
Di banyak organisasi dan bisnis, kritik jujur sering dianggap bikin ribut. Begitu nadanya keras, niat baiknya langsung dipertanyakan. Pola ini mirip dengan cara sebagian orang menanggapi kritik Pandji Pragiwaksono di Mens Rea: yang dibahas bukan substansinya, tapi “kok ngomongnya begitu”. Padahal, di dunia bisnis, masalah jarang datang dengan bahasa sopan. Biasanya justru muncul sebagai sinyal tidak nyaman, penjualan mulai melambat, pelanggan makin banyak komplain, atau tim internal mulai gelisah.
Masalahnya, banyak organisasi belum punya mekanisme yang cukup dewasa untuk menampung radical candor. Ketika ada orang bicara blak-blakan, fokus cepat bergeser dari “apa yang perlu dibenahi” ke “siapa yang berani ngomong”. Label pun muncul: tidak solutif, kurang loyal, atau tidak sejalan dengan budaya. Akibatnya, organisasi memang terlihat tenang di permukaan, tapi sebenarnya kehilangan kejujuran. Yang rusak ditutup, yang keliru dibiarkan, dan keputusan terus diulang tanpa koreksi berarti.
Di bisnis, harga dari budaya anti-kritik ini mahal. Produk yang jelas bermasalah dipertahankan terlalu lama, strategi yang keliru terus dijalankan, dan orang-orang terbaik memilih diam atau pergi. Radical candor seharusnya diperlakukan seperti data lapangan: belum tentu langsung benar, tapi wajib diuji dan dipikirkan. Tugas pemimpin bukan meredam suara, tapi mengubah ketidaknyamanan menjadi bahan analisis dan keputusan yang lebih masuk akal.
Pada akhirnya, organisasi yang sehat bukan yang paling minim konflik, tapi yang paling cepat belajar. Kritik memang mengganggu, tapi sering kali justru gangguan itulah yang menyelamatkan bisnis sebelum terlambat. Organisasi yang dewasa tidak mematikan suara jujur, mereka mengolahnya menjadikan ia lebih dekat dengan tujuan.
-Honesty may feel disruptive, but prolonged silence is far more costly-




No comment yet, add your voice below!