Catatan kaki dari Melolo

Catatan kaki dari Melolo

Dalam kerangka pembangunan modern, visual seperti ini kerap dibaca sebagai tanda “keterbatasan material.” Namun penilaian itu lebih mencerminkan bias perkotaan daripada realitas Sumba. Jika dilihat dengan lensa filosofis, angsa, ayam, bebek, babi, dan sapi yang berkeliaran adalah living capital—aset ekologis dan sosial yang menopang kemandirian. Kain tenun yang digantung adalah modal budaya, dan tanaman di pekarangan adalah bentuk ketahanan pangan. Kesejahteraan di sini bukan tentang akumulasi, tetapi tentang harmoni antara manusia, alam, dan tradisi.

Secara akademik, ini menantang apa yang disebut context-insensitive measurement: penggunaan indikator kesejahteraan yang tidak mempertimbangkan logika lokal. Kerangka capability approach Amartya Sen lebih tepat untuk membaca konteks ini; kesejahteraan ditentukan oleh kapasitas menjalani hidup yang bernilai, bukan oleh jumlah pendapatan. Ternak yang hidup berdampingan dengan manusia, pangan dari tanah sendiri, serta jaringan sosial yang kuat menunjukkan adanya functional capabilities yang tidak tercermin dalam statistik konvensional.

Karena itu, Sumba mengingatkan kita bahwa indikator ekonomi tidak selalu mampu menangkap makna kesejahteraan substantif. Bila pembangunan memaksakan standar homogen, risiko utamanya adalah hilangnya akar budaya dan ekologi yang justru menopang kehidupan. Dalam konteks seperti Sumba, di mana angsa, ayam, bebek, kuda, babi, dan sapi menjadi bagian integral dari ritme hidup, kita melihat model kesejahteraan yang lebih utuh, di mana nilai tidak hanya diukur, tetapi dijalani.

Terimakasih Sumba tempat kami belajar 💙
Dan teman-teman @transmigrasihub.melolo@pket.kementrans@kementrans.ri

Humanity-Centred Design

Humanity-Centred Design

Selama dua dekade, Human-Centered Design menjadi paradigma dominan dalam inovasi. Namun dunia kini memperlihatkan sisi gelap dari pendekatan yang terlalu berfokus pada user. Kita menciptakan aplikasi yang memudahkan hidup, tetapi mendorong eksploitasi pekerja gig economy; kita mendesain layanan cepat, tetapi memperburuk sampah digital dan e-waste; kita membangun kenyamanan individu, tetapi mengorbankan kepentingan kolektif. Escobar (2018) dan Manzini (2015) mengingatkan bahwa inovasi yang hanya berpihak pada pengguna sering gagal melihat jaringan kehidupan yang lebih luas. Inilah tension besar abad ini: inovasi bisa “benar” bagi user, tetapi “keliru” bagi kemanusiaan.

Karena itu, muncul pendekatan Humanity-Centered Design—sebuah koreksi moral yang menggeser fokus dari keinginan pengguna menuju tanggung jawab terhadap masyarakat, lingkungan, dan generasi mendatang. Pendekatan ini menuntut expanded empathy: memikirkan pekerja di balik rantai produksi, komunitas terdampak, kelompok rentan, hingga keberlanjutan ekologis. Ini sejalan dengan gagasan Design Justice (Constanza-Chock, 2020) yang mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, serta Systemic Design (Jones, 2014) yang menegaskan bahwa setiap desain memiliki konsekuensi yang merambat dalam sistem sosial. Norman (2023) menambahkan bahwa inovasi masa depan harus memikul intergenerational responsibility, bukan hanya memecahkan masalah hari ini, tetapi menjaga kehidupan esok.

Pada akhirnya, keberhasilan inovasi tidak lagi cukup dinilai dari seberapa “usable”, “desirable”, atau “viable” sebuah solusi. Inovasi yang matang adalah inovasi yang ethical, equitable, dan sustainable—yang memperbaiki tanpa merusak, memajukan tanpa mengorbankan, dan mencipta tanpa meninggalkan luka. Humanity-Centered Design mengingatkan kita bahwa setiap keputusan desain adalah keputusan moral: apakah ia merawat atau mengabaikan? Apakah ia memperkuat martabat atau meniadakannya? Dan pertanyaan terpenting yang harus kita jawab sebagai desainer, pemimpin, dan pembuat kebijakan adalah:
“Masa depan seperti apa yang sedang kita bentuk melalui desain kita?”

Nasihat kang @kangmaman1965

Nasihat kang @kangmaman1965

Pengetahuan bukanlah puncak untuk ditaklukkan, melainkan jembatan yang membantu manusia menyeberang menuju makna yang lebih dalam. Gelar, prestasi, dan usia bukan indikator utama; semuanya hanyalah logistik dalam perjalanan panjang belajar. Generasi muda hari ini hidup di dunia tanpa guru tunggal, setiap percakapan bisa menjadi kelas, setiap halaman buku bisa menjadi dunia baru, dan setiap ruang kecil bisa melahirkan visi besar. Yang menentukan arah bukan asal tempat atau posisi, tetapi keberanian memilih kebenaran daripada kenyamanan, dan integritas ketika berdiri di persimpangan yang sulit.

Dalam kesadaran itulah pengetahuan menjadi bekal untuk hidup, bukan sekadar hiasan untuk dipamerkan. Bangsa ini merumuskan cita-cita “mencerdaskan kehidupan bangsa” karena mereka yang membangun Indonesia dulu memahami bahwa kehancuran tidak berakar dari kejahatan semata, melainkan dari kebodohan. Maka membaca bukan lagi aktivitas untuk tahu, tetapi untuk menjadi lebih manusiawi, lebih tegar, lebih berguna, dan lebih menyelamatkan. Optimisme pun tumbuh dari skeptisisme yang sehat, dari kesediaan mempertanyakan, sekaligus keyakinan bahwa perubahan adalah mungkin.

Negara tetap harus hadir sebagai penghasil ruang—memberikan insentif bagi inovasi, bukan sekadar mengatur dari jauh. Dan setiap anak muda, siapa pun mereka, bisa meninggalkan nama yang harum seperti Mohammad Hatta: menulis perjalanan hidupnya dengan tinta emas berupa kecerdasan yang bermakna, mastery yang rendah hati, dan integritas yang tak tergoyahkan. Jika seseorang benar, baik, dan bermanfaat, maka keberadaannya akan terus menginspirasi jauh melampaui usia atau gelarnya. Dengan cara itulah optimisme tentang Indonesia dapat terus menyala, pelan, pasti, dan penuh harapan.

Menyimak Prof @dwilarsodl direktur beasiswa @lpdp_ri di @bangkitfest

Menyimak Prof @dwilarsodl direktur beasiswa @lpdp_ri di @bangkitfest

Di dunia yang berubah secepat sekarang, banyak skill teknis punya “masa kedaluwarsa.” Yang bertahan justru meta-skill: cara berpikir, problem framing, empati, komunikasi, dan kemampuan belajar ulang. Karena itu, masa depan tidak cukup diisi spesialis tunggal. Kita butuh multi-talenta dengan dua kedalaman keahlian (Pi-shape), satu sebagai fondasi profesional, satu lagi sebagai mesin adaptasi ketika tuntutan berubah.

Banyak universitas top dunia sudah menangkap sinyal ini. Harvard menggabungkan teknik dengan human-centered design, Stanford d.school mencampur bisnis–desain–perilaku, MIT Media Lab melintasi seni–teknologi–sains, dan NUS hingga KAIST mulai mewajibkan lintas-disiplin sebagai standar. Artinya jelas: pendidikan global sedang bergeser dari “menguasai satu hal” menjadi menjembatani banyak hal.

Menjadi multi-talenta bukan soal tahu semuanya, tapi siap belajar ulang kapan pun. Mereka yang punya dua kedalaman, kolaboratif, dan mampu menghubungkan perspektif lintas-peran akan jadi pemain paling relevan. Di era ini, yang menang bukan yang paling ahli, tetapi yang paling adaptif, lintas-batas, dan mampu menciptakan diri versi baru—berulang kali.

@gnfi