Undangan Diskusi untuk Pemilik Bisnis, Pendamping UMKM, dan Seluruh Pelaku Ekosistem UMKM

[Undangan Diskusi untuk Pemilik Bisnis, Pendamping UMKM, dan Seluruh Pelaku Ekosistem UMKM]

Banyak UMKM sudah mengikuti pelatihan. Tapi, apakah itu benar-benar menjawab kebutuhan mereka?

Mari berdiskusi tentang pentingnya diagnosis dalam pengembangan UMKM di #DipTalks Webinar series.
🗓️Kamis, 30 Juli 2026
🕑 14.00 WIB
📍 Zoom Meeting
💯 Gratis

Daftarkan dirimu melalui link di bio!

Tiga Belas Catatan Perjalanan untuk Para Pemimpin Koperasi Desa

Tidak semua kebijakan lahir dalam kondisi yang ideal. Sebagian memunculkan optimisme, sebagian lagi mengundang kritik dan keraguan. Program Koperasi Desa Merah Putih pun demikian. Sebagai akademisi, saya percaya kritik itu penting. Namun saya juga percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan menunjukkan kelemahan. Ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika mampu menawarkan perbaikan.

Keberhasilan sebuah kebijakan pada akhirnya tidak ditentukan oleh baiknya rancangan di atas kertas, tetapi oleh orang-orang yang menjalankannya di lapangan. Di tangan para manajer koperasilah berbagai gagasan besar diterjemahkan menjadi keputusan-keputusan kecil yang menentukan apakah koperasi benar-benar memberi manfaat bagi anggotanya.

Selama mendampingi para manajer Koperasi Desa Merah Putih, saya melihat mereka telah dibekali berbagai pengetahuan teknis. Namun ketika kembali ke desa, tantangan yang mereka hadapi sering kali bukan lagi persoalan prosedur, melainkan persoalan kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Pada saat itulah cara berpikir menjadi sama pentingnya dengan keterampilan bekerja.

Berangkat dari keyakinan itulah buku kecil ini ditulis. Catatan ini tidak menggantikan modul pelatihan ataupun petunjuk teknis. Catatan ini ingin melengkapinya. Isinya bukan sekadar menjelaskan apa yang harus dilakukan, tetapi mengajak kita memahami mengapa sebuah keputusan perlu diambil. Sebab kualitas koperasi pada akhirnya dibentuk oleh kualitas cara berpikir para pemimpinnya.

Saya berharap tiga belas tulisan sederhana ini dapat menjadi teman perjalanan ketika Anda kembali ke desa. Bacalah pelan-pelan, renungkan dalam setiap tantangan yang dihadapi, lalu temukan maknanya sesuai dengan konteks koperasi Anda. Karena koperasi yang kuat tidak lahir dari pemimpin yang memiliki semua jawaban, tetapi dari pemimpin yang tidak pernah berhenti belajar, bertanya, dan memperbaiki cara berpikirnya.

Kita Makin Mahir Mengukur Produktivitas.Tapi Makin Jarang Bertanya: Apakah Hasilnya Benar-Benar Berkah?

Kita Makin Mahir Mengukur Produktivitas.
Tapi Makin Jarang Bertanya: Apakah Hasilnya Benar-Benar Berkah?

Seorang profesional menutup laptop menjelang tengah malam. Semua target hari itu tercapai. Email terbalas, laporan terkirim, dan dashboard menunjukkan warna hijau. Secara angka, hari itu sukses.

Namun, sebelum mematikan layar, muncul satu pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh KPI: mengapa rasanya masih ada yang kurang?

Mungkin kita hidup di zaman ketika hampir semua hal bisa diukur. Target, KPI, OKR, hingga dashboard memenuhi ruang kerja. Kita semakin pandai menghitung hasil, tetapi semakin jarang bertanya apakah pekerjaan itu benar-benar membawa manfaat.

Bukan berarti produktivitas itu salah. Masalahnya muncul ketika kita mengira bahwa semua yang penting pasti bisa diukur.

Padahal, integritas tidak punya grafik. Kejujuran tidak memiliki skor. Kepercayaan tidak pernah muncul di dashboard. Justru hal-hal itulah yang sering menjadi fondasi dari dampak yang bertahan lama.

Dalam Islam, ada satu kata yang maknanya begitu dalam: barakah. Keberkahan bukan sekadar hasil yang lebih banyak, tetapi kebaikan yang Allah hadirkan sehingga manfaatnya jauh melampaui apa yang tampak.

Karena itu, mungkin yang membedakan bukan hanya seberapa keras kita bekerja, tetapi seberapa besar keberkahan yang Allah titipkan pada pekerjaan kita.
Maka sebelum menutup hari, jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya selesaikan?” Bertanyalah juga, “Kebaikan apa yang Allah izinkan lahir melalui pekerjaan saya hari ini?”

Sebab pada akhirnya, yang akan bertahan bukan sekadar angka pencapaian, melainkan manfaat yang terus hidup karena pekerjaan yang kita lakukan.

Undangan Diskusi untuk Dosen/Guru/Pendidik Indonesia

[Undangan Diskusi untuk Dosen/Guru/Pendidik Indonesia!]

Apakah mahasiswa benar-benar siap menghadapi dunia nyata setelah lulus? Atau jangan-jangan selama ini kita masih terlalu fokus pada proses, bukan pada kompetensi yang benar-benar dibutuhkan?

Mari berdiskusi bersama di #DipTalks: Fondasi Outcome-Based Education: Mengapa Cara Kita Mendidik Perlu Berubah bersama Dr. Dwi Purnomo, STP., MT., IPU., ASEAN Eng.

Dalam webinar ini kita akan membahas:
✨ Krisis relevansi lulusan dan pengangguran terdidik
✨ Teaching-centered vs Learner-centered
✨ Mengapa OBE bukan sekadar dokumen kurikulum
✨ Cara merancang pembelajaran yang benar-benar menghasilkan kompetensi

🗓 Kamis, 23 Juli 2026
🕑 14.00 WIB
📍 Zoom Meeting
💸 Gratis

Yuk, bergabung dan mari bersama-sama membangun pembelajaran yang lebih bermakna.

🔗 Daftar di sini yaa🙌:
https://clicky.id/emind/diptalks

Melahirkan Dampak yang Berkelanjutan: Kenalan Lebih Dekat dengan Diplab

Perubahan bukan hanya tentang memiliki ide yang baik. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjaga perubahan itu tetap berjalan ketika proses mulai terasa sulit

Setiap organisasi pasti memiliki fase yang penuh tantangan. Fase ketika strategi perlu disesuaikan, semangat tim mulai diuji, dan arah perubahan terasa tidak lagi sejelas di awal

Di situlah @withdiplab.id hadir, bersama unit-unit di dalamnya, yaitu @designthinkingacademy.id@emind.tle@youngimpactgenerator@finding.direction

Berangkat dari pengalaman lebih dari 15 tahun membangun ekosistem perubahan bersama @thelocalenablers , diplab menjadi ruang belajar, berkolaborasi, dan bertumbuh bagi individu maupun organisasi yang ingin menciptakan perubahan yang berdampak dan berkelanjutan

Mari kenalan lebih dekat dengan diplab, dan temukan bagaimana kita bisa merancang perubahan yang benar-benar bertahan!

[DipTalks Webinar Series]

[DipTalks Webinar Series]

“Kenapa ya, ide yang kita sampaikan sering diabaikan. Giliran orang lain yang menyampaikan, langsung dianggap menarik?”

Kalau kamu pernah mengalami hal itu, kamu tidak sendirian.

Lewat DipTalks: The Insider Paradox, kita akan mengupas mengapa ide dari “orang dalam” sering kalah dengan perspektif “orang luar”, serta strategi agar ide-ide baik tidak berhenti sebagai wacana.

📅 Kamis, 16 Juli 2026, pukul 14.00 WIB
📍 Zoom Meeting
✨ Gratis

Daftarkan dirimu pada link ini:
🔗 https://clicky.id/emind/diptalks
📲 083108502758 (Puput)

Yuk, amankan tempatmu sekarang!

Kontribusi sebagai Standar Baru Lulusan

Kontribusi sebagai Standar Baru Lulusan

Pendidikan tinggi bukan lagi sekadar tentang seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan di kelas, melainkan tentang siapa manusia yang kita bentuk dan dampak apa yang mereka bawa bagi bangsanya. Di tengah tantangan relevansi lulusan saat ini, institusi membutuhkan lebih dari sekadar kelengkapan dokumen administratif, kita membutuhkan budaya mutu yang hidup.

Seri Playbook Outcome-Based Education hadir sebagai panduan strategis untuk membantu Anda mengorkestrasi perubahan sistemik di program studi.

Melalui pendekatan yang terintegrasi, seri Playbook ini menuntun Anda untuk:
•⁠ ⁠Merumuskan Narasi Strategis yang menjadi identitas khas dan unik bagi program studi Anda.
•⁠ ⁠Mengaktifkan siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan) agar setiap data capaian menjadi dasar perbaikan.
•⁠ ⁠Membangun ekosistem yang menopang kolaborasi antardosen demi menjamin ketersambungan kompetensi mahasiswa dari hulu hingga hilir.

🔗 Pelajari selengkapnya tentang perjalanan transformasi ini di:
s.id/Playbook-OBE

Mengapa Sekumpulan Orang Pintar Tidak Otomatis Menjadi Tim Cerdas?

Ada yang unik sekaligus mengusik dalam keseharian kami di dunia akademik. Rapat dengan sekumpulan individu bergelar tinggi, semua dengan jam terbang riset panjang, sering berakhir dengan keputusan yang paling aman, paling tidak mengusik kontribusi siapa pun. Ini jarang sekali menyangkut tentang kepintaran. Lebih sering, kepintaran itu butuh ruang yang pas untuk benar-benar bertemu, bukan sekadar duduk bersebelahan di satu meja.

Sekumpulan orang pintar nggak otomatis jadi tim yang cerdas. Satu tambah satu tambah satu yang masing-masing jalan sendiri, hasilnya tetap tiga. Kalau saling terhubung, hasilnya bisa lebih dari itu. Pola yang sering muncul tanpa disadari adalah gaya masinis, arah ditentukan dari atas, semua fokus menjalankan instruksi dengan baik. Ini bukan soal niat buruk, cuma kebiasaan lama yang mengutamakan ketertiban. Rapat jadi tertib, semua mendengarkan dengan baik, tapi ide-ide segar dari individu yang paling memahami persoalan di lapangan kadang belum dapat ruang yang cukup untuk benar-benar didengar.

Pergeseran yang menarik untuk dicoba adalah dari gaya masinis ke gaya tukang kebun, dari mengarahkan semua hal ke menciptakan kondisi supaya ide terbaik bisa tumbuh dari mana saja. Dalam tim akademik yang sehat, perdebatan soal arah sebuah program justru jadi tanda kepercayaan, bukan ancaman.

Begitu keputusan diambil bersama, semua bisa melangkah lebih yakin, karena keputusan itu terasa milik bersama, bukan titipan dari atas. Ada satu kalimat sederhana yang, kalau diucapkan pemimpin, bisa mengubah suasana sebuah ruangan: “Mari kita cari jawabannya bersama.

Otoritas seorang pemimpin tidak akan berkurang kalau ia berani mengakui belum punya semua jawaban. Justru di titik itu, kepercayaan biasanya tumbuh lebih dalam. Saya sendiri masih terus belajar soal ini, bagaimana caranya kehadiran saya di rapat-rapat kampus bisa membuat kolega makin nyaman untuk berpikir bebas, bukan cuma menjawab dengan aman.

UMKM Tidak Kekurangan Produk Bagus. Mereka Kekurangan Model Bisnis yang Tepat

UMKM Tidak Kekurangan Produk Bagus. Mereka Kekurangan Model Bisnis yang Tepat.

Belajar dari @serat_nusa

Masuk ke pameran UMKM mana saja. Produknya bagus. Kemasannya makin rapi. Fotonya makin profesional. Tapi kalau ditanya bagaimana cara bisnisnya bekerja, siapa pelanggan utamanya, bagaimana mereka menghasilkan uang selain dari jual putus, kenapa pelanggan mau kembali, jawabannya sering kosong. Bukan karena tidak pintar. Tapi karena pertanyaan itu memang tidak pernah diajukan kepada mereka

Ada UMKM yang menjual produk dari batang pisang, material yang tidak ada istimewanya. Tapi produknya sampai ke pasar Eropa. Bukan karena produknya luar biasa. Tapi karena cara mereka menyusun bisnisnya berbeda: pelanggan diajak merancang produk, pengrajin lokal jadi bagian dari nilai yang dijual, dan cerita di balik produk itu sendiri menjadi daya tarik yang tidak bisa ditiru kompetitor. Itulah model bisnis. Dan itulah yang hampir tidak pernah diajarkan dalam pelatihan UMKM manapun😟

Ekosistem pemberdayaan UMKM di Indonesia terlalu lama berhenti di permukaan. Pelatihan packaging. Pelatihan foto produk. Pelatihan konten media sosial. Semua itu perlu, tapi tidak cukup. Produk bisa ditiru dalam hitungan minggu. Model bisnis yang dirancang dengan benar jauh lebih sulit disalin, karena ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: cara nilai diciptakan, untuk siapa, dan kenapa orang mau membayar lebih dari sekadar harganya🏆

UMKM Indonesia tidak kekurangan kreativitas. Yang kurang adalah ruang untuk naik satu tingkat, berhenti sejenak dari urusan produksi, lalu mulai bertanya: bisnisnya sendiri, sudah pernah dirancang belum? Pertanyaan itu tidak butuh konsultan mahal. Tidak butuh modal tambahan. Ia cuma butuh keberanian untuk melihat bisnis yang sudah dijalani bertahun-tahun dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya😎

Konsultan Datang, Semua Mengangguk: Ironi Suara Orang Dalam yang Diabaikan

Ada orang yang sudah tahu. Sudah lama tahu. Sudah berkali-kali bicara. Tapi tidak ada yang bergerak, sampai orang lain datang dari luar, menyampaikan hal yang sama, dan tiba-tiba semua orang mengangguk seperti baru menerima wahyu. Yang lebih aneh: tidak ada yang sadar ini janggal. Bahkan tidak ada yang malu.

Guru yang dua puluh tahun mengajar tahu persis di mana sistemnya rusak, tapi rekomendasinya menunggu di laci. Staf pelaksana yang sudah melihat pola kegagalan ini berulang tiga kali menulis laporan yang diarsip, bukan dibaca. Kemudian konsultan datang, mewawancarai orang yang sama, membaca angka yang sama, lalu menyampaikan kesimpulan yang sudah ada dalam bahasa berbeda dengan slides lebih rapi. Tiba-tiba itu disebut temuan strategis. Organisasi membayar ratusan juta dan merasa puas😎

Ini bukan kebodohan, karena kebodohan lebih mudah dimaafkan. Ini adalah sistem yang bekerja dengan sangat efisien untuk menghancurkan kepercayaan pada pengetahuan dari dalam. Semakin seseorang tahu, semakin ia belajar diam, karena bicara tidak mengubah apa pun dan hanya melelahkan. Kita menyebutnya budaya, seolah dengan memberi nama kita bisa melepas tanggung jawab. Nama yang lebih jujur adalah hukuman yang terstruktur🙌

Orang yang paling dalam memahami masalah punya peluang paling kecil untuk didengar, bukan karena tidak kompeten, tapi karena kedekatannya justru membuatnya tampak biasa. Yang jauh terasa bernilai. Yang dekat terasa usang🧐

Ironi terberatnya bukan bahwa kita tidak mendengar orang dalam. Ironi terberatnya adalah kita tahu ini terjadi, kita mengeluhkannya di koridor dan grup WhatsApp, lalu kembali ke rapat berikutnya dan melakukan hal yang sama. Perubahan dari luar tidak punya akar di dalam dan layu setelah honor dibayarkan. Karena mendengar orang sendiri ternyata membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mahal dari uang: keberanian mengakui bahwa jawabannya sudah ada sejak lama, dan kita yang memilih tidak melihatnya🙏