Universitas YARSI

Hari ini, ketika mengajar di Program MARS Universitas YARSI, saya merasakan sesuatu yang jarang hadir: sebuah ruang belajar yang benar-benar hidup. Para calon pemimpin rumah sakit ini datang bukan hanya dengan buku catatan, tetapi dengan kegelisahan, harapan, dan keberanian untuk berubah. Di wajah mereka saya melihat kesungguhan yang tidak bisa dibuat-buat, kesungguhan untuk menjadi pemimpin yang lebih baik bagi ribuan manusia yang akan mereka layani.

Diskusi kami tidak sekadar tentang inovasi. Itu tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana keputusan seorang direktur rumah sakit bisa menentukan apakah seorang pasien merasa aman, apakah seorang perawat merasa dihargai, apakah sebuah keluarga merasa didengar. Dan ketika para peserta mulai mengaitkan teori dengan realitas yang mereka temui setiap hari, saya melihat kilatan-kilatan kesiapan untuk memimpin dengan hati sekaligus pikiran.

Ruang belajar seperti ini selalu membuat saya rindu, tersentuh. Ada sesuatu yang terasa magical ketika orang-orang yang peduli berkumpul, membuka diri, dan mencoba menjadi versi terbaik dari dirinya demi orang lain. Jika energi seperti ini terus tumbuh, saya percaya masa depan rumah sakit Indonesia akan diisi oleh pemimpin yang bukan hanya cerdas mengambil keputusan, tetapi juga tulus menjaga martabat manusia, berlomba-lomba melahirkan kebermanfaatan.

@universitasyarsi đź’™

Inovasi

Inovasi bukan sekadar tentang melahirkan hal baru, melainkan tentang menghadirkan makna yang lebih dalam bagi kehidupan. Di tengah hiruk-pikuk ide dan teknologi, banyak organisasi lupa bahwa inti inovasi bukanlah kebaruan, melainkan keberpihakan pada manusia. Inovasi yang bermakna selalu dimulai dari keberanian membaca realitas, menafsirkan keresahan, dan menyalakan perubahan. Dari sinilah tiga poros inovasi lahir: Problem, Opportunity, dan Progress—tiga langkah yang saling menaut, membentuk perjalanan dari empati menuju dampak.

Segalanya bermula dari Problem. Di titik ini, kita belajar mendengar kembali suara yang sering diabaikan: kegelisahan pengguna, hambatan proses, atau ketimpangan sistem yang membuat hidup terasa tidak adil. Rasa tidak nyaman inilah yang menjadi bahan bakar empati. Namun, berhenti di sini hanya akan membuat inovasi terjebak dalam siklus perbaikan tanpa arah yang jelas, memoles gejala tanpa menyentuh akar. Maka langkah berikutnya adalah menemukan Opportunity, yaitu kemampuan untuk melihat sisi terang di balik masalah: kesempatan untuk membangun makna baru, mencipta nilai, dan menata ulang sistem agar lebih manusiawi.

Dari peluang inilah muncul dorongan untuk bergerak menuju Progress. Kemajuan menjadi wujud nyata dari keberhasilan inovasi, saat ide tidak hanya indah di atas kertas, tetapi hidup dalam praktik dan memberi manfaat nyata. Progress bukan sekadar soal hasil, melainkan tentang keberanian mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara berkolaborasi. Ketika empati menjelma aksi dan aksi menghadirkan perubahan yang dirasakan, di situlah inovasi menemukan maknanya.

Akhirnya, inovasi bukan lagi proyek sesaat, tetapi perjalanan panjang memahami manusia dan memperbaiki dunia bersama. Ia menuntut kita untuk terus bergerak; dari masalah menuju peluang, dari peluang menuju kemajuan, dan dari kemajuan menuju keberlanjutan. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah ide layak disebut inovasi bukan seberapa baru bentuknya, tetapi seberapa dalam ia menyentuh kehidupan dan meninggalkan jejak perubahan.

“Innovation is not a project to finish , it’s a lifelong journey of understanding people and improving the world together”

Inovasi Lama Tidak Akan Menyelamatkan Kita

Inovasi Lama Tidak Akan Menyelamatkan Kita

Selama ini, banyak organisasi menganggap efisiensi sebagai bentuk inovasi. Padahal efisiensi tidak menciptakan nilai baru; ia hanya memperpanjang napas sistem lama. Seperti mempercantik rumah di atas tanah yang mulai amblas—indah sesaat, tapi perlahan kehilangan pijakan. Sementara itu, dunia sudah bergerak pada model baru yang bukan hanya memperbaiki kinerja, tetapi mendefinisikan ulang bagaimana nilai diciptakan dan dibagikan. Innovation Matrix hadir untuk menegaskan bahwa efisiensi hanyalah titik awal perjalanan inovasi, bukan tempat kita berakhir.

Perubahan nyata dimulai ketika kita memasuki Kuadran Disruptive. Pada tahap ini, inovasi tidak lagi fokus menyempurnakan apa yang sudah ada, tetapi membuka akses baru bagi mereka yang sebelumnya tidak terlayani. Inilah wilayah para pengubah permainan; mereka yang tidak sekadar mengikuti arus masa depan, tetapi menciptakan arah baru yang lebih inklusif dan relevan.

Perjalanan meningkat ke Kuadran Architectural, di mana orientasi inovasi bergeser dari produk ke ekosistem. Organisasi tidak lagi berdiri sebagai pemain tunggal, melainkan menjadi penghubung dan penggerak kolaborasi lintas sektor. Pertanyaan strategis pun berubah: bukan lagi “bagaimana kita menang?”, tetapi “bagaimana kita membangun sistem yang memungkinkan semua pihak tumbuh bersama?”.

Puncaknya adalah Kuadran Exponential, tempat inovasi menjadi kekuatan pencipta masa depan. Di sini, organisasi melampaui batas industri konvensional dan membangun zona nilai baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Pada titik ini, organisasi tidak sekadar beradaptasi dengan masa depan; mereka menjadi arsitek masa depan itu sendiri.

Pilihan kita semakin jelas: bertahan di zona efisiensi dan perlahan ditinggalkan, atau bergerak menuju inovasi eksponensial dan menjadi pusat gravitasi perubahan global. Inilah saatnya berhenti bermain dalam aturan lama, dan mulai menciptakan masa depan yang kita inginkan🎉

Kreativitas

Kreatif adalah identitas individu, tetapi kreativitas adalah energi kolektif. Tugas orang kreatif adalah menyalakan pola pikir itu pada orang lain.

Setiap individu bisa memiliki sisi kreatif, namun sifat kreatif tidak muncul secara otomatis. Ia adalah karakter unik, sebuah pola pikir yang melihat dunia dari sudut berbeda, mengganti “apa adanya” dengan “apa yang mungkin.” Kreatif adalah identitas personal, seperti sidik jari mental yang membedakan satu individu dari yang lain, dan karena itulah ia tidak bisa disalin begitu saja.

Sebaliknya, kreativitas adalah energi yang dapat direkayasa. Kreativitas lahir dari proses, bukan hanya bakat. Dengan ekosistem yang tepat, lingkungan yang mendorong pertanyaan kritis, eksperimen berani, dan kolaborasi lintas batas; kreativitas dapat muncul berulang, meluas, dan direplikasi. Kreativitas bukan milik segelintir orang, tetapi menjadi kekuatan kolektif ketika sistemnya dirancang dengan benar.

Dalam ekosistem seperti ini, tugas orang kreatif bukan hanya menghasilkan ide, tetapi menularkan cara berpikirnya. Mereka berperan sebagai katalis; mengajarkan pola berpikir eksploratif, menstimulasi keberanian mencoba, dan menginspirasi orang lain untuk melihat peluang di balik masalah. Dengan demikian, dari satu individu kreatif lahirlah budaya kreativitas yang berkelanjutan dan berdampak luas.

🎉

User-Centric: Titik Nol Inovasi Eksponensial

User-Centric: Titik Nol Inovasi Eksponensial

User-centricity bukan sekadar teknik mendengarkan kebutuhan pelanggan, melainkan perubahan paradigma dalam cara organisasi mendefinisikan nilai. Pada tahap inovasi yang masih “operational-driven”, fokus perusahaan biasanya adalah efisiensi internal dan pemenuhan target administratif. Namun, organisasi dengan mindset user-centric melihat pengguna sebagai sumber insight strategis, bukan sebagai objek layanan.

Setiap solusi dirancang berangkat dari realitas emosi, perilaku, dan konteks operasional pengguna, sehingga inovasi bukan hanya menjawab masalah, tetapi menciptakan pengalaman baru yang mengubah cara pengguna berinteraksi dengan ekosistemnya.

Dalam Innovation Maturity Matrix, pergeseran menuju user-centricity menandai transisi dari inovasi reaktif menuju inovasi proaktif dan eksponensial. Pada tingkat maturity yang lebih tinggi, perusahaan tidak hanya meningkatkan proses yang ada (exploit), tetapi mulai menciptakan model baru (explore) dan membangun ekosistem (exponential). Inovasi yang matang bukan lagi diukur dari jumlah aplikasi atau teknologi yang diluncurkan, tetapi dari kemampuan solusi tersebut menciptakan nilai nyata bagi pengguna, memperkuat brand positioning, membuka sumber pendapatan baru, dan meningkatkan trust serta engagement stakeholders.

Pada puncak maturity, user-centricity menjelma menjadi human-centric innovation, di mana pengguna tidak lagi diposisikan sebagai konsumen, tetapi sebagai co-creator dalam perjalanan transformasi perusahaan. Inilah fase ketika inovasi tidak berhenti pada pilot project, melainkan menjadi sistem yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan KPI korporasi. Dengan mindset ini, inovasi tidak hanya efisien pada hari ini, tetapi relevan dan adaptif terhadap masa depan. Artinya, user-centricity bukan sekadar pendekatan presentasi—ini adalah instrumen strategis untuk memastikan inovasi menjadi penggerak keberlanjutan, bukan sekadar aktivitas jangka pendek.

In innovation, the user is not the endpoint, they are the starting line❤️

Co Innovation Radical Collaboration

Di tengah dunia yang serba digital, banyak organisasi sibuk mengejar sistem terintegrasi, teknologi canggih, dan berbagai platform pintar. Tapi ada satu pertanyaan mendasar yang jarang ditanyakan: apakah manusia di dalamnya sudah punya pola pikir sebagai bagian dari ekosistem? Karena faktanya, sistem boleh terhubung, tapi kalau orang-orangnya tetap bekerja dalam silo, relasi tidak tumbuh, dan kolaborasi hanya jadi slogan, maka sistem itu tidak akan menghasilkan nilai. Michael Lewrick (2020) mengingatkan bahwa ekosistem bukan soal koneksi digital semata, melainkan tentang interaksi yang hidup, nilai bersama, saling percaya, dan tujuan kolektif.

Ekosistem bukan sekadar sistem yang dibesarkan skalanya. Ia adalah cara berpikir dan cara bekerja yang menyadari bahwa tak satu pun aktor bisa berjalan sendiri. Keunggulan kompetitif hari ini, menurut Teece (2007), bukan lagi soal sumber daya internal, tapi soal seberapa baik organisasi bisa membangun relational capabilities. Tapi sayangnya, masih banyak organisasi yang mengklaim ingin berjejaring, tapi tetap mengukur kinerja secara individu. Mereka bilang ingin kolaboratif, tapi insentifnya tetap kompetitif. Di sinilah sering terjadi disconnect antara niat dan struktur.

Dalam ekosistem yang sehat, kepemimpinan tidak lagi berpusat pada satu figur dominan. Ia menjadi peran orkestratif, menyatukan peran-peran berbeda agar menghasilkan harmoni (Ansell & Gash, 2007). Bukan pemimpin yang memberi semua jawaban, tapi yang memfasilitasi percakapan bermakna. Di sisi lain, organisasi juga perlu sadar bahwa indikator seperti revenue dan produktivitas (lag indicators) harus dilengkapi dengan lead indicators seperti frekuensi interaksi lintas tim, keterlibatan emosional, dan rasa percaya (Kaplan & Norton, 1996). Karena ekosistem bukan hanya tentang hasil, tapi tentang proses membangun hasil bersama.

Transformasi itu bukan soal ganti software atau tambah tools. Intinya ada di orang-orangnya, gimana mereka terhubung, saling percaya, dan tumbuh bersama. Yang bakal bertahan nanti bukan yang paling cepat, tapi yang paling bisa jalan bersama menuju shared vision yang sama sama dipahami ✨

Co-Creation:Bukan Tebak-Tebakan Solusi

Co-Creation:
Bukan Tebak-Tebakan Solusi

Pernah merasa solusi yang kita rancang sudah hebat, tapi ternyata tidak dipakai oleh pengguna? Bukan karena idenya buruk, tapi karena kita terlalu cepat bersolusi tanpa memahami secara utuh kebutuhan nyata di lapangan. Di sinilah co-creation menjadi krusial. Kita tidak bekerja untuk pelanggan, tapi bersama mereka, berkolaborasi sejak awal untuk menggali persoalan yang sebenarnya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Agile Scrum, yang menekankan iterasi, umpan balik cepat, dan pembelajaran berkelanjutan berbasis realitas pengguna.

Dalam design thinking, empati adalah fondasi. Kita diajak untuk masuk ke dunia pengguna melalui observasi, wawancara, shadowing, hingga role-playing. Tapi empati saja tidak cukup. Ia harus dikaitkan ke dalam sistem kerja yang berulang dan terstruktur. Di sinilah peran daily standup dan weekly sprint dalam Scrum menjadi penting—bukan hanya untuk menyelaraskan tim secara teknis, tapi juga untuk memastikan arah inovasi tetap terhubung dengan konteks dan dinamika pengguna yang terus berubah. Proses ini bukan sekadar delivery, tapi discovery yang berkelanjutan.

Apa yang kita lakukan di meja-meja diskusi internal, baik saat sprint planning, review, maupun retrospective adalah upaya memvalidasi kembali asumsi, temuan, dan arah kerja. Validasi tidak hanya dilakukan di awal proyek, tapi menjadi napas di setiap siklus kerja. Kita membiasakan diri bertanya: “Apakah solusi ini masih relevan? Apakah yang kita pahami tentang pelanggan benar adanya?” Dengan setiap putaran sprint, solusi yang dibangun menjadi makin tepat sasaran, dan probabilitas lakunya di pasar pun meningkat secara signifikan. Kita tidak lagi bergerak berdasarkan dugaan, tapi berdasarkan bukti.

Inilah mengapa orang kreatif dalam ekosistem inovasi modern bukan yang paling cepat memberi jawaban, tapi yang paling sabar dan konsisten memahami. Co-creation dan Agile mengajarkan bahwa inovasi bukanlah produk akhir, melainkan proses yang terus bergerak, tumbuh, dan terkoneksi dengan kehidupan nyata pengguna. Dalam irama daily dan weekly, kita membangun bukan hanya hal yang baru, tapi hal yang benar-benar dibutuhkan, digunakan, dan berdampak.

Kreativitas

Di era sekarang, kreativitas bukan lagi soal melukis atau mencipta lagu semata. Ia telah menjadi bahan bakar utama dalam membangun ekonomi. Dalam konteks ekonomi kreatif, kreativitas adalah kemampuan untuk melihat sesuatu yang biasa secara luar biasa, mengubah cerita lokal jadi produk global, menjadikan budaya sebagai solusi, dan menjahit identitas jadi peluang. Menurut UNCTAD (2010), ekonomi kreatif adalah titik temu antara ide, budaya, teknologi, dan ekonomi yang mendorong pertumbuhan secara inklusif dan berkelanjutan.

Tapi ide saja tidak cukup. Kreativitas butuh dieksekusi, dan di sinilah peran inovasi masuk. Inovasi adalah proses menjadikan ide kreatif itu menjadi nyata dan berguna. Dalam banyak kasus, inovasi di sektor kreatif muncul bukan dari laboratorium, tapi dari jalanan, dari obrolan komunitas, atau dari keresahan yang diolah jadi aksi. Seperti ketika kerajinan tangan lokal dikawinkan dengan digitalisasi, atau musik tradisional diberi ruang di platform global, semua itu adalah bentuk inovasi kontekstual.

Nah, agar inovasi ini tidak hanya jadi “proyek keren sesaat”, dibutuhkan model bisnis yang solid. Model bisnis membantu ide dan inovasi berjalan dalam sistem yang berkelanjutan. Ia menjawab pertanyaan sederhana tapi krusial, siapa yang akan menggunakan ini, bagaimana nilainya ditukar, dan bagaimana bisa terus tumbuh? Banyak komunitas kreatif yang dulunya hanya berkarya, kini mulai menyadari pentingnya struktur bisnis agar karya mereka punya napas panjang dan berdampak luas (Bekraf, 2018, Osterwalder & Pigneur, 2010).

Jadi sebenarnya, kreativitas, inovasi, dan model bisnis itu saling terhubung. Kreativitas adalah titik awal, inovasi adalah proses perubahan, dan model bisnis adalah cara bertahan. Di titik pertemuan ketiganya, kita melihat wajah baru ekonomi, yang bukan hanya mengejar pertumbuhan, tapi juga kebermaknaan. Dan mungkin, di situlah letak masa depan yang layak kita perjuangkan bersama.

Diskusi bareng @galihsedayu
Difoto ciamik oleh maestro foto @dudisugandi

Pola Pikir Pemimpin: Efesiensi atau Inovasi

Kamu lebih suka rencana detail atau spontan menciptakan peluang? Yang mana gaya kamu?

Dalam kepemimpinan, pemimpin sering kali dihadapkan pada dua pendekatan utama: Managerial Thinking dan Entrepreneurial Thinking. Keduanya tidak hanya penting, tetapi juga saling melengkapi, tergantung pada situasi dan tantangan yang dihadapi. Namun, memahami kapan harus berfokus pada efisiensi dan kapan menciptakan inovasi adalah kunci keberhasilan kepemimpinan modern.

Managerial Thinking adalah pendekatan berbasis efisiensi, kontrol, dan prediktabilitas. Pola pikir ini cocok untuk lingkungan yang stabil, di mana tujuan telah ditentukan dengan jelas, dan hasil perlu dicapai melalui proses yang terstruktur. Pemimpin yang menggunakan pendekatan ini memaksimalkan sumber daya yang tersedia dan meminimalkan risiko dengan mengandalkan data, analisis, dan rencana yang detail. Misalnya, pengelolaan operasional harian perusahaan besar atau implementasi strategi jangka panjang membutuhkan pola pikir ini untuk menjaga konsistensi dan keandalan.

Sebaliknya, Entrepreneurial Thinking adalah pendekatan yang berorientasi pada inovasi, fleksibilitas, dan keberanian menghadapi ketidakpastian. Pemimpin dengan pola pikir ini tidak hanya beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga melihatnya sebagai peluang untuk menciptakan solusi baru. Mereka sering kali memulai dari sumber daya yang ada dan mengembangkan ide-ide inovatif yang berpotensi besar. Pendekatan ini sangat relevan dalam startup, unit inovasi, atau organisasi yang bergerak di industri dengan perubahan cepat.

Pemimpin yang hebat adalah mereka yang mampu mengenali kapan menggunakan Managerial Thinking untuk memastikan stabilitas dan kapan mengadopsi Entrepreneurial Thinking untuk mendorong inovasi. Dalam dunia yang semakin dinamis, kemampuan untuk mengintegrasikan kedua pendekatan ini menjadi kekuatan besar yang dapat membawa organisasi menuju kesuksesan jangka panjang. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk menjaga apa yang ada, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik🎉

Bagaimana Melezitkan Kreativitas

Gimana caranya melejitkan kreativitas? Salah satu strategi yang paling efektif adalah dengan mengembangkan ekosistem bisnis yang kolaboratif. Ekosistem bisnis bukan cuma tentang produk atau model bisnis; ini adalah jaringan luas yang mencakup pelanggan, pemasok, mitra, pemerintah, dan komunitas yang saling terhubung. Kolaborasi ini memungkinkan berbagai pihak untuk berbagi ide, bekerja sama, dan menciptakan lingkungan yang kaya akan peluang inovasi.

Dengan ekosistem bisnis yang kuat, organisasi bisa melampaui batasan pendekatan linear, membuka jalan bagi co-creation dan co-innovation. Dalam co-creation, pelanggan atau pengguna akhir ikut serta dalam pengembangan produk atau layanan, memberikan masukan dan ikut membentuk solusi yang lebih relevan dengan kebutuhan mereka. Misalnya, pada platform LEGO Ideas, pelanggan bisa mengusulkan desain produk, yang memperkaya inovasi perusahaan dan meningkatkan loyalitas konsumen.

Selain itu, co-innovation membuka peluang bagi perusahaan untuk bekerja sama dengan pihak eksternal, seperti startup atau universitas, untuk menciptakan inovasi yang lebih disruptif. Kolaborasi ini mempercepat inovasi dengan menggabungkan berbagai keahlian dan teknologi. Kemitraan antara Apple dan IBM adalah contoh co-innovation yang memungkinkan mereka mengembangkan solusi teknologi yang berdampak besar di sektor bisnis dan kesehatan.\

Ekosistem bisa mempercepat pembelajaran dan eksperimen, jadi bisa belajar dari keberhasilan maupun kegagalan mitra lainnya. Ini memungkinkan adaptasi praktik terbaik & eksperimen yang lebih aman tanpa risiko besar, beda dengan pendekatan linear yang cenderung membatasi ruang inovasi. Dalam ekosistem, perusahaan dapat berinovasi lebih fleksibel dan terus berkembang. Pendekatan ini akan membantu mengurangi risiko isolasi ide, yang sering terjadi ketika perusahaan hanya fokus pada sumber daya internal.

Dengan ekosistem, organisasi akan terpapar pada berbagai perspektif, menantang cara berpikir tradisional, dan menciptakan peluang untuk solusi kreatif yang lebih berkelanjutan, bukan cuma terkait sarana menciptakan nilai bersama tetapi njadi katalis bagi inovasi berkelanjutan!