Nabi Muhammad ﷺ lahir dari keluarga besar Quraisy, suku paling berpengaruh di Makkah, dengan nasab yang mulia & kehormatan yang diakui. Jika kebenaran diukur dari status & dukungan sosial, beliau seharusnya paling aman. Namun justru dari rumah besar itulah ujian dimulai. Orang-orang terdekat yang paling mengenal kejujurannya adalah yang paling keras menolak risalahnya. Dari sini kita belajar bahwa kedekatan tidak menjamin pembelaan, dan kebenaran sering kali justru diuji oleh lingkungan terdekatnya.

Penolakan itu berkembang menjadi pemutusan terhadap hak hidupnya. Boikot memutus makanan & relasi, Nabi ﷺ menahan lapar bersama keluarganya, lalu kehilangan dua penopang dunia sekaligus: Khadijah sebagai rumah tempat pulang dan Abu Thalib sebagai perisai sosial. Ketika Makkah sepenuhnya tertutup, Nabi ﷺ mencari harapan ke Thaif, namun yang diterima justru batu, darah, & penghinaan. Di titik terendah itu, Nabi ﷺ tidak menuntut dunia berubah; ia hanya memastikan satu hal yang menentukan segalanya: Allah tidak murka kepadanya. Jika Allah ridha, dunia boleh runtuh.

Setelah semua sandaran bumi dilepas, Allah membuka pintu langit melalui Isra’ Mi‘raj. Namun Allah tidak memberi kemewahan, kekuasaan, atau jalan pintas kemenangan. Yang Allah berikan hanyalah shalat. Awalnya lima puluh waktu, lalu diringankan menjadi lima dengan nilai tetap lima puluh. Pesannya tegas: manusia tidak diselamatkan oleh kekuatan, tetapi oleh kedekatan. Shalat bukan hadiah untuk hidup yang sudah rapi, tapi pegangan bagi hidup yang runtuh.

Di sinilah makna terdalamnya: shalat adalah pintu langsung kita terhubung dengan Allah. Tanpa perantara, tanpa syarat sosial, tanpa pengakuan manusia. Allah tak meminta manusia naik ke langit; Allah membuka jalur langit ke bumi, lima kali sehari. Maka ketika shalat terasa berat / ditunda, persoalannya bukan pada waktu, melainkan pada hati yang masih merasa punya sandaran selain Allah. Jika pintu itu sudah dibuka dan kita enggan masuk, mungkin bukan shalat yang berat, tetapi dunia yang terlalu penuh di dalam diri.

Ustadz @muhammadnuzuldzikri
@muhajirproject
@halfdeen.series

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *