sering kali tidak benar-benar berubah. Organisasi akhirnya sangat aktif secara administratif, tetapi lemah dalam menghadirkan dampak yang terasa nyata🌱

Ironisnya, semakin banyak yang diukur, masalah justru terasa semakin kompleks. E-TLE membuat pelanggaran lalu lintas semakin terdata, tetapi jalan tetap macet. Kampus menghasilkan semakin banyak riset, tetapi lulusan tetap kesulitan bekerja dan industri merasa dunia akademik makin jauh dari kebutuhan nyata. Program pemerintah terus bertambah, tetapi masyarakat tetap merasa jauh dari solusi. Karena pada akhirnya banyak organisasi menjadi sangat ahli mengelola indikator, tetapi kehilangan kemampuan memahami akar persoalan yang sebenarnya terjadi di lapangan😕

Dalam jangka panjang, lahirlah budaya performatif, semua terlihat baik di laporan, tetapi realitas berjalan lambat. Presentasi semakin meyakinkan, jargon semakin canggih, tetapi inovasi melemah, orang-orang di dalam organisasi mulai lelah, dan publik perlahan kehilangan kepercayaan terhadap institusi. Karena itu perubahan tidak cukup dimulai dari mengganti KPI atau membuat nomenklatur baru. Yang lebih penting adalah mengubah cara organisasi memahami keberhasilan. Sebab indikator seharusnya menjadi kompas, bukan tujuan akhir 🏁

“The test of a first-rate government is how well it responds to the needs of its people.”
Lee Kuan Yew

Kerja Kerja Kerja Sampai Mana?

Banyak orang hari ini keliatan sibuk banget. Kalender penuh, meeting terus, deadline numpuk, notifikasi kerja masuk bahkan sebelum tidur. Tapi anehnya, makin sibuk malah makin kosong. Kerja akhirnya cuma jadi mode survival: bangun, kerja, capek, repeat. Kita hidup di era yang sering mengukur value manusia dari jabatan, produktivitas, dan seberapa “successful” dia terlihat di depan orang lain. Padahal dalam Islam, kerja bukan cuma soal cari uang atau naik karier.

Dalam kajian *40 Hadits Tentang Karyawan & Pengusaha* oleh Ustadz Saiful Rahmat, dijelaskan satu konsep penting yang sering hilang di dunia kerja hari ini: *itqan*. Simpelnya, jangan asal jadi. Jangan cuma “yang penting submit”, “yang penting hadir”, atau “yang penting keliatan sibuk”. *Itqan* adalah mindset untuk memberikan kualitas terbaik dengan sungguh-sungguh, teliti, dan penuh tanggung jawab, bahkan saat gak ada yang melihat atau mengapresiasi. Karena buat seorang muslim, kualitas kerja bukan cuma urusan profesionalisme dunia, tapi juga bagian dari ibadah.

Makanya presentasi yang kita bikin, customer yang kita layani, laporan yang kita kerjain, desain yang kita revisi, sampai chat yang kita kirim ke klien, semuanya bisa bernilai di sisi Allah kalau dilakukan dengan jujur dan amanah. Bahkan dalam Islam, bekerja untuk menafkahi keluarga, membantu orang tua, dan menjaga diri agar tidak menjadi beban orang lain termasuk perjuangan di jalan Allah. Artinya, kerja halal dengan niat dan cara yang benar itu bukan aktivitas yang “terlalu duniawi”. Justru bisa jadi jalan menuju keberkahan dan kemuliaan.

Masalahnya, dunia hari ini sering mendorong kita kerja demi validasi. Kejar title, pujian, angka, exposure, dan lifestyle. Sampai kadang lupa kalau yang bikin hati tenang bukan cuma nominal di rekening, tapi keberkahan dalam prosesnya. Karena pada akhirnya, skill mungkin bikin orang diterima kerja, tapi trust yang bikin orang benar-benar dihargai. Dan trust lahir dari orang-orang yang punya *itqan*: kerjanya rapi, integritasnya dijaga, gak manipulatif, gak leha-leha saat diberi amanah, dan tetap maksimal walau gak ada applause dari manusia🙌