
Dalam teori jaringan sosial, kekuatan jejaring tidak ditentukan oleh banyaknya relasi yang kita miliki, melainkan oleh posisi orang yang kita hubungi dalam jaringan. Di hampir semua jaringan sosial terdapat individu yang berperan sebagai hub, simpul dengan koneksi jauh lebih banyak dibandingkan yang lain. Pola ini dijelaskan oleh teori scale-free network, yang menunjukkan bahwa jaringan tumbuh melalui preferential attachment: koneksi baru cenderung melekat pada simpul yang sudah kuat. Karena itu, terhubung dengan satu hub berarti membuka akses ke banyak jejaring sekaligus.

Pendekatan ini berbeda dari konsep kedekatan relasi. Yang menentukan bukan kuat atau lemahnya hubungan, tetapi daya ungkit struktural dari relasi tersebut. Temuan Mark Granovetter tentang The Strength of Weak Ties menegaskan bahwa peluang sering datang dari relasi yang tidak dekat, tetapi berada di posisi strategis. Dalam konteks hub, satu hubungan saja bisa mempercepat aliran informasi, peluang, dan kolaborasi secara eksponensial, sebuah mekanisme dasar dari network effect.

Namun, akses ke hub tidak bekerja secara otomatis. Hub menjaga kualitas jejaringnya dan hanya membuka akses kepada pihak yang memberi nilai tambah. Di sini relevan gagasan Ronald Burt tentang structural holes: individu yang efektif adalah mereka yang mampu mengisi celah antarjaringan dengan peran yang jelas dan kontribusi nyata. Artinya, kekuatan jejaring tidak diperoleh dengan menempel pada simpul kuat, tetapi dengan menjadi relevan dan dipercaya.

Pada akhirnya, relasi dengan satu hub harus diperlakukan sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir. Akses awal perlu dikembangkan menjadi relasi lateral agar jaringan membentuk struktur mesh yang lebih tangguh. Ketika kepercayaan (modal sosial) berpadu dengan posisi jaringan yang tepat, terjadilah network effect yang berkelanjutan. Inilah sebabnya satu relasi yang tepat sering jauh lebih menentukan daripada banyak relasi yang tak dalam..
A hub doesn’t collect people, it connects value.





No comment yet, add your voice below!